Tampilkan postingan dengan label ceritera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritera. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2017

The Story-teller, Saki (H. H. Munro). Diterjemahan ke Bahasa Indonesia dengan Sembarangan

Si Pendongeng*

Saat itu sore yang panas, dan di dalam gerbong kereta api tak kalah gerahnya, dan pemberhentian berikutnya adalah Templecombe, hampir satu jam lagi. Penumpang di gerbong itu terdiri dari seorang gadis kecil, dan seorang gadis yang lebih kecil, dan seorang bocah kecil. Bibi anak-anak itu mengisi salah satu pojokan tempat duduk, dan pojokan jauh tempat duduk seberangnya diisi oleh seorang sarjana muda yang adalah seorang asing bagi rombongan mereka, tapi si gadis kecil dan si bocah kecil betul-betul menduduki kompartemen. Baik si bibi maupun anak-anak itu bercakap dalam suatu batas, terus-menerus, mengingatkan pada salah satu sikap dari seekor lalat rumahan yang menolak untuk putus asa. Kebanyakan kata-kata si bibi agaknya dimulai dengan “Jangan,” dan nyaris semua kata-kata anak-anak itu dimulai dengan “Kenapa?” Si sarjana muda diam saja. “Jangan, Cyril, jangan,“ seru si bibi, waktu si bocah kecil mulai memukul-mukul bantalan tempat duduk, menyembulkan sehembus awan debu pada tiap pukulan.

Senin, 06 Maret 2017

KELONTONG



 Ada yang datang. Rizal hampir selalu mengartikan irama gesekan sandal dengan batako yang mendekat sebagai pembeli. Seringkali dia beralih dari bacaannya, hanya untuk mendapati irama itu lewat, terus memelan seiring langkah menjauh, sampai akhirnya hilang saat perhatiannya kembali ditelan bacaannya.

Jumat, 28 Oktober 2016

Beo dan Babi

Syahdan, hiduplah seekor beo. Beo yang dikenal sebagai pencerita ulung ini hidup bersama binatang-binatang lain di hutan, tepi sebuah desa manusia. Si beo pandai betul cerita tentang apa saja. Mulai humor, roman, horor, olahraga, hingga sesekali politik.
Suatu hari babi hutan bertanya, “Hai Beo, kenapa kamu tidak pernah bercerita soal agama atau tuhan. Bukankah di jaman edan ini kita butuh hal macam itu?”
“O, Babi kawanku yang baik, aneka binatang hidup berdampingan di hutan ini. Kita tak pernah tahu sepasang kuping siapa saja yang akan menangkap cerita yang keluar dari mulut kita. Tema agama mudah sekali menyulut emosi pendengarnya,” jawab si beo
“Tapi, cerita olahraga atau politik juga bisa menyulut emosi, kan?” potong babi.
“Yah, memang,” kata beo, “Biar aku kutipkan salah satu sajak penyair kondang jaman dulu, ‘bukan maksudku mau berbagi iman, iman adalah kesunyian masing-masing‘.”
Beberapa hari kemudian, si babi ditangkap manusia. Dia jadi suguhan istimewa di acara Lajar Tantjep. Pemutaran film arahan Tim Burton, Big Fish.

Sampai menjelang ajal, kutipan yang disuarakan beo masih terngiang-ngiang di benak babi. Barangkali di surga sana, Tuhan bakal kasih tahu babi kalau beo  mengutip Chairil, dan mengganti kata ‘nasib’ dengan ‘iman’.

Minggu, 23 Oktober 2016

Percakapan dengan Bakul Gorengan

Dia menyodorkan duit sepuluh ribu ke Pak Cowek. ”Opo iki?” tanya Pak Cowek.
     “Tahu, tempe, pisang, gembus.”
     Sore merekah. Setengah cerah. Langit disaput cercah-cercah awan yang mengalir diembus angin.
Empatupuluh lima menit lalu Pak Cowek mendorong gerobak gorengannya menyusur salah satu sisi jalan Gedongkuning Selatan. Gerobak renta yang setia. Hampir tiap jelang sore, sejak toko cat Wa-Wi-Wu di pojok perempatan Ketandan belum berdiri, Pak Cowek dan gerobak ajek menjejak keras aspal dan tak canggung melawan motor-mobil yang terus berbiak.
     Cekatan benar tangan kanan Pak Cowek menjumputi gorengan pakai capit, terus dilempar ke kresek putih di tangan kirinya. Mulutnya komat-kamit menghitung. Dirasa pesanan terpenuhi Pak Cowek mengulurkan ke pelanggan. “Gundul kui sopo?” tanya Pak Cowek sembari menunjuk kaos dia yang beli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi.
     “Wasit, Pak. Wasit Itali kae lho.”
     “Pesen kui?” terus Pak Cowek mencecarnya tanya.
     “Gawe dewe, Pak.”
     “O, ning ‘Matamu’ kono kui?” berkesimpulan akhirnya Pak Cowek, meski masih bernada tanya.
     Tersimpul senyum tipis di bibir dia yang membeli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi. Otak dia yang membeli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi mencerna percakapan dengan bakul gorengan tadi lewat aneka sudut pandang. Sebagian besar kelewat rumit, sulit dijabarkan. Satu pikiran yang cukup jelas dilihatnya: waktu orang bicara tentang kaos di Jogja, yang muncul pertama di pikiran mereka kebanyakan merek ‘Lambemu’.
     Pikiran kedua, yang satu ini terus saja ada sehabis dia beli gorengan. Rasa bersalah menggerogoti benak. Kelewat banyak tulisan-tulisan tentang kesehatan tanpa permisi menyerbunya. Dia hampir percaya seharusnya gerobak Pak Cowek ditempel stiker “Gorengan Membunuhmu”, ilustrasinya tengkorak Raisa.
     Selain itu dia selalu khawatir dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit. Minyak buat goreng kan dari kelapa sawit. Meski dia selalu memasang kuota tiap dia beli gorengan. Tak lebih dari sepuluh ribu, yakinnya. Dia sendiri kurang yakin itu berpengaruh banyak pada hutan hujan tropis yang dikebiri, terus jadi kebun monokultur. Dan orang Prancis yang menolong orang utan di borneo itu, sungguh baik. Entah kenapa pikiran itu sekonyong-konyong muncul. Apapun yang dilakukannya, dia terus saja merasa bersalah.
      Kulit gorengan ini bahannya terigu. Asalnya gandum. Alaminya gandum kurang suka wilayah geografis dengan curah hujan tinggi katanya. Jangan-jangan tempe sama tahu kedelainya juga bukan hasil tanam petani lokal. Terus plastik ini bakal cuma jadi bahan reklamasi pulau plastik di Pasifik sana. Bisa jadi.
     Mendingan, endorfin yang biasanya memang mengalir lancar waktu menggenjot sepeda tak ingkar janji. Jadi ada pengimbangnya itu si rasa bersalah jalang.

    Pada akhirnya, dia terus kepikiran merek kaos berlogo kuping yang dipikirnya masih merajai dunia perkaosan.

Rabu, 28 Mei 2014

Khay dan Naya



Ah, dia datang lagi. Kenapa dia membawa tas gunung segala? Tampak penuh pula. Pastilah isinya cerita-cerita demotivasi ala dia. Teman yang satu ini, bukan main semangatnya bila membawakan cerita-cerita macam itu.
Lagi-lagi, bukan salam atau pertanyaan tentang kabar yang pertama terlontar dari mulutnya. Dia bilang, baru saja dia bertemu dengan Khay. Temannya yang seekor kelinci.
Ya kan. Kali ini, ia bercerita tentang seekor kelinci. Khay si kelinci baru saja lari dan bersembunyi dari Naya, majikannya. Tapi sekarang, dia sudah tertangkap.
"Apa Naya jahat?" tanyaku.
"Sebaliknya," katanya.

Sabtu, 14 Desember 2013

Rusa Kecil yang Malang

"Menulislah saat insomnia menjamah."

Pada suatu waktu di sebuah pulau sekitar kutub yang memiliki sebuah gunung yang puncaknya, entah sejak kapan, tertutup salju tebal, hiduplah sekumpulan hewan semacam rusa kutub. Salah satunya, betina, sedang hamil tua. Tua sekali. Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa bukan rusanya yang tua, tapi hamilnya.
     Beberapa jam kemudian...
     Rusa betina yang belum terlalu tua dan sedang hamil tua itu melahirkan. Lahirlah ke dunia yang di ambang usianya ini seekor anak rusa yang tak berdosa. Jantan dan sudah pasti masih sangat muda. Rusa jantan muda ini tidak menangis begitu keluar dari rahim ibunya. Seluruh tubuhnya bersimbah darah.
     Celaka! Ada keanehan yang amat kasat mata. Di kepala si rusa kecil sudah tumbuh tanduk besar. Setiap rusa di kumpulan itu langsung menjauhinya. Mereka percaya itu adalah suatu kutuan kutukan. Lebih tragis, si ayahlah yang terlihat paling membencinya. Itu terlihat dari ikat kepala yang langsung dipakai si ayah rusa kecil. Ikat kepala bertuliskan. 'Aku bukan ayahmu'. Sungguh absurd dunia yang kita tinggali ini.
     Pembaca tidak boleh begitu saja menghakimi si ayah rusa kecil ini. Bahkan jika pembaca bernama Irf*n Hakim atau H*kim Irfan. Setelah penulis cermati, ada beberapa alasan kenapa kebencian si ayah memuncak sampai taraf yang sungguh mengerikan. Karena si rusa kecil sudah memiliki tanduk, saat si rusa kecil akan keluar dari rahim induknya, dia melukai induknya. Kerusakan yang ditimbulkannya pada saluran buang bayi induknya sungguh tidak dapat ditoleransi. Singkatnya si induk mati. Semoga arwahnya tenang di kehidupan selanjutnya.
     Alasan kedua kebencian ayah, ini sekedar prediksi penulis, adalah karena si ayah kehilangan kesempatan untuk membaca cerita menarik. Karena, patut diketahui, si induk ternyata adalah tokoh utama dalam cerita ini. Jadi cerita ini harus diakhiri sampai di sini.

Sungguh rusa kecil yang malang. Doaku selalu menyertai mereka yang termarjinalkan. Terima kasih Nikolai Gogol.
setjoeil asa

Sabtu, 05 Oktober 2013

Beruang dan Kucing

Pagi tadi Lars and Real Girl (2007) menjadi pengantar tidur. Ada satu scene yang sangat aku suka. Satu scene yang melahirkan ide ini:

     Ada gadis kecil, menangis di bangku pojok belakang ruang kelas taman kanak-kanak. Boneka beruangnya digantung oleh teman sekelasnya, anak laki-laki. Mereka bertengkar agak hebat. Jangan gambarkan pertengkaran ini seperti pertengkarannya Jackie Chen. Yang dinamakan bertengkar di sini adalah seperti adu mulut anak-anak biasa. Si anak laki-laki tak mau disalahkan. Dia bilang itu pembalasan. karena kemarin, si gadis cilik juga mengubur mainan singanya di bak pasir.
     Orang tua mereka dipanggil. Orang tua si anak laki-laki datang dan setelah tahu permasalahannya, dia mendekati si gadis cilik. Gadis cilik itu sudah mendingan tapi masih terlihat agak terisak. Dia dtemani dua temannya. Si bocah lelaki duduk di bangku di tentang mereka, sendirian. anak-anak lain bermain, menyebar di ruangan.
     "Kamu tahu kalau jaman dulu kucing lebih besar dari kucing yang sekarang ini. Tapi mereka masih kalah besar dengan beruang? Suatu hari kedua hewan ini pergi berburu. Beruang sudah kelaparan karena sudah lama tidak mendapat tangkapan. Tanpa sengaja mereka berdua bertemu. Karena sudah sangat kelaparan, Beruang hampir kehilangan kewarasan, dan dia pun menyerang Kucing dengan maksud sebagai santapan.
     "Kucing bukanlah hewan penakut. Dia melawan beruang. Tapi karena kalah besar akhirnya Kucing tumbang.
     "Namun, sesaat sebelum Beruang hendak memakan Kucing. Kucing terbangun dan melompat menghidar dari gigi-gigi tajam Beruang. Beruang kaget, dia bilang, 'kamu sudah mati, bagaimana bisa hidup lagi?'
     "'Apa kamu belum pernah dengar kalau kucing punya sembilan nyawa.?" Jawab Kucing.
     "'Kupikir itu hanya Mitos?'"
     "Apa itu Mitos?" Si gadis kecil bertanya. Saat itu ternyata hampir semua anak di kelas itu sudah duduk di depan orang tua si anak laki-laki untuk mendengarkan cerita itu. Mereka tampak sangat tertarik.
     "Hm, ... Mitos adalah cerita-cerita yang dipercayai oleh orang jaman dulu. Tapi seiring berjalannya waktu orang-orang jadi meragukan kebenaran cerita itu. Tapi toh, cerita itu nyata. Nyata, paling tidak, dalam bentuk ucapan atau lisan. Sampai di mana tadi?"
     "Kucing punya sembilan nyawa!" teriak beberapa anak serempak.
     "Ya, kucing punya sembilan nyawa. Tapi hampir semua kucing sudah lupa tinggal berapa nyawa mereka dan berapa nyawa yang sudah mereka pakai. Mereka tidak pandai matematika. Beruang lalu bilang kepada Kucing, 'beri Aku satu nyawamu.'
     "Kucing berkata, 'Buat apa? Apa untungnya buat Aku? Apa Kamu sudah lupa? Kamu tadi menyerangku.'
     "Lalu Beruang bilang, 'Kalau Kamu berikan Aku satu nyawamu, Aku tak akan menyerangmu lagi.'
     "Kucing setuju dan memberi Beruang satu nyawanya. Sejak saat itu beruang punya dua nyawa, dan beruang dan kucing berteman selamanya."

     Orang tua tadi lalu mempraktikkan pertolongan pertama pada boneka beruang si Gadis Cilik. Sama seperti yang dilakukan Lars dengan boneka beruang Margo. Dia tanya ke gadis cilik, "Siapa nama beruang ini?"
     "Lars."
     "Oh, dia sudah baikan. Tapi Kamu harus menjaganya baik-baik, karena ini nyawa terakhirnya. Oke?"

       Setjoeil Asa

Kamis, 06 Juni 2013

Gadis Penjaga Toko Buku

"Jadi," kata Orang Asing, "Tuhanmu masih bermain curang?"
"Kupikir Dia bisa saja lebih curang daripada ini."
     Mereka berdiri, hampir menginjak garis kuning. Lalu si Orang Asing masuk ke salah satu gerbong kereta. Dia duduk dan senyum tipis samar-samar tergambar diwajahnya. Dia memandang ke bawah, ke tiket kereta tertanggal 26 Januari 2012 yang dipegangnya.
     Di luar kereta, Gadis Penunggu Toko Buku berpaling dari pintu gerbong. Dia membuka buku yang tadi diberikan si Orang Asing. Pada halaman paling depan ada tiga tulisan. Di pojok kanan atas paraf dan tanggal, '19 Jan '12'. Di tengah halaman ada judul buku--dalam bahasa terjemahan. Sedikit ke bawah, ada tulisan diagonal, 'Tidak ada yang namanya kebetulan :)Apa kau percaya dengan pertanda-pertanda? hal. 170.'
     Dia membuka halaman itu. Dua alinea digarisbawahi, hampir dua alinea. Satu kalimat di alinea kedua tampaknya sengaja dilewati. Senyum yang sama terlihat lebih jelas di wajahnya.
     "Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang." ..., saat-saat paling gelap di malam hari adalah saat-saat menjelang fajar.

***

      Dia berdiri, diapit oleh dua rak. Rak itu sedikit lebih tinggi dari dia, 180 cm mungkin. Entah terbuat dari kayu apa. Semua bagiannya dipernis. Sungguh tak ada yang istimewa dari keduanya. Tetapi deretan buku yang terpajang di bagian paling atas rak--tepat di mana dia menatap--selama hampir tujuh menit terakhir ini telah menangkap pandangannya.
     "uh.., jadi, yang ini ya...," pikirnya. Tangannya hampir meraih buku bercover warna dominasi merah marun gradasi hijau pudar.
    "Kalau seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya bahu-membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya."
      
Januari 2012
slim

Rabu, 16 Mei 2012

Si Penangkap Sinar

     Dia berjalan lewat jalan setapak itu. Di kanan-kirinya dibatasi oleh rerumputan, setinggi kira-kira dua kali mata kaki orang dewasa. Di tengahnya juga ditumbuhi rumput, tingginya sekitar setengah dari yang ada di pinggir. Di antara warna hijau rumput, dua baris warna coklat tua khas tanah di bawah bayangan pepohonan. Kedua warna itu berpadu dan menjulur ke ujung jalan, tempat sebuah rumah dari kayu berdiri.

***

      "Kau tahu," katanya kepada keponakannya sambil menoleh ke kakaknya--ayah si anak-- yang duduk, membaca koran di sisi lain beranda, "ayahmu dulu dipanggil Si Penangkap Sinar."

     Ayah si anak tidak menoleh, masih membaca, pura-pura tidak dengar.

     "Si Penangkap Sinar?"

     "Ya. Kau mau tahu ceritanya?"

     "Iya, cerita Paman."

     "Suatu hari waktu kami--aku dan ayahmu--masih kecil--tapi lebih tua darimu yang sekarang ini--ayahmu mendatangi ayah..., hmm, dari ayahmu dan aku.'

     "Kakek," timpal orang yang duduk di sisi lain beranda, tanpa menoleh.

     "Ya, kakek," dia bilang, "Tepat di mana kita duduk saat ini." Dia melanjutkan cerita. Dia menunjuk ke berkas sinar matahari yang tembus melalui celah-celah antar ranting-ranting pohon. Dia bilang ke anak itu ayahnya dulu meletakkan telapak tangannya di bawah berkas sinar itu. Dia menyuruh ayahnya meletakkan telapak tangan di berkas lain dan menggenggamnya. Sinar yang tadi ada di telapak tangan berpindah ke jari-jarinya yang menggenggam. Lalu dia meminta ayahnya melihat ke telapak tangannya dan jangan berpaling. Pelan-pelan dia mengepalkan jari-jarinya. Saat jarinya menyenruh sinar berbentuk bulat di telapak tangannya, sinar itu tidak berpindah ke jarinya, tapi menghilang, lenyap seperti tertelan jemarinya.

     "Seperti ini," katanya pada anak itu. Dia melakukan persis seperti ayah si anak ini melakukannya dulu. Menyuruh si anak meletakkan telapak tangan di bawah berkas sinar. Saat si anak menggenggamnya--berusaha menggenggamnya--bulatan sinar itu berpindah ke atas jemarinya yang menngenggam. Tapi saat pamannya yang melakukkannya berkas sinar itu berhasil digenggamnya, seperti gerhana bulan total.

     "Wah, sulap," kata si anak, "Kasih tahu rahasianya paman."

     "Yah, seperti yang kamu bilang, sulap. Kalau triknya ketahuan, sudah nggak asyik lagi."

     "Rahasianya bukan pada tangan yang menggenggam Nak." kata orang yang sedang membaca koran.

Sabtu, 21 Januari 2012

Ikan Bandeng dan Ikan Salmon

     Imlek identik dengan dengan tiga hal; kue keranjang, jeruk dan ikan Bandeng. Katanya ikan dalam falsafah Cina melambangkan kekayaan, kebahagiaan dan keberuntungan.
     Bentar-bentar, gimana ceritanya ikan bisa dibilang beruntung? Contohnya Salmon. Salmon mau ngeluarin telor aja harus nglawan arus sungai, ke hilir, naik gunung (mungkin anak Mapala harus ganti lambang UKM pake gambar Salmon kali ya). Belum lagi di tengah jalan, eh, maksudnya ditengah sungai, eh..., yang bener ditengah perjalanan melewati sungai, Salmon masih harus bertemu dengan banyak predator (setelah dipikir-pikir mendingan anak Mapala gak usah ganti logo UKM pake gambar Salmon. Ntar malah dimakan beruang Grizzly waktu naek Merbabu).
     Tapi yang diidentikan dengan Imlek sebenarnya bukan Salmon tapi Bandeng. Meski kayaknya nasib Bandeng juga nggak lebih beruntung dari Salmon. Malahan lebih sial.
     Kalo Salmon, misalnya, dimakan beruang durinya masih disisain. Nah coba kalo Bandeng, dipresto trus dimakan. Nggak perlu beruang, kakek-kakek jomblo umur 80 taon makan ntu Bandeng juga kagak bakalan sisa.
     Tapi bagaimanapun setiap bangsa punya falsafah masing-masing. Perbedaan ada untuk saling dimengerti.
     Ada lagi falsafah aneh tentang ikan. Kali ini bentuknya pantun. Ntah bangsa mana yang suka maen pantun.
     "Ikan Sepat Ikan Gabus, lebih cepat lebih bagus." Lha gimana mau Sepat cepet-cepet kawin sama ikan Gabus, bagusnya sebelah mana coba. Tapi kalo didengerin lebih seksama tuh pantun gak ada bagian yang nyebutin soal 'kawin'. Yah, mungkin yang nulis aja yang lagi kepikiran soal kawin. Ah, malah bahas kawin deh. Udah soal kawin selesaiin sendiri di rumah masing-masing.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Melihat Dunia dari Lubang Kunci Pintu Kamar Sendiri

     Dia bilang bukan masalah yang membuat sengsara. Cara pandang yang membuatnya.
     Iya, dia yang selama ini bicara di dalam kepala. Dia mendengarnya dari seekor kelinci yang bijak. Katanya, saat ini kelinci itu sedang bersembunyi dari majikannya.
     "Apa majikannya jahat?"
     "Sebaliknya," katanya.
***


Senin, 01 Agustus 2011

introvert

"Mau kemana?" Suara itu datang dari ruangan sebelah. Selang tiga detik seorang pria paruh baya keluar lewat pintu ruangan itu.
"uhuk.., uhuk...." Entah batuk itu dibuat-buat atau tidak, tapi muka pemuda itu memang terlihat pucat.
     Tanpa memandang pria yang bertanya padanya ia mengeluarkan motor dari garasi. Saat melewati pintu garasi ia kembali terbatuk. Si pria paruh baya mendengar suara motor menjauh dan kembali masuk ke ruangan tadi. Dia duduk di sofa tua, terlihat sangat tua, mungkin umurnya lebih tua dari pemuda yang barusan pergi.
     Dia mengambil kipas dari meja di depannya. Sebuah cinderamata dari pernikahan anak perempuan teman sepekerjaannya. Direbahkan tubuhnya di sofa tadi. Perutnya yang mulai buncit terlihat menyembul keluar dari badannya.

***


Jumat, 15 Juli 2011

Ada Cerita

A: "Koe ngopo e B kok nyunyuk-nyunyuk pager?"
B: "Iki lho, ket mau aku sms ra iso-iso. Jarene operator kon tekan pager."
A: "Wahaha... Lha arep mbok nyunyuki yo ra bakal iso."
B: "Lha iyo tho, ngasi jempolku ngapal kok yo ra iso tho?"
A: "Jik mbending B, lha aku malah kon tekan bintang."

disadur dari tulisan tangan mbak na...

Minggu, 05 Juni 2011

Kenek Bis Kota

Suatu ketika di dalam sebuah bis kota terjadi pembicaraan dengan topik yang cukup tidak menyegarkan untuk dibahas antara kenek bis dengan penumpang… (ambil napas dulu gan…) Saat itu bis kota belok ke kanan…

Penumpang: “Mas Kenek bis ini tadi kan beloknya ke kanan kok panjenengan ngeplang nya ke kiri…?” (Dengan nada yang sepertinya pura-pura bingung)

berselang beberapa detik…, dengan muka yang sepertinya pura-pura berpikir Si Kenek menjawab, “Saya kan kidal mas Penumpang…”

Harta Tak Dibawa Mati

Suatu percakapan yang tidak biasa. Terjadi antara dua sahabat,

Supri: “itulah yang kutakutkan, Jo…”

Paijo: “takut apaan Sup…?”

Supri:” Aku takut Jo. kalo nanti ibuku mati, di nisannya nama ibu cuma ditulis huruf T dan I.”

Jumat, 02 Oktober 2009

la independencia

Untuk gadis yang selalu menunggu cerita… dan untuk kemerdekaan kita
Kain bewarna merah dan putih itu berkibar di tiang berujung runcing berlumur darah.”Merdeka … Merdeka … (10x… 10x10… 10x2 = 20).” Teriakkan yang menggelegar memecahkan keheningan, kaca rumah bahkan memecahkan banyak masalah, terdengar dari mulut seorang pemuda, tampan parasnya, gagah orangnya, baik hati juga tidak sombong, sayang dia… panuan. Kriiing …!!! …!!! …!!! … !!! … !!! … (uwis titik2e ngentek2e kertas). Benda bulat berduabelas angka dengan 3 djarum telah membuatku terbangun dari mimpi indah, walau tak seindah mimpi yang membuatku dewasa. (mau ngomong mimpi basah kok kayaknya tabu bangetz ya …)

girlz story

(Kali ini benar-benar untuk gadis itu…)
Juli 2007
Seorang gadis masuk ke sebuah ruangan. Di dalam telah berjejer 4 orang dewasa, menghadap ke depan dan di seberang pintu masuk perempuan duduk menghadap meja penuh kertas berharga. Di depan 4 orang dewasa berserakan kertas di atas meja kayu yang sudah agak rapuh dimakan usia (pasti kenyang tuh usia, satu porsi meja di makan sendiri…). Kertas itu berisi nama-nama, termasuk nama gadis itu. Dibiarkan bebas berkeliaran tak beraturan.