Tampilkan postingan dengan label journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label journal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2016

Percakapan dengan Bakul Gorengan

Dia menyodorkan duit sepuluh ribu ke Pak Cowek. ”Opo iki?” tanya Pak Cowek.
     “Tahu, tempe, pisang, gembus.”
     Sore merekah. Setengah cerah. Langit disaput cercah-cercah awan yang mengalir diembus angin.
Empatupuluh lima menit lalu Pak Cowek mendorong gerobak gorengannya menyusur salah satu sisi jalan Gedongkuning Selatan. Gerobak renta yang setia. Hampir tiap jelang sore, sejak toko cat Wa-Wi-Wu di pojok perempatan Ketandan belum berdiri, Pak Cowek dan gerobak ajek menjejak keras aspal dan tak canggung melawan motor-mobil yang terus berbiak.
     Cekatan benar tangan kanan Pak Cowek menjumputi gorengan pakai capit, terus dilempar ke kresek putih di tangan kirinya. Mulutnya komat-kamit menghitung. Dirasa pesanan terpenuhi Pak Cowek mengulurkan ke pelanggan. “Gundul kui sopo?” tanya Pak Cowek sembari menunjuk kaos dia yang beli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi.
     “Wasit, Pak. Wasit Itali kae lho.”
     “Pesen kui?” terus Pak Cowek mencecarnya tanya.
     “Gawe dewe, Pak.”
     “O, ning ‘Matamu’ kono kui?” berkesimpulan akhirnya Pak Cowek, meski masih bernada tanya.
     Tersimpul senyum tipis di bibir dia yang membeli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi. Otak dia yang membeli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi mencerna percakapan dengan bakul gorengan tadi lewat aneka sudut pandang. Sebagian besar kelewat rumit, sulit dijabarkan. Satu pikiran yang cukup jelas dilihatnya: waktu orang bicara tentang kaos di Jogja, yang muncul pertama di pikiran mereka kebanyakan merek ‘Lambemu’.
     Pikiran kedua, yang satu ini terus saja ada sehabis dia beli gorengan. Rasa bersalah menggerogoti benak. Kelewat banyak tulisan-tulisan tentang kesehatan tanpa permisi menyerbunya. Dia hampir percaya seharusnya gerobak Pak Cowek ditempel stiker “Gorengan Membunuhmu”, ilustrasinya tengkorak Raisa.
     Selain itu dia selalu khawatir dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit. Minyak buat goreng kan dari kelapa sawit. Meski dia selalu memasang kuota tiap dia beli gorengan. Tak lebih dari sepuluh ribu, yakinnya. Dia sendiri kurang yakin itu berpengaruh banyak pada hutan hujan tropis yang dikebiri, terus jadi kebun monokultur. Dan orang Prancis yang menolong orang utan di borneo itu, sungguh baik. Entah kenapa pikiran itu sekonyong-konyong muncul. Apapun yang dilakukannya, dia terus saja merasa bersalah.
      Kulit gorengan ini bahannya terigu. Asalnya gandum. Alaminya gandum kurang suka wilayah geografis dengan curah hujan tinggi katanya. Jangan-jangan tempe sama tahu kedelainya juga bukan hasil tanam petani lokal. Terus plastik ini bakal cuma jadi bahan reklamasi pulau plastik di Pasifik sana. Bisa jadi.
     Mendingan, endorfin yang biasanya memang mengalir lancar waktu menggenjot sepeda tak ingkar janji. Jadi ada pengimbangnya itu si rasa bersalah jalang.

    Pada akhirnya, dia terus kepikiran merek kaos berlogo kuping yang dipikirnya masih merajai dunia perkaosan.

Sabtu, 29 November 2014

Ambulans melaju cukup kencang. Dia datang dari selatan. Suara sirene mengatasi dengung semua motor dan beberapa mobil di sekitarnya. Bangjo di sebelah barat menyala hijau, tapi ambulans tak mau ambil pusing. Suara sirene adalah legalisasi perbuatannya, membuat persimpangan jalan lengang. Ucok dan mereka yang dari arah barat mempersilakan ambulans lewat, kecuali satu, gadis yang sudah mengacir ke seberang sana. Ambulans melaju mulus melewati perempatan, ke utara. Untung gadis pengendara sepeda motor itu selamat.
      Waktu menghitung detik merah tadi, di pinggir jalan sebelah kanan kami ada dua bocah berjalan. Mereka berjalan bersebelahan. Satu bocah terpaksa turun dari trotoar akibat mobil yang terparkir di sana. Dia turun ke jalan tepat di sebelah markah sepeda kuning. Kijang kapsul merah menguntit sampai dia naik ke trotoar lagi.
     Di bangjo Pojok Beteng Kulon, kami berpapasan dengan Si Thole. Itu Si Thole kedua yang kami temui. Sebelumnya, Si Thole pertama mengantri di bangjo perempatan ambulans tadi, di utara sana.
     "Kasihan tukang becak, jadi nggak laku, gara-gara Si Thole," kata Ucok.
     "5.000 katanya. Sekarang Trans Jogja 4.000, ya orang pada naik motor, lah."
     "Bukan, maksudnya wisatawan."
     Jemari kanan Ucok menarik tuas rem, berbarengan dengan kaki kanannya menginjak pedal rem. Entah rintihan itu datangnya dari rem depan atau belakang. Roda depan berhenti beberapa senti di depan garis putih.
     "Sudah musti ganti kampas rem, nih." Dia cuma tertawa. Bagian rem mana yang lucu. Entahlah.
     Dari belakang muncul sepeda motor, berhenti di aspal bercat hijau. Satu lagi muncul, berhenti di zebra cross.

katanya operasi zebra sampai tanggal 9 Desember
29 November 2014, setjoeil asa

Senin, 24 November 2014

Lintasan penyeberangan pudar di perempatan itu menjadi lantai dansa dua anak lelaki. Musik etnik menguar dari perkakas elektronis sederhana di atas trotoar sempit. Bertelanjang kaki, diiringi musik, mereka njathil.
     Langit berawan, tapi suhu lumayan panas. Sudah dua hari hujan tidak turun. Padahal sejak mulai turun pertama kali tahun ini, hujan kelihatan tak bosan-bosannya turun, membasahi semua yang disentuhnya. Tak lepas pula aspal yang sudah lebih dari enam bulan dididihkan terik matahari.
     Di ujung pembagi jalan dari arah barat, tampak dua orang berseragam polisi. Mereka bercakap-cakap seraya memerhatikan sekitar.
     Saat lampu lalu lintas sudah mengizinkan kendaraan-kendaraan dari arah timur menghambur keluar dari jeratan sesaatnya, salah satu bocah tadi--yang lebih tinggi--menyambangi para pengendara sambil menyodorkan wadah plastik kosong. Dan tetap kosong hingga bocah yang lain, yang lebih bersemangat berjoget, minggir--seolah-olah memberi jalan pada kuda-kuda besi dari arah selatan berpacu ke utara--ke arah Lembah.
     Semoga mereka lebih beruntung lain kali. Masih akan ada kuda-kuda besi lain yang akan terjerat bangjo di ujung jalan searah itu.
     Di sudut barat daya perempatan ada pom bensin yang sudah hampir sepekan memajang angka 8.500 di sebelah tulisan premium. Sebelumnya, angka 6.500 sudah membuat keder rakyat jelata. Mereka dijanjikan selisih dua angka ini. Apa mereka peduli dengan perhitungan rumit itu?
     Apa dua bocah tadi mendapat cipratan selisih itu, yang oleh orang-orang berwenang disebut 'Kartu Sakti'? Semoga.

Tuhan bersama kalian, orang-orang biasa yang memang sudah terbiasa menjadi biasa dan menganggap keadan seperti apapun juga biasa
biasa, biasalah biasa sajalah
23 November 2014, setjoeil asa

Kamis, 06 November 2014

Seperti yang kita bahas di WA tadi, sekarang aku akan menuliskan perihal roti tawar. Kejadiannya belum lama ini, kapan tepatnya, maaf lupa.
     Wajah tukang roti itu kelihatan kurang senang. "nggak laku ya, Bu," katanya sambil melihat ke dagangannya yang jumlahnya masih sama dengan saat diantarnya dulu, "mungkin libur dulu ya, Bu." Tukang roti tadi tidak meninggalkan sebiji roti pun di keranjang plastik yang biasanya diletakkan di atas etalase. Langkahnya menyiratkan kekecewaan waktu balik ke motornya.
     Selang sebentar ada yang datang pakai motor ke warung kelontong. Laki-laki itu masuk. "Ada roti tawar," tanpa basa-basi ia berkata.
     "Adanya cuma kayak begini rotinya," Ibu pemilik warung itu menunjuk ke keranjang plastik berisi roti aneka rasa di samping keranjang plastik kosong.
     "Ah, carinya roti tawar," laki-laki itu pergi hampir sama cepatnya dengan datangnya.
     Suami ibu itu lagi leyeh-leyeh di lincak, memasang telinga, diam-diam menyimak kejadian barusan. "Yang namanya jualan itu nggak tahu kapan laku kapan tidak," nada bicara bisa jadi kurang sedap buat kuping si tukang roti, "mustinya ditinggali satu dua biji roti."
     "Iya ya, Pak."

Kamis, 23 Oktober 2014

Dia masuk, berjalan di antara dua etalase, salah satunya berangka kayu dan sudah berumur. Rambutnya lurus kaku dan di bagian atas pada berdiri, bibirnya tebal, matanya segalak kucing setengah liar. Kaos polo bergaris dominan coklat dan celana kolor biru membalut badannya. Memintasi ruang, dia berhenti di depan etalase kecil berisi rokok di tingkat satu dan duanya. Etalase mungil ini digendong etalase gede, seperti kakak beradik.
     "Djarum papat," pintanya, "White Coffe siji."
     Disodorkannya tiga lembar dua ribuan. Kelihatannya dua ribuan lagi ada di puncak populasinya; laci meja, yang anggap saja sebagai meja kasir, mewakili keadaan ini dengan perbandingan kurang wajar antara dua ribuan dengan duit lain.
     Kurengkuh sebungkus Djarum isi 16 yang sudah dibuka. Kuletakkan di atas etalase di depannya. Dia mengambil empat batang, sementara kuambil rentengan White Coffe di pojok tingkat dua etalase gede terus kusobek satu.
     Dia keluar, hening seperti saat masuk. Ada semacam ragu dalam rautnya tadi waktu bilang rokok empat. Naiknya harga Djarum 250 rupiah, membuat pelanggan setia rokok merek ini berpikir lebih dari 250 kali sebelumnya. Seperti ada hal mistis nan sakral dari angka 250. Kalau biasanya dengan lima ribuan boleh bawa pulang lima batang, kali ini harus puas dengan empat batang. Malang nian nasibmu wahai pelanggan setia.
     Apa Robert dan Michael mendengar pekikan memelas sumber-sumber kehidupannya? Apa mereka masih akan ada di Forbes setelah perubahan harga eceran ini? Setan mana yang peduli!?
     Malamnya ada satu orang mampir. "Kalih mawon," katanya sambil mesam-mesem. Lagi-lagi Djarum. Best seller dia ini agaknya.
     Sebelumnya, menjelang sore si Djarum dicari lagi. "Yang kecil saja," katanya dalam basa Jawa. Waktu kubilang habis, dia bilang, "Ya sudah yang gede."
     "15.800..."

dalam pengaruh Idrus dan Open, atau Idrus saja barangkali
23 Oktober 2014
setjoeil asa

Minggu, 28 September 2014

Hari yang aneh. Atau harus kukatakan, kemarin hari yang aneh. Tapi apa gunanya. Kemarin adalah kemarin. Sesuatu yang disebut manusia (makhluk yang mungkin menganggap dirinya superior, tapi kuanggap menyedihkan, aku masih belum percaya aku bagian dari mereka) sejarah sejak mereka menemukan tulisan. Ya, cuma sejarah. Dan ada cabang ilmu tersendiri yang mempelajarinya. Hari yang aneh itu, yang sudah bisa disebut sejarah, yah itu memang hari yang aneh harus kuakui. Namun lingkup sejarah yang diobrolkan ini kecil. Dalam radius persepsiku. Jadi terserah aku mau jadi seperti apa sejarah itu, terutama sekali dalam bentuk tulisan. Dia yang punya kuasa, bisa menulis ulang sejarah sesukanya, katanya.
     Aku menulis tentang sapi di bawah naungan spanduk-spanduk dan kambing di bawah naungan seng. Penggambaranku agak keliru tentang lindungan mereka. Maklum saati itu lewat tengah malam, aku cuma mengandalkan ingatan, dan seringkali ingatan ini menipu. Orang menutup ingatan yang mereka lupakan dengan fantasi yang mereka inginkan atau dipaksakan secara halus ke mereka. Di bawah naungan spanduk, cuma satu batang bambu diikatkan melintang sedikit di atas seperampat bagian bawah tiang bambu, sepanjang naungan. Sebatang bambu buat mengikat si sapi. Di bawah naungan seng-lah bilah-bilah bambu melintang melingkari naungan persegi itu. Tapi cukup buat sapi dan kambing. Toh beberapa hari lagi ajal mereka....

Sabtu, 27 September 2014

Penggal tanah itu, di antara asrama SMP yang tengah dibangun dan lapangan yang barusan ditanam sepasang gawang tanpa jaring, akhir-akhir ini ramai oleh khalayak. Tanah itu tak seberapa luasnya. Kira-kira setengah dari luas lapangan bola di sampingnya. Dan jelas lapangan itu pun, dengan gulma berduri mengerayanginya, seperti bayi prematur, berukuran kurang dari semestinya.
     Di pinggir-pinggir tanah itu yang berbatasan dengan lapangan di selatan, bekas kali di timur, dan asrama di utara, berdiri rapuh kanopi-kanopi bertiang bambu. Kanopi-kanopi itu mengelilingi tanah itu, kecuali di sisi yang berbatasan dengan jalan aspal, tanah melandai yang diperuntukkan buat jalan keluar masuk. Atap-atapnya dari bekas spanduk yang biasanya terpampang di depan gedung pameran sewaan, atau perempatan jalan besar. Bagian bawah tiang bambu itu, dipasang melintang sepanjang kanopi, beberapa baris belahan-belahan bambu. Jarak antar mereka belasan centimeter.
     Khalayak tadi mendapat tontonan gratis dari penghuni-penghuni baru tanah itu. Di bawah naungan atap spanduk, di atas sisa makanan, tahi dan kencing mereka sendiri, hewan-hewan berkaki empat ini pasrah merenungi nasib dan menunggui takdir, terekspos tanpa ampun oleh mata penikmat-penikmatnya. Sebentar lagi, tak akan lama, bukan cuma mata penikmat-penikmat mereka saja yang akan terpuaskan. Tunggu saja.
     Sapi-sapi dan kambing-kambing terkurung di kandang, apa ada yang menarik dari hal ini. Salah satu sapi terduduk, sapi di sebelahnya memakan apapun yang disodorkan oleh tangan-tangan mungil dari luar bilah-bilah bambu. Ada bilah-bilah bambu lain di antara sapi yang duduk dengan sapi yang bersantap sore sambil mengibas-ngibas ekornya.
     Di malam hari, saat sunyi, terkadang embik kambing terdengar dari seberang lapangan. Namun jarang lenguh sapi tertangkap telinga. Kadang pula bau mereka beranjangsana bersama angin, menyambangi hidung. Bagaimana khalayak ini bisa tahan di bawah sana. Cuma berjarak satu-dua depa dari kandang.

mungkin jurnal ini akan berlanjut ke episode genosida rajakaya...
nonton Stay (2005) dulu.

"un suicide élégant est l'oeuvre d'art finale"

Selasa, 16 September 2014

Cukup membosankan jadi manusia yang pengambilan keputusan terberat dalam hidupnya adalah 'mandi pagi atau tidak.' Kalau mandi mungkin itu bisa saja dirasa sebagai perbuatan yang kurang menghargai mereka yang tengah berjuang matia-matian demi sereguk air. Yah, ini katanya lagi musim kemarau berkepanjangan. Tapi itu bisa juga jadi perbuatan distribusi air. Kalau air tidak dipakai mandi. air cuma mengendon di bak. Dengan mandi air bisa mengalir lewat saluran, pipa-pipa, terus selokan, infiltrasi ke dalam tanah, mengalir ke tempat yang mungkin lebih dibutuhkan, jadi air tanah (di bawah hotel. Hotel buat sumur. Warga juga punya sumur), atau evaporasi, menguap jadi awan, lalu bisa jadi hujan di tempat yang tanahnya lebih layak diguyur hujan... Bukan di ibukota, .. kenapa? tanya saja ke Ahok, eh? Kalau tak mandi, mungkin cuma bau... kalau mandi entar juga bau lagi... sama saja...
     Yah, jadi pengangguran memang punya kelewat banyak waktu buat merenung tentang itu semua. Bukan memikirkan hal-hal yang dipandang kurang sepele macam, apa bandara musti dibangun di sini atau di sana, apa trem musti dihadirkan di Jogja, apa mobil dinas musti diganti sama yang lebih mewah dari Lamborghini.

Kamis, 21 Agustus 2014

"Dia kejar setoran bet," katanya sebelum pergi. "tiga puluh."
"Juta?" kataku heran.
"Ceritanya panjang."
    Aku ingat percakapan singkat itu, dengan Sul dua malam sebelumnya. Malam Kamis ini dia bercerita tentang tiga puluh juta itu, yang ternyata ceritanya tak sepanjang imajinasi liarku. Yang digunjingkan ini adalah Roi yang memang keranjingan judi. Awalnya togel, terus merembet ke judi bola online. Tidak sedikit memang orang yang menaruh banyak harapan di atas pundak judi bola. Meski tidak sedikit pula yang menganggap judi bola itu cuma pemberi harapan palsu.
    Di atas tiga tikar lusuh yang diatur seadanya, kami bertiga menikmati jeruk hangat dan teh hangat. Di mana tukang angkringan ini menemukan tikar sekecil ini. Entahlah.
    Uap keluar dari cerek di atas tungku berarang membara. Suara percakapan penuh semangat terdengar dari bapak-bapak di sebelah lain angkringan. Mereka duduk di dipan depan rolling door toko perak yang buka sepanjang hari. Hampir setiap malam halaman toko ini jadi area kekuasaan tukang angkringan.
     Di trotoar sebelah angkringan, tukang nasi goreng sedang memasak magelangan pesanan kami bertiga. Api merah biru kompar gas menjilat-jilat wajan yang sudah gosong bagian bawahnya. Angin membawa aroma bawang dan bumbu lain ke arahku, menggelitik hidung.
     Raung lalu lalang motor meningkahi suara kompor gas yang dibesar-kecilkan dengan ritmis dan bentrokan sutil dengan wajan. "Permisi mas," ada orang yang mau lewat, kumajukan badan dan dia lewat dibelakangku. Lalu dia duduk di atas tikar yang tak kalah lusuh dari yang kududuki. Orang itu, yang kira-kira sepantar dengan kami entah dari mana mengeluarkan satu buku, dan mulai membaca.
     "Ini yang nggak pedas," kata tukang nasi goreng.
     "Awalnya dia pasang satu atau dua juta," sambil menyantap nasi gorengnya Sul bercerita, "kalah. Terus pengin pasang lagi. Nah, waktu itu kebetulan ayahnya titip tiga puluh juta di rekening Roi. Nggak tahu bagaimana semuanya ludes. Tiga puluh juta itu duit jual tanah. Dia bilang ke bosnya. Jujur. Bosnya mau bantu. Dia dipinjami duit. Gantinya tiap bulan gajinya dipotong lima ratus ribu buat bayar pinjaman itu. Bosnya sempat bilang, 'kamu itu kalau main yang begituan anggap saja seperti main di timezone atau apalah, cuma hiburan.'"
     Percakapan setelah santap malam berkisar tentang masa SD. Di sela-sela percakapan kami asyik sendiri dengan ponsel pintar masing-masing. Percakapan tentang kampret yang secerdik kancil sewaktu mengelabui anak-anak, pelajaran olahraga dan menggambar, dan cerita hasil perasan kenangan lainnya...
     "Hei, Sul...?" Kidj tanya  ke dia tentang entah apa, sepertinya soal teman sekampus. Dia baru menengok di panggilan kedua atau ketiga. Di satu-dua obrolan dia bahkan bergeming, tidak menengok, menyarangkan tatapannya ke layar ponsel android-nya. Betapa momen canggung.

Jumat, 11 Juli 2014

11 Juli 2014 (Brazil 1 - 7 Jerman. Setelah ini, kurasa tidak ada perbuatan hidup yang berefek kejut terhadapku)

Pangeran yang Selalu Bahagia, salah satu dongeng terbaik yang pernah kubaca. Hanya karena Oscar punya anak, terus dia pengin mendongeng buat anak-anaknya, dia bisa menulis sehebat itu.
Orangtua jaman sekarang akan membeli TV LED 42 inch, HP android, tab (?), dan mereka berseru puas, "Ini cukup untuk menjamin kebahagiaannya dan menghindarkan mereka dari kerasnya realitas!"
"Lagi-lagi kamu mengeneralisasi, Nak."
Hidup orang sekarang berbeda dengan orang dulu, lihatlah hidupku sebagai contoh: tidak berarti! Ya kan, Soba?
***
Berita yang masih suam-suam kuku--atau istilah yang lebih menjijikannya hangat-hangat tahi ayam, dan mungkin musti keburu disantap selagi hangat, sebelum dingin--roket-roket Israel mendarat di Gaza.
"Yes, and how many times must cannonballs fly before they're forever banned,"
samar-samar Bob Dylan bernyanyi di dalam kepala...
Orang lain akan bilang, "Manusia, terutama pria, akan berperang untuk hal yang diyakininya."
Sampai pada akhirnya mereka lupa kenapa mereka berperang? 
Kalau begitu, aku akan pergi ke dan berdiri di tanah tanpa keyakinan... Ya kan, John?

Atau yang lain lagi akan bilang, "Kamu harus memihak (pada yang benar)." Siapa yang benar, siapa yang salah? Siapa tahu, siapa peduli!
Kalaupun aku memihak, aku tidak akan memihak manusia.
Hidup sudah terlalu buruk. Hidup sebagai manusia? Tidak bisa lebih buruk lagi. Ya kan, Mark?

12 Juli (Hidup memang absurd seperti film western yang tokoh utamanya diperankan aktor bernama Eastwood.)

13 Juli. Membaca kata pengantar Mochtar Lubis dalam Malam karya Elie Wiesel. Kurasa Pak Lubis ini orangnya lumayan religius.
Apa ini suatu kebetulan, membaca buku tentang genosida Yahudi saat Israel memborbardir Gaza?
      Kurasa apa yang terjadi di sana tidak bisa lebih manusiawi lagi. Inilah wajah manusia yang sesungguhnya.
Kalau kedua belah pihak punya hati yang cukup lapang--Hamas mau berhenti main lempar roket ke Israel, dan Israel mau kasih rehat mainan-mainan mahalnya--itu malah tidak manusiawi. Itu surgawi. Kata mereka yang percaya surga, "di surga, nafsu tidak eksis."
"Apakah kita pernah pikirkan akibat dari suatu kengerian, yang sekalipun tidak senyata, sekasar penghinaan lainnya, namun adalah kengerian yang paling berat ditanggung semua orang beriman: kematian Allah dalam jiwa seorang anak yang tiba-tiba menemukan kejahatan mutlak." (Fracois Mauriac, dalam prakata Malam karya Elie Wiesel)
Dia ini mengenyam pendidikan apa? Betapa dia bisa menemukan kata-kata seperti itu. Seringkali aku mengais-ngais dalam kehampaan, mencari kata-kata untuk mengungkapkan perasaan yang dikandung benak, tapi kata-kata itu pandai benar bermain petak umpet.

nb: buku itu tadi terjatuh. Mulut pemiliknya hampir tanpa sengaja mengumbar sumpah-serapah tak karuan seakan itu adalah tragedi terburuk dalam hidup, atau bahkan akhir dunia. O, kurasa akhir dunia tak seburuk itu.

Sabtu, 21 Juni 2014

Pagi ini ada bocah yang berlari mondar-mandir di lapangan yang rumputnya hampir semuanya sudah dipapas. Dia berlari dekat kubangan karya hujan semalam. Di batas lapangan--pematang dari beton dan di atasnya berjejer bata merah gelap akibat basah yang membentang dari tanah melandai di tepi jalan ke bantaran kali--barusan bertengger ayam betina. Ayam itu turun ke lapangan, dengan heran mengamati bocah yang berlari mondar-mandir. Tangan kanan bocah itu menggenggam erat seutas benang. Agak di belakang layang-layang setengah basah melayang menguntitnya, seperti kucing betina berbuntut ikal yang lapar dan terus saja mengekor majikannya meminta makanan dengan meong paraunya. Dia tadi datang dari sisi lapangan yang terhalang bangunan taman kanak-kanak. Seorang yang tampak sudah tua mengendongnya, bisa jadi kakeknya. Di sebelahnya, agak di belakang, kakak perempuannya berjalan mengikuti sambil memegang sepasang sandal si bocah.
     Aroma kopi bercampur dengan bau kandang ayam dan kolam ikan. Dia menyesap kopi dari cangkir yang tadi diletakkannya di ambang jendela lantai atas. Dari situ sebagian lapangan bisa dilihat. Pemandangan yang belakangan jadi kelewat akrab ditangkap matanya. Hanya jati yang kurang gemar meranggas, pohon mangga kecil, dan waru yang menghalangi matanya, selain bangunan yang tadi sudah disebutkan. Kicau burung saling sahut, deru motor dari jalan di sebelah kiri meningkahi, dan sorak sorai anak-anak mulai ramai dari dalam bangunan dekat di sebelah kanan.
     Dia melihat awan yang jarang-jarang di langit sebelah timur laut. Nuansa dari putih kekuningan ke kelabu nampak di gumpalan awan paling besar. Dia memandanganya lewat kaca penuh bercak lumpur. Hujanlah tukang patrinya. Dia memfokuskan mata ke kaca patri lalu pindah ke awan, dan mengulang-ulanginya. Di langit utara pesawat berjalan malas tampak seperti lukisan yang bergerak dengan latar kelabu. Deru mesinnya sayup-sayup terdengar bila suara-suara yang lebih dekat memberi kesempatan.
     Si bocah, kakeknya dan kakak perempuannya pergi dari lapangan, berjalan menyusuri tepi jalan melewati dua mobil SUV baru, satu berwarna putih dan satu lagi merah tua. Di tempatnya berdiri, dia mereguk sisa kopi, menyisakan ampas di dasar cangkir.

21 Juni 2014

Selasa, 17 Juni 2014

Bagian tenggara lapangan yang dulunya ladang tebu itu berwarna cokelat. Beberapa pekan setelah ladang tebu dirubah jadi lapangan, rumput-rumput mulai tumbuh. Di bagian tengah ada dua lajur tanah yang tidak ditumbuhi rumput. Dua lajur yang tampak seperti jejak roda kendaraan. Hampir tiap sore di lapangan itu anak-anak yang entah anak siapa bermain layang-layang, sekadar berkumpul bersama, bersepeda atau hal lain yang biasa dilakukan anak-anak.
     Tengah hari ini, dua orang tampak berjongkok agak berjauhan satu sama lain di lapangan. Satu, yang lebih tua, di pinggir sebelah utara dekat kali kecil yang dulunya cukup sering anak-anak mencari ikan di sana, tapi sekarang airnya kering di musim kemarau. Satu lagi di tengah, dekat satu dari dua lajur bekas roda kendaraan. Mereka memegang sabit kuat-kuat, menekankan dua ibu jari pada gagangnya, bagian sabit yang tumpul diletakkan di perbatasan antara tanah dan pangkal rumput dan mereka membuat gerakan tarik-dorong.
     Sesekali salah satu dari mereka, yang muda, menyeka keringat di dahi dengan lengan kaosnya. Dia memakai kaos warna gelap lengan panjang, celana olahraga panjang biru tua bergaris putih di sampingnya, sendal jepit dan caping yang talinya dicantolkan dagu.
     Matahari bukan sahabat mereka siang ini. Ada gumpalan awan di langit sebelah utara, namun enggan memberi naungan untuk mereka yang ada di lapangan. Mereka yang menjalani takdir, mengais apa yang disediakan takdir.
     Ada kebun setengah terbengkalai di utara lapangan, bersebelahan dengan bagian tanah yang selesai dicabuti rumputnya. Di sebelah utaranya kebun setengah terbengkalai itu ada proyek pembangunan SMP. Kuli-kuli bangunannya lagi mengaso. Kalau lagi kerja suara alat-alat milik mereka bersaut-sautan membentuk orkestra tanpa harmoni.
     Raung garang motor mendadak memenuhi udara di sekitar lapangan. Bocah bermotor kros masuk lapangan. Lewat di sebelah pencabut rumput muda dengan kata permisi yang diwakili oleh raungan mesin motornya. Cuma sebentar, bolak-balik sekali, dia terus keluar lapangan. Si tua dan si muda cuma mengangkat kepala, menengok sebentar, terus asyik lagi dengan rerumputan. Tak selang lama, bocah itu balik lagi, beraksi sama persis dengan yang pertama. Dua pencabut rumput juga bertindak sama. Melihat adegan ini serasa mengalami deja vu. Bedanya di akhir adegan terakhir, asap dan debu lebih bergairah, meski cuma figuran tak mau kalah, terbang terombang-ambing angin.

setjoeil asa

Kamis, 12 Juni 2014

Menu makan malamnya kali ini nasi, oseng mie, dan tempe tepung yang proporsi antara tepung dan tempenya sungguh akan membuat penggemar mendoan kecewa berat. Dia tak menggubris nasehat ahli gizi, pemerhati makanan, atau bahkan Dedi Korbuser. Siapa juga yang mau nampang telanjang dada di sampul depan buku.
     Belum satu jam sebelumnya, bulan bangun kepagian. Matahari belum seutuhnya terbenam, bulan sudah tampil memukau di langit timur. Wajahnya tampak lebih besar dan riang. Apa ada yang bermain-main jadi Tuhan dan menariknya dengan laso lebih dekat ke bumi? Hanya Tuhan dan orang yang bermain-main jadi Tuhan itu yang tahu. Mungkin bulan cuma lagi kejar setoran.... Eh?
      Piala Dunia! Teriak saudagar-saudagar jersey kece, kicau olahragawan-olahragawan cabang sepakbola, oceh komentator-komentator jontor dan lolong para penggila bola serempak. Tapi apa yang dibisikkan oleh demonstran-demonstran itu di sana, apa Tuhan mendengarnya?
    
12 Juni 2014
setjoeil asa

Minggu, 08 Juni 2014

Berbaring di atas kasur yang mencekung akibat berat badan ini. Di dalam kamar, ditemani lampu LED biru pelantam suara dan kipas laptop. Lagu folk berkumandang mesra. Ingatan melangkah beberapa jam ke belakang: kucing di kolong angkringan, ujung lidah api dari anglo yang mencuat di sela-sela dua ceret kaleng, peminta-minta yang menolak dikasih nasi kucing, asap rokok dari pelanggan angkringan, entah kenapa semua hal sepele itu tampak berkesan.
Percakapan dengan teman kuliah tentang pekerjaan yang belum benar-benar digenggaman: "yah, aku cuma suka nulis, tapi nggak bisa nulis."
"Tapi semua berawal dari suka. Kalau sudah suka orang akan lakukan apa saja buat lebih hebat dan hebat lagi."
Mungkin benar, tapi siapa yang hebat, atau siapa juga yang pengin jadi hebat...
Lampu kota itu mati, terus hidup saat didekati. Mungkin memang begitu sistemnya, pikirku, kalau sudah panas mati sendiri, sudah agak dingin nyala lagi.
Sepeda restorasi ini mengalir tanpa peduli siliran hasil cipta sepeda motor yang tergesa-gesa di sebelah kanan. Ada sekali waktu, dari jalur sebaliknya, sekumpulan motor berlari dengan suara menyayat hati. Meski mencoba tak peduli, buang muka, pikiran tak mau berhenti mengkritisi. Tapi siapa juga pikiran ini mau jadi hakim yang kerjaannya ketok palu. Urus diri sendiri saja tak becus. Itu hidup mereka, suka hati mereka mau diapakan.
Di pinggir jalan, trotoar, angkringan bertebaran... Di sekitar stadion, sepelemparan batu dari satu angkringan ada angkringan lagi.
Burjoan tak mau kalah. Secuil tempat dipakai buat dagang itu aak-aak. Tak jual burjo tak masalah, gelar burjoan masih bisa disemat. Anak-anak komplek gemar main di situ. Mereka menggelar tikar butut, terus main kartu sampai lupa waktu. Kopi jadi sahabat baik. Asap rokok tertahan di atap seng di atas mereka, kesulitan mencari jalan ke habitatnya. Bau tembakau membikin tersedak buat mereka yang agak alergi. Ah, bukan itu hiperbol. Meski orang suka berlebih-lebihan saat cerita. Tapi tak ada yang alergi asap rokok berani dekat-dekat tempat begitu. Barangkali ini cuma alergi hidup.
Cukup dengan lambaian tangan. Tempat itu terlewat... Bukannya anti sosial. Mungkin sedikit. Manusia mana yang tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya?

setjoeil asa

Selasa, 20 Mei 2014

Sehabis makan, orang bisa melihat sisa irisan-irisan cabai yang tergelar setengah melingkari pinggir piringnya. Bahkan malaikat Atid pun akan kesulitan jika disuruh menghitung irisan-irisan itu. Bijaksanalah Tuhan tak membiarkan tugas mahaberat ini dipikul sang malaikat.
     Meski begitu, hampir tiap ada kesempatan, sehabis santap malam, dia akan bilang ke istrinya tentang berapa cabai yang dimasukkan ke jangan buncis, atau jangan tempe-tahu atau masakan yang tadi disantap. Pertanyaan ini diucapkan sedemikian rupa, hingga jelas bahwa ini dimaksudkan untuk menyinggung kekurangpedasan masakan si istri. Dan istrinya akan menjawab bahwa jumlahnya cukup untuk membuat pelanggan warung batuk-batuk dan bersin-bersin saat mencium aroma masakannya. Atau dalam beberapa kesempatan si istri akan bilang, "jumlah yang cukup bikin pedagang cabai girang."
     Kalau kebetulan pasangan ini mengunjungi kampung kelahirannya, mereka hampir pasti membawa pulang berikat-ikat petai yang menjuntai. Sampai-sampai pernah mereka ini dikira pedagang petai yang lagi kulak. Dalam kesempatan ini, beda lagi komentar yang terlontar dari mulut si suami. Dia akan bilang, "Kamu ke manakan petai tadi?" Dengan nada yang dibuat-buat, seakan dia tidak bilang seperti barusan tapi, "kenapa nggak ada petai di oseng-oseng ini?" Padahal di hadapannya ada masakan yang disebut oleh si istri sebagai 'oseng-oseng petai'. Akan sangat tidak adil memanggil masakan itu oseng-oseng tempe atau oseng-oseng kacang panjang, karena perbandingan yang kurang ajar antara jumlah kacang panjang atau tempe dengan petai. Kalau saja ini pemilihan presiden, petai akan menang dalam satu putaran, dan uang negara yang dihemat, ralat, maksud kami diembat akan lebih banyak.
     Yah, begitulah sekilas yang bisa diceritakan tentang pasangan bahagia yang sudah berlayar dalam bahtera rumah tangganya selama hampir tiga dekade ini. Apa yang selanjutnya terjadi dengan mereka, hanya Tuhan yang tahu.

Setjoeil Asa

Senin, 19 Mei 2014

Pengayuh Sepeda Berteman Kesepian

"Chicikov berpendapat bahwa cerita itu memang terjadi, dan ada beratus hal di tengah alam ini yang tak dapat dijelaskan walaupun oleh sarjana yang paling besar."                                                                                                                                    ( Nikolai Gogol - Jiwa-jiwa Mati)

Sore:
"Berapa mas sekilo?" tanyaku
"Enam ribu," jawab mas penjual pakan ternak singkat.
     Tentu saja percakapan terkait jual-beli pelet kecil ini dalam bahasa Jawa. Harap maklum, karena latar jurnal kali ini memang, lagi-lagi, terjadi di tempat yang mensunahkan, kalau penulis boleh bilang, menggunakan bahasa setempat.
     Selepasnya, kukayuh sepeda ke arah tenggelamnya matahari, ke arah yang juga menuju Pasar Kotagede. Pernah suatu fajar, sebelum adzan subuh berkumandang, setelah habis pertandingan Manchester United, penulis lewat pasar yang tadi disebutkan. Pedagang- pedagang yang berani hidup sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing: ada yang menggelar tikar alas dagangan, menurunkan kubis dari kendaraan pengangkutnya, bercengkrama dengan sesamanya tentang apakah Jokowi memang pantas jadi presiden, Mengkritisi buku Depe tentang penjara perempuan (mereka pikir dia itu Nawal El Sadawi atau siapa, meski yang bersangkutan sendiri baru bilang mau menulis), mambaca novel Jiwa-jiwa Mati-nya Gogol, (maaf, salah ketik. Kalau orang jaman sekarang yang doyan bersosial-media bilang tipus, maaf lagi, maksudnya typo. Tapi penulis menganggap dirinya anakronis. Apa lagi ini?)
     Mohon dimaafkan dan lupakan saja pikiran-pikiran kurang waras penulis yang dituangkan di tempat ini. Walau memang tempat ini memang sepenuhnya seharusnya menjadi tempat seperti itu (apa-apaan ini?) Harap maklum penulis belum menyesap sedikit pun cafein hari ini. Penulis minta ijin untuk meminum kopi Kapal Api sebentar. Sebentar saja. Hanya beberapa menit. Tak perlulah pembaca menanti terlalu lama.

***

     Nah, penulis bilang juga apa. Belum sempat pembaca kelar mengunduh lagu Twentysomething-nya Jamie Cullum, penulis sudah melanjutkan tugas sucinya ini. Sampai di mana tadi. Oh ya, mengunduh lagu. Eh, apa itu termasuk ikut membangun jalan tol buat para pembajak? Mungkin Captain Jack atau Johnny Depp punya pendapat.
     Oke, penulis melanjutkan mengayuh sepeda mengitari pasar lewat jalan di sebelah timur pasar, ke arah belakang pasar. Di selatan pasar ada jalan ke barat menuju Masjid Mataram yang kemarin baru melaksanakan ritual menguras kolam. Sayang tak banyak panen ikan kali ini, karena itu memang bukan kolam ikan. Itu kolam pemandian. Waktu kecil banyak teman penulis melihat orang mandi di sana. Sekali lagi penulis tekankan, teman penulis. Penulis tidak berani, tidak berani kalau cuma sebentar, lama-lama doyan. Ah, setengah jalan menuju voyeurism.
     Ke selatan lagi ada pabrik cokelat yang cukup terkenal akibat pemasaran gencar manajemennya. Begitulah kiranya yang penulis percayai. Lalu lepas dari jalan bebentuk 'S' yang sama sekali tidak terasa dingin kalau melewatinya, satu lagi situs bersejarah menghadang jalan. Semacam pondok kecil di tengah jalan. Di dalamnya ada batu-batu, yang entah kenapa penulis kurang paham, disebut bersejarah. Kurasa batu di pekarangan belakang rumah juga menyimpan sejarah hebat. Entahlah... Penulis mengaku suka sejarah, padahal di SMA saja tak mau beli buku pelajaran sejarah.
     Si pengayuh sepeda yang tak lain juga adalah penulis, disuguhi panorama sosial menawan di sekitar situs batu itu. Batu yang bukan merupakan batu yang muncul di Novel Harry Potter yang pertama. Katanya kalau mau jadi cerpenis atau novelis harus pandai-pandai menangkap semuanya sajalah yang ada di sekitar. Yang tersirat maupun yang tersurat. Apa iya? Ah, mungkin itu cuma khayalan penulis. Tak usahlah diambil hati. Lebih enak daging di bagian pinggang, atau kalau chef yang bertato di seluruh lengannya itu bilang Sirloin (semoga tidak salah sebut. Penulis bukan lulusan perikanan).
     Nah, singkat cerita, sampailah penulis di tempat dia seharusnya memang sampai (?).... SELESAI atau barangkali juga bersambung... Siapa yang tahu takdir siapa....

nb: Di jalan belakang perumahan, di tempat yang memungkinkan untuk melihat salah satu rumah paling selatan di kompleks perumahan itu, ada lelaki paruh baya yang entah lagi melakukan apa pada pagar rumahnya yang entah sejak era apa berdiri di pinggir jalan itu. Dia memegang palu, semetara ada salah seorang lagi, yang lebih tua melihat lelaki itu bekerja. Orang tua ini berdiri memegangi sepedanya di tengah jalan. Baru setelah dekat lelaki pemegang palu menyadari ada yang mau lewat, tapi tidak demikian dengan orang tua di tengah jalan itu. Akhirnya, setelah orang tua minggir, terjadilah ritual ala Jawa kalau berpapasan, menundukkan badan sambil bilang, "permisi," yang tentu saja seperti di awal cerita, dalam bahasa halus setempat.
     Lepas dari jalan kecil itu terasa sekali nuansanya, atau untuk menghindari kesalahpahaman, gradasinya. Rumah-rumahnya dengan arsitektur modern minimalis, isi garasinya, pagar, atap, tembok, pengasuh, pembantu, anak-anak, anak anjing, semuanya sajalah. Oh, bukan ini perbedaan yang teramat besar. Kesenjangan luar biasa. Jurang! Tanpa bisa dilihat tanah di seberang, dan betapa dalamnya. Tak seorang manusia dapat melompatinya, bahkan Jesus, Nuh, atau sekalipun Samson.
     Beberapa rumah sebelum sampai di tempat yang seharusnya, penulis memnjumpai dua orang pemuda beriman dengan pakaian religius mereka. Seseorang bilang, "kok sendirian. Apa nggak kesepian?" Kecuali kata terakhir, lagi-lagi semua itu diucapkan dalam bahasa setempat yang mungkin sudah membuat pembaca muak akibat terlalu sering disebut.
     Baru, penulis sadar kalau kesepianlah BBF-nya. Boy Friend Forever? Bukan, bukan. Bad Friend Forever? Bukan lagi. Blue Film Forever? Jelas bukan. Barangkali ini kejuaran gulat yang dihelat oleh Paman Sam itu? Boleh jadi... Atau selamanya teman terbaik. Kali ini bukan dalam bahasa setempat. Meski tak kalah bikin muak.


Jogja, 19 Mei 2014
Di bawah pengaruh hebat Jiwa-jiwa Mati-nya Nikolai Gogol, Setjoeil Asa
    

Kamis, 10 April 2014

3½ Hari


Hari 1: Air
Hati ini tersayat-sayat melihat air tanah ditarik paksa ke permukaan, terus digelandang ke kolam berair keruh. Tidak lebih perih ketimbang menatap nanar tangan yang secara sadar menguyurkan air keran ke kloset yang berlumuran air kemih.
Koran edisi itu memajang foto istrinya Chris si pelantun tembang, atau dia itu istrinya Robert. Entahlah, siapa peduli. Istri salah satu dari mereka ini dipertontonkan waktu lagi minum air mineral botolan. 22 Maret Hari Air Sedunia, tulisan di sekitar gambar itu mudah terbaca. Mudah terbaca tentunya bagi mereka yang tidak buta aksara.
            Tapi siapa yang peduli sama air kalau air bersih mudah saja menggelontor sekali putar kenop keran. Selalu saja ada yang berkoar-koar di dalam kepala bahwa kemudahan menumpulkan pikiran, mengikis rasa syukur.
            Orang yang menarik paksa air tanah, bapak, kelihatannya saja hampir tiap hari ngelaju Jogja-Wonosari. Bukannya di sana ada yang namanya pedagang air. Konon satu tangki dihargai 20.000. Bisa sampai 160.000 pula kalau diantar jauh. Entah isi berapa liter satu tangkinya. Ah, lama-lama bisa jadi akan ada pula pedagang udara. Atau memang sekarang ini sudah ada?
            Lihat siapa yang punya pandangan macam ini. Dasar pelanggan PDAM.

Kamis, 27 Maret 2014

Ilham Dermawan

Maaf, aku tidak akan menyumbangkan satu pun buku-bukuku--yang kurasa adalah harta duniawi paling berhargaku. Yah, aku memang bukan dermawan, dan tidak pernah merasa demikian. juga diri ini tidak pernah merasa lebih baik dari pada siapa pun jua. Tidak pada mereka yang meminjam barang orang lain tanpa izin karena desakan dan seruan perut mereka yang memekakkan telinga mereka sendiri akibat kosong selama hampir tiga hari penuh. Tidak juga pada mereka yang memampang foto wajah ramah-semringah di pohon-pohon atau tiang-tiang listrik pinggir jalan. Tapi entah pada mereka yang mengambil yang bukan haknya karena belum merasa puas dengan yang mereka miliki.
     Jangan. Jangan panggil aku eksistensialis. Tapi aku memang tertarik dengan kebebasan individu yang hanya dibatasi oleh kebebasan individu lain. Sayangnya dalam hal ini kebebasan spesies lain tidak diacuhkan.
     Oh, kenapa juga tadi aku menyinggung soal buku-buku. Apa gunanya membaca buku. Apa dengan itu hidup ini lebih layak dijalani? Barusan aku baca buku. Di dalamnya ada kalimat menarik. Akan kukutip, "... tetapi segera perasaan itu diganti oleh suatu kekecewaan yang amat getir, aku nyaris menangis karena ternyata masih hidup." Aku pasti akan merasa bersalah kalau tidak kusebutkan buku apa yang kukutip dan siapa penulisnya. Itu Lapar-nya Knut Hamsun. Meski aku pernah membaca entah di mana--atau sekarang ini aku sengaja lupa--kalau penulis kelas teri meminjam, penulis kelas kakap mencuri.
     Jujur, tadi aku tersambar ilham dalam guyuran air tanah yang ditarik paksa ke permukaan. Apa ilham sedang bergesa-gesa? Apa dia merentangkan terus mengepak-ngepakkan sayapnya? Terbang entah ke mana? Dan hinggap di pundak orang lain, entah siapa? Ilham yang satu ini barangkali berhati lembut. Tak sekuku pun jejak cengkeramannya tertinggal di bagian mana pun di benak ini dia tadi bertengger. Susah payah kucari-cari, tak ketemu juga. Tidak pula peninggalan barang sepatah, dua patah kata perpisahan. Tak tahu adat ini ilham.

Ilham, oh ilham, ke mana gerangan engkau mendarat? Semoga nasibmu lebih baik dari MH370.
Salam, Setjoeil Asa.

27 Maret 2014, di bawah pengaruh "Lapar". Sungguh ingin kubakar saja buku ini, tapi maaf saja jika harus meminum abunya yang dicampur dengan air. Tidak! Tidak akan pernah! Ya, ya aku rasa aku tahu kenapa orang ini dapat Nobel. Iri? Siapa bilang aku iri? Bajingan mana yang tidak iri kalau membaca buku seperti ini...

Jumat, 07 Maret 2014

Si anak laki-laki bilang kalau dia lagi perang dengan pengedar candu. Aku tanya siapa?
Lebih tepatnya apa, katanya, koran adalah candu. Tajuk rencana: harus bisa berhenti baca itu tiap siang sehabis bangun tidur pagi.
Hari ini tajuk rencana cerita tentang betapa kaya dan dermawannya negara ini. Dia, negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini bagi-bagi 7 triliun (sial! berapa ya nolnya ya?) lebih buat orang-orang yang punya bank, apa itu namanya, entahlah, semua orang sudah lupa. Dua orang diantaranya bukan orang pribumi katanya.
Negara ini kasih duit sebegitu banyaknya (eh, triliun itu banyak, kan?) ke segelintir orang--yang entah siapa itu mereka--bisa, tapi kasih makan ke 21 juta rakyatnya yang perutnya keroncongan kok nggak mau ya? Apa duit yang digelontorkan buat itu harus lebih deras lagi?
Atau, atau sekolahkan saja 11 juta anak itu, biar melek aksara. Bagaimana negara? 7 triliun lagi buat itu tak masalah tentunya, kan?
Oh, atau lagi, bangun rusunawa saja lagi. Di tempat yang bukan semacam pinggir sungai atau pinggir rel kereta api atau pinggir kuburan atau pinggir jurang kematian...

setjoeil asa, tulisan yang masih harus banyak direvisi (bajingan, revisi: benci kata itu)
oh, lupa tentang si tukang cukur rambut yang pandai marketing, atau kasarnya susah tutup mulut...

Rabu, 26 Februari 2014

"Menjadi manusia justru berarti tanggung jawab, berarti merasa malu berhadapan dengan suatu kesengsaraan yang tampaknya tidak bergantung pada dirinya..." (Antoine de Saint-Exupery)

Pagi tadi si anak laki-laki membaca tajuk rencana surat kabar harian tentang bancakan suap migas. Dituliskan di situ besaran 200.000 dolar Amerika. Dibagi-bagi buat siapa saja, si anak laki-laki bilang malas mengingatnya. "Sebentar lagi semua orang juga sudah lupa," katanya, "siapa yang ingat Century?"
     Terus dia juga cerita jadi ingat tentang kekuasaan mutlak yang kembali ke pangkuan MK, yang beberapa hari atau pekan sebelumnya juga jadi tajuk rencana di koran yang sama. "Masa UU tentang batasan kekuasaan MK yang punya keuputusan mengesahkan MK. Ini seperti bocah laki-laki usia puber memutuskan berapa kali dia boleh masturbasi seminggunya."
     Sorenya di tv si anak laki-laki terlihat menonton seorang anak, yang harusnya sekolah menuntut ilmu, kerja keras membantu ibunya. Dia mengangkat kayu bakar (semoga bukan dari kebun perusahaan mana), dan menyiangi sawah (yang entah milik siapa). Oh, siapa bilang sudah tidak ada generasi muda yang mau jadi petani (kecuali terpaksa)?
     Ini semua, si anak laki-laki bercerita, dia ingat saat makan sore dengan menu: kecambah rebus, wortel rebus, kubis rebus, timun, tahu, telur rebus disiram saos kacang ditambah kerupuk ditemani susu kedelai. "Tanpa berkeringat aku bisa makan semua ini," katanya.