Jumat, 07 Maret 2014

Si anak laki-laki bilang kalau dia lagi perang dengan pengedar candu. Aku tanya siapa?
Lebih tepatnya apa, katanya, koran adalah candu. Tajuk rencana: harus bisa berhenti baca itu tiap siang sehabis bangun tidur pagi.
Hari ini tajuk rencana cerita tentang betapa kaya dan dermawannya negara ini. Dia, negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini bagi-bagi 7 triliun (sial! berapa ya nolnya ya?) lebih buat orang-orang yang punya bank, apa itu namanya, entahlah, semua orang sudah lupa. Dua orang diantaranya bukan orang pribumi katanya.
Negara ini kasih duit sebegitu banyaknya (eh, triliun itu banyak, kan?) ke segelintir orang--yang entah siapa itu mereka--bisa, tapi kasih makan ke 21 juta rakyatnya yang perutnya keroncongan kok nggak mau ya? Apa duit yang digelontorkan buat itu harus lebih deras lagi?
Atau, atau sekolahkan saja 11 juta anak itu, biar melek aksara. Bagaimana negara? 7 triliun lagi buat itu tak masalah tentunya, kan?
Oh, atau lagi, bangun rusunawa saja lagi. Di tempat yang bukan semacam pinggir sungai atau pinggir rel kereta api atau pinggir kuburan atau pinggir jurang kematian...

setjoeil asa, tulisan yang masih harus banyak direvisi (bajingan, revisi: benci kata itu)
oh, lupa tentang si tukang cukur rambut yang pandai marketing, atau kasarnya susah tutup mulut...

Rabu, 26 Februari 2014

"Menjadi manusia justru berarti tanggung jawab, berarti merasa malu berhadapan dengan suatu kesengsaraan yang tampaknya tidak bergantung pada dirinya..." (Antoine de Saint-Exupery)

Pagi tadi si anak laki-laki membaca tajuk rencana surat kabar harian tentang bancakan suap migas. Dituliskan di situ besaran 200.000 dolar Amerika. Dibagi-bagi buat siapa saja, si anak laki-laki bilang malas mengingatnya. "Sebentar lagi semua orang juga sudah lupa," katanya, "siapa yang ingat Century?"
     Terus dia juga cerita jadi ingat tentang kekuasaan mutlak yang kembali ke pangkuan MK, yang beberapa hari atau pekan sebelumnya juga jadi tajuk rencana di koran yang sama. "Masa UU tentang batasan kekuasaan MK yang punya keuputusan mengesahkan MK. Ini seperti bocah laki-laki usia puber memutuskan berapa kali dia boleh masturbasi seminggunya."
     Sorenya di tv si anak laki-laki terlihat menonton seorang anak, yang harusnya sekolah menuntut ilmu, kerja keras membantu ibunya. Dia mengangkat kayu bakar (semoga bukan dari kebun perusahaan mana), dan menyiangi sawah (yang entah milik siapa). Oh, siapa bilang sudah tidak ada generasi muda yang mau jadi petani (kecuali terpaksa)?
     Ini semua, si anak laki-laki bercerita, dia ingat saat makan sore dengan menu: kecambah rebus, wortel rebus, kubis rebus, timun, tahu, telur rebus disiram saos kacang ditambah kerupuk ditemani susu kedelai. "Tanpa berkeringat aku bisa makan semua ini," katanya.

Senin, 24 Februari 2014

Sekumpulan kutipan dari Bumi Manusia-nya Antoine de Saint-Exupery

Dalam buku berisi cerita dan renungan ini, Saint-Exupery melukiskan "bumi manusia" dilihat dari udara: betapa kerdilnya manusia di tengah kemahaluasan bumi, betapa agungnya manusia karena dialah yang memberikan arti kepada bumi. (sampul belakang)

"Bumi mengajarkan kepada kita tentang diri kita jauh lebih banyak daripada semua buku di dunia ini, karena ia menantang kita. Manusia menemukan dirinya manakala ia harus mengukur kekuatannya sendiri ketika menghadapi suatu hambatan." (hal. 9)

"Dan aku sudah menduga bahwa suatu tontonan tidak akan bermakna kecuali melalui suatu budaya, suatu peradaban, suatu usaha. Orang gunung tahu juga tentang lautan awan. Namun, di situ mereka tidak menemukan tirai yang luar biasa indah itu." (hal. 14)

"Demikianlah kami mengangkat detail-detail dari nasib mereka yang terlupakan, dari pengucilan mereka yang tak masuk akal, yang luput dari perhatian para pakar geografi di dunia." (hal. 16)

"Aku sempat pula mendengar curahan hati yang diucapkan dengan suara perlahan. Isinya tentang penyakit, uang, masalah rumah tangga yang menyedihkan, yang menunjukkan dinding-dinding penjara kusam tempat manusia terkurung." (hal. 23)

Kamis, 20 Februari 2014

(Masih) Percakapan dalam Kepala



Iya, aku juga lihat edisi Sabda Zarathustra yang lain.
“Judulnya Seruan Zarathustra.”
Ada beberepa bab yang kusuka, tapi secara garis besar... ehm, entahlah. Ide tentang adimanusia atau manusia yang unggul secara intelektual, mental, fisik? Kamu harus coba lihat Gattaca. Ah, aku suka film itu. Terus terang aku kurang sepaham dengan Nietzsche tentang ini. Bukannya setiap orang, siapapun itu mempunyai kesempatan, atau lebih tepatnya, hak yang sama?
“Hak asasi?”
Iya ada yang superior atau inferior, tapi dalam satu hal. Dalam hal lain mungkin yang inferior jadi superior dan sebaliknya. Atau sekarang satu orang si pemenang, dan satu lagi si pecundang, lain kali mungkin si pemenang jadi si pecundang dan sebaliknya. Seperti yang dibilang Bob Dylan di The Time, They Are A Changing.
“Jangan bicara terlalu cepat pada roda yang masih berputar?”
Yap...
“Kenapa, sakit mata?”
...
“Buku apa yang lagi kamu baca?”
50 halaman terakhir Kota Tuhan-nya E.L. Doctorow.
“Yang dibuat filmnya itu? Tentang peredaran narkoba di Brazil?”
Awalnya kukira juga, tepi ternyata beda. Lumayan, meski aku kadang di beberapa bagian nggak paham.
“Belum.”
Eh?
“Iya, belum. Bukannya nggak paham, tapi belum paham. Belum paham dengan tingkat pemahamanmu sekarang ini.”
Bisa jadi. Banyak kutipan yang kusuka. Ini semacam buku yang bisa menerbitkan keraguan. Bukan, bukan.. ehm, lebih tepatnya menyenggol iman.
“Lagi-lagi buku yang membuat berpikir?”
Bukannya membaca itu memang memaksa berpikir? Memang, mungkin sebagian besar dari tujuh miliar orang di dunia ini akan lebih senang bilang, ‘berikan saja kebenarannya!’ alih-alih disuruh bertanya-tanya, ‘kenapa begitu?’ terus cari jawabannya. Tapi alam semesta tidak bekerja seperti itu. Dia mungkin agak introvert. Dia nggak mungkin akan ngomong tentang dirinya dan mencurahkan isi hati macam Woody Allen.
“Nggak bisa lebih setuju lagi sama kamu, Bung.”
Yah, karena aku mungkin juga ikut ke mayoritas itu...

Rabu, 19 Februari 2014

Film kemarin malam: The Kid (1921). Bisa jadi, dan barangkali akan tetap seperti itu: salah satu film terbaik yang pernah kutonton. Akhir-akhir ini Charlie Chaplin memenuhi ruang dan waktuku. Aku suka humornya. The Great Dictator (1940) dan Modern Times (1936) melengkapi daftar tiga teratas film yang disutradarai, ditulis, dan (diproduseri?) Charlie Chaplin versiku. Maaf kalau kurang sependapat. Meski itu bukan sepenuhnya salahku.
     Aku cuma nonton dan... wow. Susah mau bilang atau komentar apa tentang film ini. Mungkin film (ini) memang bukan buat dikomentari tapi buat ditonton.
     Orang ini sudah buat film waktu pemuda-pemudi Indonesia lagi sibuk bikin sumpah. Jauh sebelum itu mungkin. Sumpah yang cuma ditepati satu generasi. Sejak Anak Semua Bangsa ada mungkin sumpah ini memang sudah tidak wajib ditepati. "Aku anak semua bangsa dari segala jaman."