Tampilkan postingan dengan label Senandika-Solilokui. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senandika-Solilokui. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2014

"Siapa tadi itu bilang apa?" tanya Suara dalam Kepala
"Kalau cuma dengan kerja keras semua bisa kaya, maka banyak wanita di Afrika sudah kaya raya."
"Kamu pernah ke sana?"
"Ke mana?"
"Afrika."
Garuk-garuk kepala sembari senyum, Si Anak Laki-laki jawab, "belum."
"Hm..., pengin ke sana?" suara Suara dalam Kepala terdengar memudar.
"Apa? Kita sudah rampung ngomongnya?"
"Tentang apa? Wanita Afrika?" Suaranya mengeras lagi, agak. Tapi tak pernah sampai membentak.
"Maksudku, itu mungkin yang namanya nasib. Satu orang mujur, orang lain apes."
"Kamu selalu suka hukum alam itu, kan?"
"Yang mana?"
"Berpasang-pasangan, yang berlainan saling melengkapi. Di kasus ini, mujur-apes."
"Bisa jadi. Dan seperti biasa, obrolan kita, nggak tahu mau dibawa ke mana."
"Ah, quo vadis, aku suka frase itu?"
"Ah, yang dari alkitab itu ya?"
"Apa iya? Alkitab yang mana?"
"Entahlah, yang salah satu isinya tentang yang mujur wajib berbagi dengan yang apes mungkin?"
"Kamu jawab pertanyaan pakai pertanyaan?"
"Yah, hidup ini isinya cuma tanda tanya, kan?"
"Harusnya tanda seru saja. Di bawahnya ditulisi huruf kapital semua: BAHAYA."
"Sepertinya obrolan ini selesai. Tapi mungkin nggak selamanya."
"Selamanya itu seberapa cepat?
"Entah. Mungkin cuma selama satu lagu Iwan Fals - Sore Tugu Pancoran."

Rabu, 29 Mei 2013

Gie dan Jesus

"Harusnya bukan hanya Jesus yang dibangkitkan setelah hari ketiga kematian-Nya. Setelah tiga dekade Soe Hok Gie patutnya juga dibangkitkan dari kuburnya."
     Ya, diri ini juga bertanya, kenapa yang diungkit-ungkit di tulisan sebelumnya perihal-ihwal suicidal nampak hanya masalah-masalah itu-itu saja (sosial?). "Bukannya ini lebih ke psychological?" interupsi suara dalam kepala. Bagaimana dengan politik? Dalam negeri tentu saja. Bukankah ini juga berhubungan intim dengan masalah-masalah (sosial?) tadi itu yang disebutkan? Birokrasi Birokrat, maaf, birokrat-birokrat korup, ini dalam bentuk jamak. Menurut KBBI, jamak adalah bentuk kata yang menyatakan lebih dari satu atau banyak. Sebagai adjektif, bisa juga berarti lazim, tidak aneh, lumrah wajar. Dus, birokrat-birokrat korup itu sebenarnya banyak atau lumrah, atau malah keduanya?
      Ah, Verdomme, membaca media cetak atau menonton sekaligus mendengar media elektronik menjadikan diri ini fatalistik. Masalah ini dipaparkan dengan cara yang mengagumkan oleh Puthut EA dalam Orang-orang bergegas-nya.
      Mark up anggaran pengada-adaan simulator SIM (Sialan, sampai umur 23 bahkan diri ini belum juga punya SIM) di tajuk rencana, dipadu gadis 20 tahun dalam artikel berjudul "Sexy Itu Tidak Harus Telanjang!" disertai fotonya (dalam busana trendi yang mungkin bisa disebut setengah telanjang atau malahan klasik kolonial? Karena bukankah di jaman kolonial wanita Indonesia selalu tampil sexy?) di halaman Entertainment. Badak! Ada yang benar-benar keliru dengan negeri ini, kan?
     Namun, memang tidak semua orang bisa berpikiran seperti ini. Mahasiswa sudah sibuk cari gelar kesarjanaan. Sudah lulus lalu sibuk cari kerja. Setelah sudah lebih dulu sibuk cari pacar sambl dulu sibuk kuliah, mereka nikah. Nikah lalu punya anak (harap dicatat: tidak seorang anakpun minta dilahirkan. Sungguh egois punya anak dalam kondisi seperti ini. Berlagak bisa membahagiakan mereka. Padahal yang kalian lakukan hanya membawa satu jiwa lagi dalam penderitaan terdalamnya, hidup di dunia.). Lainnya masih banyak yang harus dipikirkan dengan hanya bermodal ijazah paket C (aku selalu suka penggalan dari puisi Ida Oka Ayu ini). Lainnya lagi, entahlah, apa dipikir aku bisa baca pikiran orang lain?
     Ah, sudahlah, lama-lama aku malah ikutan dua orang itu tidur-tiduran di rel kereta api. Isritirahatlah dalam damai kalian di sana. Yang sudah mati tidak usah diberi rasa iba. Mereka sudah peroleh satu taman mahaluas dengan tujuh bidadari menemani. Simpan rasa iba untuk mereka yang masih hidup. Bukankah tak ada yang lebih mengenaskan daripada hidup di dunia ini?

sehabis baca koran dan nonton tv, 29 Mei 2013
setjoeil asa

Rabu, 30 Januari 2013

"Ya Tuhan."
"Maaf? Tuhan? Beliau sedang sibuk."
"Hm?"
"Bicara tentang Dia, ada lelucon bagus. 'Jika Tuhan memang ada, kenapa Dia tidak membelikanmu sweater baru?"
"'Karena Dia terlalu sibuk mencari di mana otakmu?'"
"Ah, tidakkah kau berpikir Dia-yang-kau-sebut- tadi itu sungguh licik. Dia menciptakan takdir, agar dia terhindar dari tuduhan 'Kejam'. Kau tahu? Takdir memang kejam."
"Apa iya?"
"Ada orang yang punya mobil sport seharga gaji seumur hidup orang lain, dan dia masih bisa membeli kesenangan lewat, apa namanya itu? obat-obatan yang tidak menyembuhkan? Ada orang yang hanya menggengam 10.000 rupiah, banyak juga yang kurang dari jumlah itu."
"O, tapi bukankah Dia juga layak menyandang pujian Jenius-yang-rendah-hati. Dia menciptakan waktu. Kau tahu? Waktu hampir bisa menjawab segala hal."
"Ah, Tuhan. Di mana Kamu sekarang?"
"Lebih dekat dari urat nadi leher? Telapak kaki ibu? Persimpangan jalan? Hati? Di mana-mana? Di rumah-Nya?"
"Mungkin Aku mencari di tempat yang salah."
"Apa kau pernah memanjatkan doa kepada-Nya? Sering?"
"Berbicara dengan-Nya? Sekarang, alih-alih berteriak meminta pertolongan-Nya, Aku mencoba mendengar-Nya?"

Selasa, 08 Januari 2013

"Katanya pemuasan hasrat seksual tanpa hubungan kelamin bisa memperhalus kulit wajah."
"Kata siapa?"
"Produsen tisu mungkin?"
"Hahahaha, metode yang sama dengan klinik Tongfang, atau media abad ke-21 ini."
"Hm...?"
"Memperjualbelikan kekhawatiran?"
"Menawarkan placebo?"
"Yah, Tukang jual kecap."
"Hm...?"
"Jangan bilang kamu berpikir tentang temannya saos."
     Bicara tentang menjadi pria tak bisa lepas dari serakan tisu di kamar. Apa kamu merasa terlambat dewasa? Bukankah itu berarti kamu awet muda? Satu hal yang dicari sebagian mereka. Orang-orang maksudku. Manusia.
     Kita butuh, atau kita ingin. Bukankah ada perbedaan mendasar? Kenapa manusia butuh itu, itu, atau itu.
     Sialan (maafkan bahasa Perancisku), lagi-lagi tulisan tanpa konsep. Tak berasa. Minim konflik. Absen ironi, ehm... Apa iya?

Aliaksandra Sastradiwirya

Rabu, 02 Januari 2013

"Ah, munafik." Temannya bilang ke dia.
     Dua cowok, duduk di suatu tempat, di manapun sesuka imajinasimu membayangkan. Mereka asyik melihat lalu-lalang orang-orang. Sekonyong-konyong muncul manusia, dari lawan jenis mereka. Aku gambarkan, gadis ini adalah representasi ideal dari apa yang disebut kecantikan sempurna bentukan media. Putih, langsing, semampai, mancung, rambut panjang lurus, dan yang utama, tank-top dan hot-pants.
     "Inilah dunia yang kita tinggali saat ini," kata salah satunya, "Apa Aku harus menikah dengan wanita seperti itu?"
     "Siapa juga yang tidak mau."
     "Tapi, tidak semua perempuan seperti itu."
     "Jangan bilang kamu tidak suka diizinkan melihat paha dan sebagian dada wanita itu, oleh pemiliknya sendiri."
     Apa boleh orang seperti itu dibilang munafik. Apa kau pernah melihat dari sudut pandang lain? Mungkin yang tidak disukai bukannya bisa melihat bagian-yang-enak-dilihat-dari-perempuan, tapi konsepnya. Tidak benar juga jika cowok yang tidak suka melihat cewek pakai hot-pants dibilang munafik. Konsep cewek memakainya di tempat publik ini yang bisa membuat mata cowok (tidak seluruhnya) gerah. Kau boleh bilang cowok itu munafik, kalau dia bilang tidak suka melihat cewek pakai hot pants dan tank top di kamar saat mereka sedang berduaan. Kecuali tentu saja cowok itu guy, sedang mengalami penurunan hasrat seksual, atau terganggu secara mental.
    Mungkin juga ada cowok yang bilang tidak suka, tapi malamnya di kamar dia masturbasi, dengan fantasi gadis tank top plus hot pants....

Kamis, 20 Desember 2012

Saleem Sinai pernah menulis,
"Kita semua berhutang kematian kepada hidup."
Hidup bilang, "Maaf, belum jatuh tempo,"
saat kutanya, "Boleh aku bayar saja utangnya sekarang?"

Jumat, 14 Desember 2012

"Ada perbedaan bak merah tanah dengan biru langit, antara sendiri dan kesepian."
"Kamu ngomong pakai mulut orang lain."
"Hm?"
"Hm, apanya?"
"Klise? Aku menghindarinya seperti menghindari penyakit menular."
"Ha! Temukan suaramu sendiri!"

Sabtu, 08 Desember 2012

"Karena pencarian hasrat menekan tuts keyboard bukanlah sekejap."