Tampilkan postingan dengan label Subtitle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Subtitle. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Being John Malkovich (1999)

Judul          : Being John Malkovich
Tahun         : 1999
Director     : Spike Jonze
Writer        : Charlie Kaufman
Cast           : John Cusak, Cameron Diaz, Catherine Keener

Sialan! Kenapa juga musti susah-susah tulis semua spesifikasi yang di atas itu. Kasih saja link ke IMDb, selesai. Sialan, karena banyak banget kata sialan muncul di film ini. Yah, apa lagi yang bisa diharapkan dari film Holywood. Eh? Bukan bermaksud mengeneralisasi.
     Sutradara yang sama dengan yang bikin Her (2013). Sungguh suatu film yang progresif. Bukan, bukan progresif sebenarnya. Saya takut kata itu kelewat baik untuk menggambarkan Her. Kata 'berpandangan ke depan' mungkin cukup. Oh, itu frase. Dan penulisnya, orang yang sama dengan yang berimajinasi dengan dua Nicholas Cage dalam Adaptation (2002). Eh, bukannya sutradara film itu juga bang Spike?
     Siapa yang tak mau jadi orang lain. Menukar hidup yang sekarang dengan hidup yang baru. Siapa!?
     Meski hidup orang lain cuma memegang gagang telpon dan memesan keset kamar mandi. Ayolah, jangan remehkan hidup sendiri. Apa kamu mau menukar hidup dengan orang-orang yang harus berjalan berkilometer untuk mereguk air bersih. Lho, melantur lagi. Yah, toh, siapa saja tahu ungkapan 'rumput tetangga lebih hijau'. Barangkali tidak untuk orang yang tinggal di rusunawa.
     Kita langsung ke intinya. Apa intinya? Lebih baik kalian, masing-masing dari diri kalian tangkap sendiri point-nya. Tapi, ending-nya, sungguh mengingatkan ke satu buku tentang telaah sastra dari sisi psikologi. Mungkin kalau tidak ada yang keberatan judul alias film ini bisa saja: Derita Menjadi Oedektra.
     Maaf ini bukan resensi terbaik yang bisa disediakan untuk film ini. Bahkan ini bukan resensi sama sekali. Ini lebih ke curahan hati. Mohon jangan dimasukkan ke hati.

Subtitle Indonesia: subscene
Film: IDFL

Rabu, 21 Agustus 2013

Finding Forrester (2000)


"Kunci pertama menulis adalah menulis. Bukan berpikir." (William Forrester)
 
Jamal remaja enam belas tahun dengan dua bakat menonjol. Bolabasket dan tulis-menulis. Suatu ketika salah satu sekolah swasta di pesisir timur mengendus potensinya lewat tes evaluasi yang diadakan Kemendikbud.
     Sebelum pindah ke sekolah itu Jamal secara 'tak sengaja' bertemu satu orang tua. Seorang yang kelak akan memberinya banyak pelajaran tentang tulis-menulis. Dia William Forrester, pemenang Pulitzer lewat satu-satunya buku karyanya, 'Avalon Landing'.
     Apa selanjutnya? Tonton saja filmnya....
     Satu film yang bisa membuat orang berpikir, "semua orang bisa menulis." (Jadi, menulislah!)
     "Banyak buku bagus dan kutipan di dalamnya."
     Tapi sepertinya karakter dan buku itu fiksi.

Film: Indowebster
Subtitle: Subscene

Kamis, 05 April 2012

The 400 Blows (1959)

Tentang Film: IMDb - The 400 Blows

     Film pertama yang ditonton oleh Klub Film ayah-anak David-Jesse Gilmour. The 400 Blows (yang dalam bahasa Prancis, Les Quatre Cente Coups, merupakan idiom untuk "Jalani Hidupmu dengan Gila-gilaan") adalah sebuah autobiografi yang menyoroti kacaunya tahun-tahun awal Truffaut mangkir sekolah (dari Klub Film-nya David Gilmour. Setelah nonton filmnya dan baca lagi buku itu di bagian film ini, koneksinya terasa menyenangkan).
     Dalam film ini keromantisan kota Paris tak kasat mata, digusur oleh lalu-lalang bocah-bocah nakal Paris. Adegan lucunya saat semua murid kelas bubar sendiri-sendiri di belakang gurunya saat studi wisata keliling Paris (di mulai 46:10 sampai 47:40, DVDRip.Xvid.CTS). Dan adegan kerennya saat Antoine (Jean-Pierre Leaud) bercakap-cakap dengan psikater wanita (saat si psikater bertanya apa Antoine pernah berhubungan seks dengan perempuan. David Gilmour menulis ini momen yang membuatnya kagum). Senyum anak ini memang memesona saat itu :) (01:31:05). Yah, lagi-lagi, David Gilmour menyinggung keduanya di bukunya (Penulis terpaksa setuju kali ini).
     Kutipan:  "Aku tahu mereka mengajarimu banyak hal tak berguna di sekolah" (Gilberte Doniel).

Tempat unduh film: Mediafire - The 400 Blows
Subtitle Indonesia:Subscene - The 400 Blows

Kamis, 22 Maret 2012

Mencoba Nge-sub Indonesia: On the Waterfront (1954)

Info Film: IMDb - On the Waterfront (1954)

     Pertama 'kenal' film ini sebenarnya dari buku Klub Film-nya David Gilmour, nice book, anyway. Beliau menyinggung om Marlon Brando secara agak berlebihan (waktu baca bukunya. Setelah lihat filmnya kata 'agak berlebihan' itu seperti terdengar berlebihan bagi penulis.).
     Ada satu-dua hal lagi yang dibahas tentang film ini di bukunya, hal. 34-35.
     Kutipan favorit nih film: "Ini yang pertama, kuharap bukan jadi yang terakhir." (Terry Malloy). Itu saat Marlon Brando ngajak Eve Marie Saint ke bar untuk minum. Itu tegukan pertama buat Eddie Doyle (Eve Marie). Dan ini adalah aktivitas pengalihan bahasa subtitle pertama buat penulis. Alasan yang nggak dibuat-buat untuk suka tuh quote kan.
     (Mantan petinju pro beralih profesi menjadi buruh pelabuhan, berdiri melawan bos perserikatan buruh yang korup. Dia berada dalam dilema nurani. Antara membiarkan kejahatan luput dari hukum, meski dilakukan kawan-kawannya, atau mengungkapnya. ....)

Subtitle Indonesia: Subscene - On the Waterfront (1954)
Tempat unduh film: Mediafire - On the Waterfront (1954)