Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juli 2017

Seorang Kawan

“Hingga kini para filsuf cuma menafsir dunia lewat beragam cara. Pokok sebetulnya malah belum tersentuh, yakni mengubahnya.” Kawan satu ini getol betul main-kutip sana sini.

“Tapi,” lanjutnya, “perubahan datang beriringan dengan tetesan darah.” Ah, ini lagi.

“Pembebasan. Perubahan revolusioner. Dunia ideal. Betapa hasrat ke sana begitu besar. Hingga kesenangan-kesenangan  diri serasa mengganggu saja.” Kadang dia memang bisa lumayan keras.

“Kebanyakan dari apa yang disebut kesenangan cuma usaha untuk menghancurkan kesadaran.” Sering aku heran, apa dia masih waras.

“Nikah itu penemuan kaum borjuis.” Kali ini aku yakin, itu cuma rasionalisasinya, akibat seperempat abad lebih belum pernah pacaran. Lagi pula apa nikah termasuk kesenangan?

Selalu saja ngomong lewat mulut orang lain. “Persetan sama hak cipta atau hak milik. Semuanya milik Sang Pencipta.” Aku ingin bertanya siapa itu Sang Pencipta, tapi urung. Soalnya hal semacam ini tak kunjung rampung diperdebatkan.

Rabu, 05 Juli 2017

Mengungkai Rantai Ilusi


Siapa Saya?

Cuma satu angka lain dalam data
Selembar kertas berlubang dalam kotak suara
Satu coretan tegak tinta hitam di papan putih
Cinta semata wayang yang pedih
dari diri ke sendiri
Robot modern satu fungsi,
wadah keterasingan belaka

Benteng tipis resistensi
Represi Sosial Agung,
yang tak ayal, pasti
tanpa kehendak membendung
Ideologi-ideologi.


*gambar: Katalika Project

Jumat, 09 Agustus 2013

Seperti Banyak Hal Lain Di Dunia

Apa sepadan,
     Bekerja lima hari sepekan, dua belas jam perharinya?
Ditukar dengan,
     Satu hari satu malam bertemu dengan sanak saudara?
Dalam sedasa.
Apa itu yang namanya hidup? tak meyakinkan. Tapi kurasa,
untuk sebagian itu cukup. Ya toh, kan hidup itu selera?
Seperti banyak hal lain di dunia.


Jumat, 03 Mei 2013

Dari 'rumahlebah ruangpuisi'

Ahmad Nurullah

Pada Tapal Batas Waktu

Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok
--Horatius

Tapi, kita langgar nasihat itu. Kita terus melangkah:
membaca, bertanya, menduga-duga: Apa yang akan terjadi,
besok? Akan turun hujankah pada hari pengantinmu,
Kamis depan?

Saat kau terjaga dari tidur, adakah rumahmu masih utuh
terpacak? Akan membuncit lagikah perut istrimu,
akan beranak lagikah anjingmu, tahun depan? Dua hari lagi
suamimu pasti studi di Holland?

 "Janganlah mencari tahu apa yang terjadi besok.
Jangan mencari tahu apa yang akan terjadi di masa depan."

Tapi, siapa tak mau mencari tahu apa yang akan terjadi,
besok--di negeri ini, di hari-hari depan? Seusai makan
di sebuah kafe, adakah tubuhmu masih bulat, meja dan kursi
masih tegak, dan kepalamu masih setia tinggal pada lehermu,
yang jenjang?

"Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok.
Besok adalah rahasia waktu. Masa depan adalah daerah Tuhan."

Tapi, kita terus langgar nasihat itu, dengan berani:
dengan kaki, dengan tangan. Dengan degup jiwa, dengan segenap
Kesadaran. Sebab, sejak tangis pertama pecah, sejak popok dibalutkan,
Besok tak dapat dihindar. Masa depan tak terelakkan.

 "Tapi, apa yang akan terjadi besok?"

Bulan bergerak. Detik-detik terus berguguran. Tapi kita
tak henti melangkah. Tapi kita tak kunjung berhasil meraih jawab
Sampai, pada tapal batas waktu, kita jera bertanya, dan kita
tak membantah: Besok adalah sebuah pintu--dari mana kita masuk,
dan kita tak kembali.

Jakarta, 2006

Senin, 22 April 2013

Puisi Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di mirazah
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandalawangi

Ada serdadu-serdadu amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra
Yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas, atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda

Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu…

Soe Hok Gie
Selasa, 11 November 1969

Jumat, 19 April 2013

Puisi Senja

Akan kutulis satu puisi.
Tentang malam yang tak lagi mau disebut kelam.
Iri oleh pendahulunya, senja,
yang entah kenapa, selalu saja dipuja.

Akan kugubah satu syair.
Tentang fajar, tentang pagi yang meninggi.
Diiringi sorak sorai
pedagang-pedagang
di pasar-pasar.

Akan kucipta satu sajak.
Tentang siang yang beranjak senja.
Apa ini tidak menjadi terlalu rutin bagimu,
senja?
Senja, bukan hanya kau yang bisa berpuisi.

Bersandar di dinding pemotivasi diri, 17 April 2013
Setjoeil Asa

Selasa, 15 Januari 2013

Semacam Puisi Berjudul 'Naskah'


Aku menemukan kertas, jadwal kuliah semester pendek tahun ajaran 2011/2012 sebenarnya. Di dalamnya, ada satu, mungkin bisa dikategorikan sebagai puisi? Entahlah. Aku hampir yakin ini kutulis saat mata kuliah Bahasa Indonesia (aku jadi suka—bukan mata kuliahnya, dosennya agak, tapi lebih ke Bahasa Indonesianya—setelah mengulang tiga kali).

Naskah

Jam 8, dan lampu masih menyala.
Bosan, bahkan sebelum memulai.
Terbaca dari tiap gesture peserta, kentara.
Tuhan (jika Dia masih ingin campur tangan),
Bisakah Kau terakan tombol replay,
dalam hidup.

Kemudian, lagi dan lagi.
Beliau bercerita, tentang mimpi;
luar negeri; sekolah tinggi; beasiswi (efek emansipasi);
motivasi; prestasi (pokoknya yang berakhiran –si, seperti nama Polandia—
kali ini efek EURO 2012); basi.

Aku ingat, berharap bisa mengulang waktu, saat menulis ‘Bisakah Kau terakan tombol replay’. Aku tidak yakin nama Polandia didominasi akhiran –si. Mungkin lebih tepat –ski, seperti Lewandowski, dan nama-nama lain yang sulit dihapal.

29 Desember 2012
Aliaksandra Sastradiwirya

Minggu, 27 Mei 2012

Chairil Anwar

Aku

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Kamis, 24 Maret 2011

Kata Mtutiara dari Ulama (Imam Syafii)

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan.

Imam Syafii

Jumat, 11 Februari 2011

puisi Emha Ainun Nadjib

Jika dalam buku ini ada Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan,
Bukan berarti eksklusivisme aliran atau agama,
Tapi keinginan untuk menyampaikan kebenaran,
Kalau dalam buku ini ada Al Qur'an,
Itu bukan untuk golongan,
Tapi untuk seluruh umat manusia.

Bukan Al Qur'an untuk Islam.
Bukan dunia untuk Islam.
Tapi Al Qur'an dan Islam untuk dunia.
Islam merindukan perdamaian dan kebahagiaan sejati,
Bersama dengan yang lain.

Jakarta 15 Juni 2000
12 Rabiul Awal 1421 H