Tampilkan postingan dengan label kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutipan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Januari 2018

Not One Less (1999)


Orang miskin mah bebas mau minggat dari kelas kapan saja buat cari duit ke kota, seperti orang kaya bebas menghambur-hamburkan duit cuma buat meronce gelar-gelar akademis di belakang namanya seular-naga panjangya.

"Kemiskinan," kata Orwell, "membebaskan mereka dari standar-standar perilaku yang lumrah, sebagaimana uang membebaskan orang dari bekerja."

Bahkan bu guru Wei yang punya gaya mengajar cukup radikal untuk ukuran ruang-waktu sosial-kulturalnya cuma sampai pada jawaban "lantaran miskin," kaitannya dengan pertanyaan "kenapa Zhang keluar sekolah." Dan tak sanggup menggali lebih dalam guna menemu pertanyaan "kenapa Zhang begitu miskinnya sampai-sampai musti keluar sekolah untuk bekerja di kota."

Tapi kalau masuk sekolah entar malah dimarahi sama Ivan Freire, dibilangi: "Buat apa pula jadi konsumen produk-produk pendidikan .... kalau pada akhirnya ... sehabis beroleh selembar sertipikat .... yang mengabsahkan seseorang sudah mencerna segala sajian kurikulum itu ... bla bla bla... bla bla bla... (((gaung))) (((gaung))) ....

Ah, apalah daya manusia. Ada yang bilang kalau kita ini cuma "kelap-kelip yang menari-nari dalam mimpi tak berujung seekor babi guling."

Senin, 17 Juli 2017

Seorang Kawan

“Hingga kini para filsuf cuma menafsir dunia lewat beragam cara. Pokok sebetulnya malah belum tersentuh, yakni mengubahnya.” Kawan satu ini getol betul main-kutip sana sini.

“Tapi,” lanjutnya, “perubahan datang beriringan dengan tetesan darah.” Ah, ini lagi.

“Pembebasan. Perubahan revolusioner. Dunia ideal. Betapa hasrat ke sana begitu besar. Hingga kesenangan-kesenangan  diri serasa mengganggu saja.” Kadang dia memang bisa lumayan keras.

“Kebanyakan dari apa yang disebut kesenangan cuma usaha untuk menghancurkan kesadaran.” Sering aku heran, apa dia masih waras.

“Nikah itu penemuan kaum borjuis.” Kali ini aku yakin, itu cuma rasionalisasinya, akibat seperempat abad lebih belum pernah pacaran. Lagi pula apa nikah termasuk kesenangan?

Selalu saja ngomong lewat mulut orang lain. “Persetan sama hak cipta atau hak milik. Semuanya milik Sang Pencipta.” Aku ingin bertanya siapa itu Sang Pencipta, tapi urung. Soalnya hal semacam ini tak kunjung rampung diperdebatkan.

Jumat, 28 Oktober 2016

Beo dan Babi

Syahdan, hiduplah seekor beo. Beo yang dikenal sebagai pencerita ulung ini hidup bersama binatang-binatang lain di hutan, tepi sebuah desa manusia. Si beo pandai betul cerita tentang apa saja. Mulai humor, roman, horor, olahraga, hingga sesekali politik.
Suatu hari babi hutan bertanya, “Hai Beo, kenapa kamu tidak pernah bercerita soal agama atau tuhan. Bukankah di jaman edan ini kita butuh hal macam itu?”
“O, Babi kawanku yang baik, aneka binatang hidup berdampingan di hutan ini. Kita tak pernah tahu sepasang kuping siapa saja yang akan menangkap cerita yang keluar dari mulut kita. Tema agama mudah sekali menyulut emosi pendengarnya,” jawab si beo
“Tapi, cerita olahraga atau politik juga bisa menyulut emosi, kan?” potong babi.
“Yah, memang,” kata beo, “Biar aku kutipkan salah satu sajak penyair kondang jaman dulu, ‘bukan maksudku mau berbagi iman, iman adalah kesunyian masing-masing‘.”
Beberapa hari kemudian, si babi ditangkap manusia. Dia jadi suguhan istimewa di acara Lajar Tantjep. Pemutaran film arahan Tim Burton, Big Fish.

Sampai menjelang ajal, kutipan yang disuarakan beo masih terngiang-ngiang di benak babi. Barangkali di surga sana, Tuhan bakal kasih tahu babi kalau beo  mengutip Chairil, dan mengganti kata ‘nasib’ dengan ‘iman’.

Jumat, 28 November 2014

'Sedikit' Kutipan dari Ketika Hidup Bercahaya karya Serdar Ozkan

"Dalam diri manusia itu juga ada berbagai perang yang tak kunjung usai serta kerinduan panjang akan kedamaian." (hal. 7)
"Sebenarnya, Tuhan-lah yang mengerjakan semuanya. Tapi Tuhan menyisakan sebagian tugas pada hamba-hamba-Nya yang mereka pikir mereka kerjakan sendiri."(hal. 8)
"Segala sesuatu di dunia ini akan lenyap. itulah sebabnya hidup tidak bermakna. Jadi mengakhiri hidup pastilah tindakan yang bermakna, pikirku." (Omer, hal. 11)
"Jadi, jika aku bisa meredam suara dalam diriku, aku akan mati dengan tenang." (hal. 12)

Minggu, 05 Oktober 2014

Rubaiyat Rumi


karena tidak ada ruang bagi yang percaya maupun yang ingkar 

***
jika kau bulan di langit, jatuhkan diri di antara debu jalanan
bersamalah dengan yang muda dan tua, yang baik dan jahat

***

pernah dengar namaku di seantero bumi?
aku bukan apa-apa
aku bukan apa-apa 

***

aku berjuang keras
tapi nasib terus membisik
"ada banyak hal di luar kekuasaanmu"

Jumat, 03 Oktober 2014

Jumat, 12 September 2014

Kutipan dari 'Optimisme di Tengah Tragedi' Karya Victor E. Frankl

"ET LUX IN TENEBRIS LUCET."
"JIka seseorang bertanya kepada kami kebenaran teori Dostoyevski yang secara tegas menyatakan bahwa manusia bisa terbiasa dengan kondisi apapun, maka kami akan menjawab, "Benar manusia memang bisa membiasakan diri dengan kondisi apapun, tetapi jangan meminta kami menjelaskannya." (48)
Di bukunya Dostoyevski yang mana ya?
"Saya kira Lessing-lah yang pernah berkata, 'Ada hal-hal yang membuat kamu kehilangan akal sehat, atau kamu sama sekali tidak punya akal sehat yang bisa hilang.'" (51)
Kurasa keduanya benar...
"... penderitaan hadir di mana-mana. Penderitaan manusia bisa dianalogikan denga perilaku gas. Jika sejumlah gas dipompakan ke dalam sebuah ruangan kosong yang tertutup, gas tersebut akan mengisi ruangan secara merata, berapa pun besarnya ruangan tersebut. Begitu pula penderitaan; dia akan mengisi seluruh jiwa dan pikiran sadar manusia, tanpa peduli besar atau kecilnya penderitaan tersebut. Karena itu "ukuran" dari penderitaan manusia sangat relatif." (85)
Maaf Patkay, bukan hanya cinta yang penderitaan tanpa akhir. Malangnya cinta cuma bagian dari hidup...
"Lalu, bagaimana dengan kebebasan manusia? Benarkah tidak ada kebebasan spiritual dalam perilaku dan dalam bereaksi dalam lingkungan tertentu? Benarkah teori yang mengatakan bahwa manusia hanya sekadar produk dari berbagai kondisi dan faktor lingkungan--baik yang bersifat biologis, psikologis atau sosiologis?" (114-115)
Beri aku jawabannya Dr. Frankl...!

Jumat, 22 Agustus 2014

Kutipan dari 1984 karya George Orwell

"Masa depan bisa mirip masa kini, dan kalau begitu maka masa depan juga tidak akan mau mendengarkannya; atau dapat pula masa depan berbeda dengan masa kini, dan kesulitan yang sekarang dialaminya akan tak berarti." (9)
"Yang harus dilakukan hanyalah memindahkan ke kertas, monolog kegelisahan tanpa putus yang sudah berkecamuk di kepalanya selama, secara harfiah, bertahun-tahun. Tetapi, tepat saat ini monolog itu pun menguap, kering begitu saja." (10)
"Mengelakkan perasaan-perasaanmu, menguasai tarikan wajahmu, melakukan apa yang sedang dilakukan semua orang lain, adalah reaksi naluriah." (20)
"Bukan dengan menjadikan dirimu terdengar, melainkan dengan menjaga kewarasanmu sendirilah engkau mengemban pusaka warisan kemanusiaan." (33)

Jumat, 08 Agustus 2014

Seikat Kutipan dari A Farewell to Arms karya Ernest Hemingway

"Lalu aku menjelaskan bagaimana kita tidak selalu dapat menjalan kan semua hal yang telah kita rencanakan." (20)

"Entahlah, ... Tidak semua hal selalu memiliki penjelasan."
"Oh, benarkah itu? Sejak kecil aku dididik dengan pemikiran sebaliknya." (25)

"Aku suka kenikmatan yang lebih sederhana." (Rinaldi, 50)

"Tidak mungkin menjadi lebih buruk, ... Tidak ada yang lebih buruk daripada perang." (Passini, 58)
"Tidak akan berakhir. Tidak ada istilah berakhir untuk sebuah perang." (Passini, 59)
"Perang tidak dikalahkan dengan kemenangan. ..." (Masih Passini, 59)
"Kami berpikir. Kami membaca. Kami bukan sekadar petani. Kami adalah sekumpulan montir-montir. Bahkan petani pun tidak mau tunduk pada perang. Semua orang benci peperangan." (Lagi-lagi Passini, 59)
Kalau semua orang benci perang, Passini, kenapa perang masih saja berkecamuk?

Senin, 14 Juli 2014

Secuil Kutipan dari Malam karya Elie Wiesel

"Hidup? Aku tidak lagi merasa hidup itu ada sesuatu kegunaannya." (Mosye si Pelayan Gereja, 9)
Yah, kalau aku sibuk memikirkan alasan kenapa aku hidup, aku akan kehabisan waktu untuk menjalani hidup...
"Ide mati, tidak ada, mulai mempesonaku." (132)
"Alangkah baiknya bila aku dapat mati sekarang juga!" (115) 
***
"Aku bukannya menyangkal adanya Tuhan, tetapi aku ragukan keadilan mutlak-Nya." (68)
"Di mana Tuhan? Tuhan ada di sini--dibunuh di tiang gantungan..." (99)
Yah, ini memang topik yang agak sensitif. Barangkali bisa dikonsultasikan dengan Nietzsche. Atau sebaiknya sudahi saja sampai sini. Tapi aku ragu dengan pilihan terakhir, mengingat buku ini... dan anak kecil di tiang gantungan itu... dan bayi-bayi yang dilempar dan dijadikan sasaran tembak... dan tungku, asap, lidah api itu... dan... ini adalah saat manusia berhenti menjadi manusia...

"... Akulah penggugat, Tuhan yang digugat. Mataku terbuka dan aku seorang diri--sangat sendiri dalam suatu dunia tanpa Tuhan dan tanpa manusia. Tanpa kasih sayang atau belas kasihan. Aku sudah bukan apa-apa lagi, cuma abu, ... Aku berdiri di tengah-tengah umat yang berdoa itu, mengamatinya bagaikan seorang asing." (103)
***
 "Lonceng. Sudah tiba saatnya berpisah, pergi tidur. Aku benci lonceng. Segala sesuatu ditentukan olehnya. Lonceng itu memberi perintah padaku, dan aku secara otomatis menurutinya. Bilamana aku bermimpi tentang dunia yang lebih baik, aku hanya dapat membayangkan suatu alam semesta tanpa lonceng." (111)
"Tetapi manusia cepat membiasakan diri dengan segala hal." (118)
Jadi, manusia sudah terbiasa saling lempar roket...
"Ketidakpedulian mematikan semangat." (150)
***
"Suatu hari, ketika kami berhenti, seorang pekerja mengambil sepotong roti dari tasnya, dan melemparkannya ke dalam gerbong. Terjadilah huru-hara. Puluhan orang kelaparan bertempur mati-matian untuk memperoleh beberapa remah roti. Pekerja-pekerja Jerman itu sangat tertarik pada adegan itu." (153)
Sama seperti saat seseorang melempar secuil roti ke kolam berisi puluhan ikan nila... harusnya orang itu meminta maaf ke nila-nila itu, kan?
Terus tentang gadis Perancis yang Elie temui, dan apa yang selanjutnya terjadi di gerbong itu...

***
Oh, Elie. Barangkali banyak yang percaya, mukjizatlah yang menolongmu melewati sekleksi demi seleksi keji itu, dan bertahan hidup untuk menulis memoar ini. Dan mukjizat berasal dari sesuatu yang lebih kuasa dari pada manusia. Seperti halnya dalam prakata yang percaya dengan campur tangan ilahi dalam tragedi hidupmu, dan itu makin meyakinkannya akan keberadaan Tuhan...
Kontras. Kamu menganggap Tuhan memalingkan wajah, pura-pura mati, bahkan memang sudah digantung. Dan siapa yang bisa menyalahkan anak lima belas tahun yang mempertanyakan kerahiman dan keadilan Tuhan setelah menonton semua tragedi itu...
 "ARBEIT MACHT FREI"
"akhirnya aku bebas" (172)
nb: tapi bukan bekerja yang membuatku bebas...

Jumat, 04 Juli 2014

Secuil Kutipan dari The Yearling Karya Majorie Kinnan Rawlings

 Bisa jadi ini adalah sebuah penegasan dari apa yang dikatakan Quentin Compson di sini, beberapa waktu yang lalu.
"Kau bisa menjinakkan apapun, Nak, kecuali lidah manusia." (Penny Baxter, 102)
 Bicara soal lidah, bagaimana dengan ungkapan 'lidah kadang bisa lebih tajam dari silet'? Kalau begitu aku jilati saja pergelangan tanganku.
 "Kata-kata memulai pertikaian dan kata-kata pula yang mengakhirinya." (222)
***

Yang berikut ini lepas konteks dari yang sebelumnya. Sekadar kutipan yang menarik alam bawah sadar.
Eh, barangkali ini masih sedikit ada hubungan dengan politik, atau politikus yang kian hari kian 'pintar'.
"Kau makin licin seperti jalan tanah di tengah hujan." (Ma Baxter, 20)
Juga gambaran bagaimana kalau mereka tertangkap tergoda hal yang seharusnya mereka hindari.
"... merasa seperti anjing penangkap burung yang tertangkap basah sewaktu sedang mengejar tikus ladang." (15-16)

Rabu, 25 Juni 2014

Seikat kutipan dari Haji Murad Karya Leo Tolstoy

"Tali yang bagus adalah tali panjang, obrolan yang bagus adalah obrolan singkat." (Haji Murad, hal 16)

"Omong-omong, ... apa kau pernah merasa sedih?
"Aku kadang-kadang merasa sedih, sangat sedih, sehingga aku tidak tahu apa yang akan kulakukan." (Avdeev si tentara ceria, hal 26)

"Tidak seorang pun melihat saat terpenting dalam hidup dalam kematian itu--akhir kehidupan dan kembali ke pangkuan sang pencipta--tetapi hanya melihat keberanian perwira gagah berani yang menyerbu orang gunung  dengan pedangnya dan dengan cekatan membunuhi meraka." (hal, 49)

"Namun otak seorang wanita sama banyaknya dengan rambut pada sebutir telur." (Haji Murad, hal. 104-105)
Entah kenapa, maaf, saya kurang sepaham dengan Haji Murad kali ini. Dan entah kenapa, saya sendiri selalu merasa inferior di hadapan wanita, siapapun dan dari golongan apapun dia, terutamanya anak-anak, karena anak-anak dipenuhi pertanyaan dengan jawaban yang bahkan Einstein saja akan berkeringat di jidat dibuatnya (eh, kenapa melantur sampai di sini. Rasa-rasanya anak-anak, baik laki-laki atau juga perempuan tak ada yang saling mengalahkan dalam hal rasa ingin tahu. Mereka semua sama-sama juara). Kembali pada soal wanita, dan wanita adalah pencuri sandal, maaf, handal. Pencuri secuil hati dan sebilah iga kekasihnya, pencuri uang suaminya, pencuri pandang lelaki mana saja yang lewat, dan semacamnya. Tapi menjadi wanita merupakan anugerah tersendiri, karena karir paling hebat hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki puting susu dan vagina--yang dimaksud di sini bawaan lahir, karena sekarang tidak sedikit yang berani mereka-reka diri mereka, melubangi bagian menonjol, dan menonjolkan bagian yang rata: menjadi ibu rumah tangga. Tapi ingat-ingatlah pesan pemerintah--salah satu yang baik diantara sekian yang mengerikan--dua anak cukup. Ah, kalau tulisan ini diteruskan pasti akan melantur lagi entah sampai dimensi mana, karenanya ada baiknya tulisan ini disudahi saja, mengingat judul tulisan ini...
Semoga semangat dan kesempatan masih terus ada sampai kutipan selanjutnya. Sampai jumpa...

"Nicholas meyakini bahwa semua orang pernah mencuri. Dia tahu para pejabat komisaris itu harus dihukum dan memutuskan untuk mengirimkan mereka sebagai tentara biasa, tetapi juga tahu bahwa itu tidak akan mencegah orang-orang yang mengisi jabatan yang kosong itu dari melakukan hal yang sama. Sudah menjadi sifat para perwira suka mencuri dan sudah menjadi tugasnya menghukum mereka. Dan, walaupun muak dengan semua itu, dia dengan cermat melaksanakan tugasnya." (142-143)
Kali ini sudah pasti tak ada nada sumbang penolakan...

"Bukanlah kebencian, tetapi penolakan mengakui anjing-anjing Rusia ini sebagai manusia, rasa benci, jijik, dan bingung atas kekejaman tidak masuk akal makhluk ini, tentang keinginan untuk menyingkirkan mereka, seperti keinginan untuk menyingkirkan tikus, laba-laba beracun dan, serigala, sama alaminya dengan naluri mempertahankan diri." (163)

Sepertinya perang antar manusia di daerah Soviet atau bekasnya atau apalah namanya sudah berlangsung lama dan kecenderungannya mungkin akan tetap seperti itu dalam waktu yang lama di masa yang akan datang.
Seperti, melihat sekilas Malam-nya Elie Wiesel, sekarang Yahudi menyerang Palestina, dulu Nazi dikabarkan ingin membabat habis mereka, dan lebih dulu lagi tentang sejarah Diaspora Besar.
Mungkin manusia memang pada kodratnya misantropis. Ya, setiap manusia, rasa bencilah bahan utama dari penciptaan tiap selnya.

"Kami memiliki sebuah pepatah. Anjing menyajikan daging kepada keledai, keledai menyajikan jerami kepada anjing--dan keduanya kelaparan. Semuanya merasa nyaman dengan kebiasaannya masing-masing." (Haji Murad, hal. 187)

Oh, dan bagaimana dengan pepatah, 'di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung'? Nah, yah, semuanya cuma soal selera, ya kan?

 "Seorang pria bukanlah sebuah pasukan." (Jendral Kozlovsky, hal. 196)

Barangkali dalam bahasanya si Pejalan Udara, 'bakat memenangkan permainan, tapi kerjasama tim dan kecerdasan memenangkan kejuaraan'.

Selasa, 22 April 2014

Sekumpulan Kutipan dari Gunung Kelima-nya Paulo Coelho

"Tuhan adalah tuhan. Tidak dikatakan-Nya pada Musa, apakah Dia baik atau jahat. Dia hanya mengatakan: Aku adalah aku. Dia menyatakan diri-Nya dalam segala sesuatu yang ada di bawah matahari--dalam pertir yang menyambar merusak rumah, dan dalam tangan manusia yang membangunnya kembali.'' (hal. 15)

"Tuhan maha kuasa. Kalau Dia membatasi diri-Nya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik, Dia tidak bisa disebut Maha Kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian dari alam semesta, dan ada orang lain yang  lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakannya. Kalau demikian halnya, aku memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu." (hal,17)

"... dia sudah menemukan bahwa, hampir sepanjang masa hidupnya, manusia tidak berkuasa membuat keputusan." (hal. 36)

Sedang Memuat...



Kamis, 27 Maret 2014

Ilham Dermawan

Maaf, aku tidak akan menyumbangkan satu pun buku-bukuku--yang kurasa adalah harta duniawi paling berhargaku. Yah, aku memang bukan dermawan, dan tidak pernah merasa demikian. juga diri ini tidak pernah merasa lebih baik dari pada siapa pun jua. Tidak pada mereka yang meminjam barang orang lain tanpa izin karena desakan dan seruan perut mereka yang memekakkan telinga mereka sendiri akibat kosong selama hampir tiga hari penuh. Tidak juga pada mereka yang memampang foto wajah ramah-semringah di pohon-pohon atau tiang-tiang listrik pinggir jalan. Tapi entah pada mereka yang mengambil yang bukan haknya karena belum merasa puas dengan yang mereka miliki.
     Jangan. Jangan panggil aku eksistensialis. Tapi aku memang tertarik dengan kebebasan individu yang hanya dibatasi oleh kebebasan individu lain. Sayangnya dalam hal ini kebebasan spesies lain tidak diacuhkan.
     Oh, kenapa juga tadi aku menyinggung soal buku-buku. Apa gunanya membaca buku. Apa dengan itu hidup ini lebih layak dijalani? Barusan aku baca buku. Di dalamnya ada kalimat menarik. Akan kukutip, "... tetapi segera perasaan itu diganti oleh suatu kekecewaan yang amat getir, aku nyaris menangis karena ternyata masih hidup." Aku pasti akan merasa bersalah kalau tidak kusebutkan buku apa yang kukutip dan siapa penulisnya. Itu Lapar-nya Knut Hamsun. Meski aku pernah membaca entah di mana--atau sekarang ini aku sengaja lupa--kalau penulis kelas teri meminjam, penulis kelas kakap mencuri.
     Jujur, tadi aku tersambar ilham dalam guyuran air tanah yang ditarik paksa ke permukaan. Apa ilham sedang bergesa-gesa? Apa dia merentangkan terus mengepak-ngepakkan sayapnya? Terbang entah ke mana? Dan hinggap di pundak orang lain, entah siapa? Ilham yang satu ini barangkali berhati lembut. Tak sekuku pun jejak cengkeramannya tertinggal di bagian mana pun di benak ini dia tadi bertengger. Susah payah kucari-cari, tak ketemu juga. Tidak pula peninggalan barang sepatah, dua patah kata perpisahan. Tak tahu adat ini ilham.

Ilham, oh ilham, ke mana gerangan engkau mendarat? Semoga nasibmu lebih baik dari MH370.
Salam, Setjoeil Asa.

27 Maret 2014, di bawah pengaruh "Lapar". Sungguh ingin kubakar saja buku ini, tapi maaf saja jika harus meminum abunya yang dicampur dengan air. Tidak! Tidak akan pernah! Ya, ya aku rasa aku tahu kenapa orang ini dapat Nobel. Iri? Siapa bilang aku iri? Bajingan mana yang tidak iri kalau membaca buku seperti ini...

Senin, 24 Februari 2014

Sekumpulan kutipan dari Bumi Manusia-nya Antoine de Saint-Exupery

Dalam buku berisi cerita dan renungan ini, Saint-Exupery melukiskan "bumi manusia" dilihat dari udara: betapa kerdilnya manusia di tengah kemahaluasan bumi, betapa agungnya manusia karena dialah yang memberikan arti kepada bumi. (sampul belakang)

"Bumi mengajarkan kepada kita tentang diri kita jauh lebih banyak daripada semua buku di dunia ini, karena ia menantang kita. Manusia menemukan dirinya manakala ia harus mengukur kekuatannya sendiri ketika menghadapi suatu hambatan." (hal. 9)

"Dan aku sudah menduga bahwa suatu tontonan tidak akan bermakna kecuali melalui suatu budaya, suatu peradaban, suatu usaha. Orang gunung tahu juga tentang lautan awan. Namun, di situ mereka tidak menemukan tirai yang luar biasa indah itu." (hal. 14)

"Demikianlah kami mengangkat detail-detail dari nasib mereka yang terlupakan, dari pengucilan mereka yang tak masuk akal, yang luput dari perhatian para pakar geografi di dunia." (hal. 16)

"Aku sempat pula mendengar curahan hati yang diucapkan dengan suara perlahan. Isinya tentang penyakit, uang, masalah rumah tangga yang menyedihkan, yang menunjukkan dinding-dinding penjara kusam tempat manusia terkurung." (hal. 23)

Rabu, 11 Desember 2013

Garis Teisme

"Dia itu agnostik cenderung ateis."
"Tumben mau menggunjing orang."
"Ini bukan gunjingan. Ini pendapat. Dan kurasa ini lumayan obyektif. Eh, iyakan?"
"Tergantung premisnya. Kenapa kamu bisa bilang dia cenderung ateis?"
"Yah, katakan ini monoteis atau politeis," anak muda ini menggambar bulatan khayalan di atas meja. Terus dia menarik garis lurus dari bulatan itu ke arah kanannya dengan tangan kanannya, "di tengah ini agnostik. Di ujung yang lain ini ateis. Nah, di sinilah bocah itu berada" dia menunjuk satu titik antara titik tengah dan ujung kanan gambar khayalan itu."
"Hm, menarik..."
"Dia kadang menyebut tentang buku kesukaannya. Buku terjemahan dari bahasa Jerman. Dia bilang, 'Yah, aku percaya Tuhan itu ada. Tapi itu dulu. Sekarang Beliau sudah mati.'"
"Anak itu mengutip dari buku itu?"
"Bisa jadi."
"Dia pikir Tuhan fana seperti ciptaan-Nya? Menarik"
"Tak kalah menarik si S."
"Kenapa dia?"
"Dia punya satu kutipan kesukaan: 'Dan Kami ciptakan segalanya berpasang-pasangan.'"
"Ah, ya. Itu ada di halaman depan buku catatan kecil yang selalu dibawa-bawanya. Dari Al kitab agamanya, kan?"
"Ya"
"Aku suka cara orang ini memandang dunia. Dia punya satu teori menarik."
"Apa?"
"Masih ada hubungannya dengan kutipan itu tadi dan kalau kita juga bisa menghubungkannya dengan topik kita. Dia percaya kalau ada bagian dari manusia yang fana, maka ada juga bagian manusia yang kekal."
"Ah berpasang-pasangan?"
"Ya, atau kalau mau lebih gamblang, yang berlawanan saling melengkapi. Contranta Sunt Complementa. semacam motonya Niels Bohr."
"Ah, siapa Nil Bor itu?"
"Niels Bohr. N-I-E-L-S B-O-H-R. Entah pengucapannya bagaimana. Aku juga lupa siapa dia."
"Yah, pikun."
"Terserah, si S ini percaya, tentang fana dan kekal tadi, tubuh manusia memang fana, tapi ada bagian dari manusia yang kekal. Jiwa."
"Ah, pada akhirnya dia lalu punya teori tentang jiwa ini yang masuk ke kehidupan setelah kematian ya?"
"Jitu. Ngomong-omong soal jiwa, sudah dapat buku Jiwa-jiwa Mati-nya Gogol?"
"Belum."
"Orang yang menarik memang."
"Siapa, Gogol."
"Si S. Jadi dia ini monoteis cenderung agnostik? Kalau pakai teori kamu tadi."
"Bisa jadi Tuhan cuma pengin menciptakan peran seperti dia dalam roman tulisannya."
"Hah?"
"Bukankah semuanya sudah tertulis? Dan semua ditulis oleh tangan yang sama?"
"Lalu apa peranmu?"
"Jadi orang yang percaya kalau lebih baik dia tidak usah dilahirkan saja. Dan, seperti yang ditulis Chairil, 'hidup hanya menunda kekalahan.' Karena pada akhirnya, seperti yang kubilang  tadi, garis nasib sudah digambar. Aku juga tahu peranmu: bocah melit yang percaya bisa memecahkan pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup."
"Lihat siapa yang bilang, fatalis."

bisa jadi bersambung
setjoeil asa

Jumat, 11 Oktober 2013

Sehelai Daun

"Setiap helai daun di pohon menjadi satu halaman kitab. Begitu hati terbuka dan belajar untuk membaca."
                                   --Saadi dari Shiraz

Itu adalah kutipan pada halaman pembuka pendahuluan buku Greg Mortensen yang berjudul Stones Into Schools. Pada saat pertama membaca, aku berpikir, "kertas dibuat dari kayu, batang pohon. Tapi jaman dulu sepertinya daun juga sarana menulis."
     Setelah membaca beberapa halaman pendahuluan, aku kembali ke halaman berisi kutipan itu dan menyadari: saat kamu mau membuka mata hati dan pikiran, dan belajar membaca, membaca tanda-tanda alam, setiap hal bisa menjadi pengetahuan baru, termasuk sehelai daun pada ranting pohon. Tiap hal yang kamu lihat, suara yang kamu dengar, rasa yang kamu cecap, permukaan yang kamu raba, udara dan aroma di dalamnya yang kamu hirup adalah hal baru yang bisa dipelajari.

Ada juga seorang mertua yang bilang ke menantunya, "buat apa perempuan membaca, buku bisa meracuni otakmu." Lalu ada gadis yang bercita-cita menjadi anggota DPR. Anda benar ibu mertua, buku bisa meracuni otak.
      Haji Ali seumur hidupnya juga tidak membaca buku, iya kan Greg? Hayy bin Yaqzon mendapatkan semua pengetahuannya dari alam sekitarnya. Dan kata-kata Chauncey Gardiner dikutip presiden AS, padahal seumur-umur dia belum pernah belajar baca-tulis. Semua yang dilakukannya dia pelajari dari televisi. Akhirnya, ada anak laki-laki yang membaca buku-buku mahal, tetapi tidak pernah menemukan jawaban yang dicarinya.

Rabu, 21 Agustus 2013

Finding Forrester (2000)


"Kunci pertama menulis adalah menulis. Bukan berpikir." (William Forrester)
 
Jamal remaja enam belas tahun dengan dua bakat menonjol. Bolabasket dan tulis-menulis. Suatu ketika salah satu sekolah swasta di pesisir timur mengendus potensinya lewat tes evaluasi yang diadakan Kemendikbud.
     Sebelum pindah ke sekolah itu Jamal secara 'tak sengaja' bertemu satu orang tua. Seorang yang kelak akan memberinya banyak pelajaran tentang tulis-menulis. Dia William Forrester, pemenang Pulitzer lewat satu-satunya buku karyanya, 'Avalon Landing'.
     Apa selanjutnya? Tonton saja filmnya....
     Satu film yang bisa membuat orang berpikir, "semua orang bisa menulis." (Jadi, menulislah!)
     "Banyak buku bagus dan kutipan di dalamnya."
     Tapi sepertinya karakter dan buku itu fiksi.

Film: Indowebster
Subtitle: Subscene

Jumat, 19 Juli 2013

Sayembara Kebahasaan dan Pramoedya

Di salah satu bab dalam buku '111 Kolom Bahasa Kompas', Andre Moeller (maaf jika ada kesalahan penulisan nama) menulis tentang sebuah sayembara kebahasaan. Beliau bilang di negara asalnya, Swedia, salah satu surat kabar pernah mengadakan lomba untuk menentukan kata apa yang paling indah dalam bahasa Swedia. Beliau pun berandai jika hal itu terjadi di Indonesia.
     Apa kata terindah dalam bahasa Indonesia? Perkenankan saya ajukan kata kata. Kenapa kata? Karena pada mulanya adalah Kata. Bukankah 'terindah' itu juga suatu kata? Lalu kata menjelma menjadi kalimat. Kalimat dirangkai menjadi sebuah cerita. Bukankah setiap hidup manusia adalah sebuah cerita yang ditulis oleh jari-jari keyakinan mereka masing-masing?
     Kata-kata adalah Tuhan. Karena Tuhan mengejawantah lewat Kata-kata.
     Oh iya, buku ini juga beberapa kali menyebut nama Pramoedya Ananta Toer. Sebut nama itu, dan sebuah buku dengan sendirinya akan menjadi semakin menarik. Salah satu ranah yang disenggol ialah perihal nobel yang katanya seharusnya sudah ada digenggaman beliau. Dalam salah satu bab lain, Salomo Simanungkalit, menyinggung pidato Pram di hari lahirnya yang ke-80. Dalam pidatonya Pram menyinggung soal tsunami Aceh.
     Pram percaya Aceh akan bangkit kembali karena keberanian rakyatnya yang khas. Keberanian rakyat Aceh adalah keberanian individu. Keberanian rakyat Indonesia dari suku-suku lain adalah keberanian kelompok. "Itu yang membedakan Aceh dengan daerah-daerah lain," kata Pram.
     ... "Dalam hal watak dan keberanian, saya mengatakan di Aceh banyak seorang, sementara di Jawa dan daerah lain banyak orang."
     ... kawan saya yang menggolongkan Pramoedya dan sedikit sastrawan kita ke dalam masyarakat bahasa yang kewarganegaraannya adalah kata.
      Kalau saja pertanyaan, apa kata terindah dalam bahasa Indonesia ditanyakan kepada Pramoedya, apa jawaban beliau ya?

Senin, 15 Juli 2013

Nietzsche, Sabda Zarathustra: Beberapa Kutipan

"Sesungguhnya manusia adalah arus yang tercemar. Seseorang harus menjadi seperti laut, untuk menerima arus tercemar tanpa menjadi kotor." (50)

"Tidakkah yang paling berat itu adalah ini: merendahkan diri untuk membunuh keangkuhan? Mempertontonkan ketololan untuk mencemooh kebijaksanaan kita sendiri?" (69)

"Tapi, pikiran itu satu hal, sementara perbuatan adalah hal lain, dan pikiran tentang perbuatan adalah hal lainnya lagi. Roda sebab-akibat tidak berputar di antara mereka." (87)

Bab 7 Membaca dan Menulis (90-92)