Tampilkan postingan dengan label sekadar posting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekadar posting. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2017

The Story-teller, Saki (H. H. Munro). Diterjemahan ke Bahasa Indonesia dengan Sembarangan

Si Pendongeng*

Saat itu sore yang panas, dan di dalam gerbong kereta api tak kalah gerahnya, dan pemberhentian berikutnya adalah Templecombe, hampir satu jam lagi. Penumpang di gerbong itu terdiri dari seorang gadis kecil, dan seorang gadis yang lebih kecil, dan seorang bocah kecil. Bibi anak-anak itu mengisi salah satu pojokan tempat duduk, dan pojokan jauh tempat duduk seberangnya diisi oleh seorang sarjana muda yang adalah seorang asing bagi rombongan mereka, tapi si gadis kecil dan si bocah kecil betul-betul menduduki kompartemen. Baik si bibi maupun anak-anak itu bercakap dalam suatu batas, terus-menerus, mengingatkan pada salah satu sikap dari seekor lalat rumahan yang menolak untuk putus asa. Kebanyakan kata-kata si bibi agaknya dimulai dengan “Jangan,” dan nyaris semua kata-kata anak-anak itu dimulai dengan “Kenapa?” Si sarjana muda diam saja. “Jangan, Cyril, jangan,“ seru si bibi, waktu si bocah kecil mulai memukul-mukul bantalan tempat duduk, menyembulkan sehembus awan debu pada tiap pukulan.

Senin, 06 Maret 2017

KELONTONG



 Ada yang datang. Rizal hampir selalu mengartikan irama gesekan sandal dengan batako yang mendekat sebagai pembeli. Seringkali dia beralih dari bacaannya, hanya untuk mendapati irama itu lewat, terus memelan seiring langkah menjauh, sampai akhirnya hilang saat perhatiannya kembali ditelan bacaannya.

Minggu, 23 Oktober 2016

Percakapan dengan Bakul Gorengan

Dia menyodorkan duit sepuluh ribu ke Pak Cowek. ”Opo iki?” tanya Pak Cowek.
     “Tahu, tempe, pisang, gembus.”
     Sore merekah. Setengah cerah. Langit disaput cercah-cercah awan yang mengalir diembus angin.
Empatupuluh lima menit lalu Pak Cowek mendorong gerobak gorengannya menyusur salah satu sisi jalan Gedongkuning Selatan. Gerobak renta yang setia. Hampir tiap jelang sore, sejak toko cat Wa-Wi-Wu di pojok perempatan Ketandan belum berdiri, Pak Cowek dan gerobak ajek menjejak keras aspal dan tak canggung melawan motor-mobil yang terus berbiak.
     Cekatan benar tangan kanan Pak Cowek menjumputi gorengan pakai capit, terus dilempar ke kresek putih di tangan kirinya. Mulutnya komat-kamit menghitung. Dirasa pesanan terpenuhi Pak Cowek mengulurkan ke pelanggan. “Gundul kui sopo?” tanya Pak Cowek sembari menunjuk kaos dia yang beli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi.
     “Wasit, Pak. Wasit Itali kae lho.”
     “Pesen kui?” terus Pak Cowek mencecarnya tanya.
     “Gawe dewe, Pak.”
     “O, ning ‘Matamu’ kono kui?” berkesimpulan akhirnya Pak Cowek, meski masih bernada tanya.
     Tersimpul senyum tipis di bibir dia yang membeli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi. Otak dia yang membeli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi mencerna percakapan dengan bakul gorengan tadi lewat aneka sudut pandang. Sebagian besar kelewat rumit, sulit dijabarkan. Satu pikiran yang cukup jelas dilihatnya: waktu orang bicara tentang kaos di Jogja, yang muncul pertama di pikiran mereka kebanyakan merek ‘Lambemu’.
     Pikiran kedua, yang satu ini terus saja ada sehabis dia beli gorengan. Rasa bersalah menggerogoti benak. Kelewat banyak tulisan-tulisan tentang kesehatan tanpa permisi menyerbunya. Dia hampir percaya seharusnya gerobak Pak Cowek ditempel stiker “Gorengan Membunuhmu”, ilustrasinya tengkorak Raisa.
     Selain itu dia selalu khawatir dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit. Minyak buat goreng kan dari kelapa sawit. Meski dia selalu memasang kuota tiap dia beli gorengan. Tak lebih dari sepuluh ribu, yakinnya. Dia sendiri kurang yakin itu berpengaruh banyak pada hutan hujan tropis yang dikebiri, terus jadi kebun monokultur. Dan orang Prancis yang menolong orang utan di borneo itu, sungguh baik. Entah kenapa pikiran itu sekonyong-konyong muncul. Apapun yang dilakukannya, dia terus saja merasa bersalah.
      Kulit gorengan ini bahannya terigu. Asalnya gandum. Alaminya gandum kurang suka wilayah geografis dengan curah hujan tinggi katanya. Jangan-jangan tempe sama tahu kedelainya juga bukan hasil tanam petani lokal. Terus plastik ini bakal cuma jadi bahan reklamasi pulau plastik di Pasifik sana. Bisa jadi.
     Mendingan, endorfin yang biasanya memang mengalir lancar waktu menggenjot sepeda tak ingkar janji. Jadi ada pengimbangnya itu si rasa bersalah jalang.

    Pada akhirnya, dia terus kepikiran merek kaos berlogo kuping yang dipikirnya masih merajai dunia perkaosan.

Rabu, 25 Juli 2012

Mimpi di Siang Bolong (Denotasi)

     Mimpi adalah bunga tidur, penghias ruang bawah sadar yang dapt dinikmati oleh penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya. Ada yang bilang setiap mimpi ada artinya, atau dikait-kaitkan dengan kejadian yang akan menimpa, atau dejavu, saat si pemimpi mengalami hal yang mirip dengan mimpi dalam dunia nyata di kemudian hari. Ada juga mimpi yang katanya si pemimpi bisa mengendalikannya, namanya lucid dream. Kalau tarian khas daerah Jawa Tengah namanya tari Mimpi (Woi! Srimpi woi! Itu tari Srimpi).
     Kenapa aku menulis tentang ini? Barusan aku bermimpi, sangat aneh menurut standar logika, tetapi bukankah dalam mimpi bahkan semut bisa mengangkat seekor gajah?
     Seingatku mimpi ini diawali dengan scene berbuka puasa, ada salah satu teman kampus, sepertinya, entahlah. Aku makan lebih dari seharusnya, karena saking laparnya mungkin, rasa laparnya tidak terlalu terasa di mimpi itu. Plot berlanjut, sekarang mimpi ini ujug-ujug sampai di tempat wudhu, entah di masjid mana. Saat wudhu aku merasa mau memuntahkan seluruh makanan yang tadi kutelan saat berbuka. Detailnya; saluran air tempat wudhu itu ternyata tersumbat, lalu temenku, orang yang kupikikir temenku, membebaskan aliran air itu dari tirani si penyumbat.
     Can we fast forward? sudah menjelang adzan Maghrib ini. Scene terakhir saat shalat tarawih. Shaf depan terlihat kosong, aku melewati shaf yang diisi oleh wanita, aku tidak menyalahkan si arsitek masjid kok, orang ini cuma mimpi. Saat akan mulai Takbiratul ikhram, ternyata di depanku ada sebuah lemari yang memaksaku tidak akan bisa melakukan sujud, karena keterbatasan tempat. Bapak di sampingku lalu agak mundur, karena shafnya miring, aku ikut mundur, dan masalah terselesaikan. (Yah sudah Adzan Maghrib to).
     Tapi itu bukan akhir dari mimpi. Temanku, yang kali ini sepertinya tetangga kompleks, bilang sambil menunjuk ke kepalaku, kalau aku ternyata memakai helm. Seingatku dia juga memakai helm dan bilang beberapa patah kata lagi tapi aku lupa. Kami berdua melepas helm dan meletakkannya di lantai.
     Entah apa arti mimpi ini. Selamat berbuka puasa.....