Senin, 19 Mei 2014

Pengayuh Sepeda Berteman Kesepian

"Chicikov berpendapat bahwa cerita itu memang terjadi, dan ada beratus hal di tengah alam ini yang tak dapat dijelaskan walaupun oleh sarjana yang paling besar."                                                                                                                                    ( Nikolai Gogol - Jiwa-jiwa Mati)

Sore:
"Berapa mas sekilo?" tanyaku
"Enam ribu," jawab mas penjual pakan ternak singkat.
     Tentu saja percakapan terkait jual-beli pelet kecil ini dalam bahasa Jawa. Harap maklum, karena latar jurnal kali ini memang, lagi-lagi, terjadi di tempat yang mensunahkan, kalau penulis boleh bilang, menggunakan bahasa setempat.
     Selepasnya, kukayuh sepeda ke arah tenggelamnya matahari, ke arah yang juga menuju Pasar Kotagede. Pernah suatu fajar, sebelum adzan subuh berkumandang, setelah habis pertandingan Manchester United, penulis lewat pasar yang tadi disebutkan. Pedagang- pedagang yang berani hidup sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing: ada yang menggelar tikar alas dagangan, menurunkan kubis dari kendaraan pengangkutnya, bercengkrama dengan sesamanya tentang apakah Jokowi memang pantas jadi presiden, Mengkritisi buku Depe tentang penjara perempuan (mereka pikir dia itu Nawal El Sadawi atau siapa, meski yang bersangkutan sendiri baru bilang mau menulis), mambaca novel Jiwa-jiwa Mati-nya Gogol, (maaf, salah ketik. Kalau orang jaman sekarang yang doyan bersosial-media bilang tipus, maaf lagi, maksudnya typo. Tapi penulis menganggap dirinya anakronis. Apa lagi ini?)
     Mohon dimaafkan dan lupakan saja pikiran-pikiran kurang waras penulis yang dituangkan di tempat ini. Walau memang tempat ini memang sepenuhnya seharusnya menjadi tempat seperti itu (apa-apaan ini?) Harap maklum penulis belum menyesap sedikit pun cafein hari ini. Penulis minta ijin untuk meminum kopi Kapal Api sebentar. Sebentar saja. Hanya beberapa menit. Tak perlulah pembaca menanti terlalu lama.

***

     Nah, penulis bilang juga apa. Belum sempat pembaca kelar mengunduh lagu Twentysomething-nya Jamie Cullum, penulis sudah melanjutkan tugas sucinya ini. Sampai di mana tadi. Oh ya, mengunduh lagu. Eh, apa itu termasuk ikut membangun jalan tol buat para pembajak? Mungkin Captain Jack atau Johnny Depp punya pendapat.
     Oke, penulis melanjutkan mengayuh sepeda mengitari pasar lewat jalan di sebelah timur pasar, ke arah belakang pasar. Di selatan pasar ada jalan ke barat menuju Masjid Mataram yang kemarin baru melaksanakan ritual menguras kolam. Sayang tak banyak panen ikan kali ini, karena itu memang bukan kolam ikan. Itu kolam pemandian. Waktu kecil banyak teman penulis melihat orang mandi di sana. Sekali lagi penulis tekankan, teman penulis. Penulis tidak berani, tidak berani kalau cuma sebentar, lama-lama doyan. Ah, setengah jalan menuju voyeurism.
     Ke selatan lagi ada pabrik cokelat yang cukup terkenal akibat pemasaran gencar manajemennya. Begitulah kiranya yang penulis percayai. Lalu lepas dari jalan bebentuk 'S' yang sama sekali tidak terasa dingin kalau melewatinya, satu lagi situs bersejarah menghadang jalan. Semacam pondok kecil di tengah jalan. Di dalamnya ada batu-batu, yang entah kenapa penulis kurang paham, disebut bersejarah. Kurasa batu di pekarangan belakang rumah juga menyimpan sejarah hebat. Entahlah... Penulis mengaku suka sejarah, padahal di SMA saja tak mau beli buku pelajaran sejarah.
     Si pengayuh sepeda yang tak lain juga adalah penulis, disuguhi panorama sosial menawan di sekitar situs batu itu. Batu yang bukan merupakan batu yang muncul di Novel Harry Potter yang pertama. Katanya kalau mau jadi cerpenis atau novelis harus pandai-pandai menangkap semuanya sajalah yang ada di sekitar. Yang tersirat maupun yang tersurat. Apa iya? Ah, mungkin itu cuma khayalan penulis. Tak usahlah diambil hati. Lebih enak daging di bagian pinggang, atau kalau chef yang bertato di seluruh lengannya itu bilang Sirloin (semoga tidak salah sebut. Penulis bukan lulusan perikanan).
     Nah, singkat cerita, sampailah penulis di tempat dia seharusnya memang sampai (?).... SELESAI atau barangkali juga bersambung... Siapa yang tahu takdir siapa....

nb: Di jalan belakang perumahan, di tempat yang memungkinkan untuk melihat salah satu rumah paling selatan di kompleks perumahan itu, ada lelaki paruh baya yang entah lagi melakukan apa pada pagar rumahnya yang entah sejak era apa berdiri di pinggir jalan itu. Dia memegang palu, semetara ada salah seorang lagi, yang lebih tua melihat lelaki itu bekerja. Orang tua ini berdiri memegangi sepedanya di tengah jalan. Baru setelah dekat lelaki pemegang palu menyadari ada yang mau lewat, tapi tidak demikian dengan orang tua di tengah jalan itu. Akhirnya, setelah orang tua minggir, terjadilah ritual ala Jawa kalau berpapasan, menundukkan badan sambil bilang, "permisi," yang tentu saja seperti di awal cerita, dalam bahasa halus setempat.
     Lepas dari jalan kecil itu terasa sekali nuansanya, atau untuk menghindari kesalahpahaman, gradasinya. Rumah-rumahnya dengan arsitektur modern minimalis, isi garasinya, pagar, atap, tembok, pengasuh, pembantu, anak-anak, anak anjing, semuanya sajalah. Oh, bukan ini perbedaan yang teramat besar. Kesenjangan luar biasa. Jurang! Tanpa bisa dilihat tanah di seberang, dan betapa dalamnya. Tak seorang manusia dapat melompatinya, bahkan Jesus, Nuh, atau sekalipun Samson.
     Beberapa rumah sebelum sampai di tempat yang seharusnya, penulis memnjumpai dua orang pemuda beriman dengan pakaian religius mereka. Seseorang bilang, "kok sendirian. Apa nggak kesepian?" Kecuali kata terakhir, lagi-lagi semua itu diucapkan dalam bahasa setempat yang mungkin sudah membuat pembaca muak akibat terlalu sering disebut.
     Baru, penulis sadar kalau kesepianlah BBF-nya. Boy Friend Forever? Bukan, bukan. Bad Friend Forever? Bukan lagi. Blue Film Forever? Jelas bukan. Barangkali ini kejuaran gulat yang dihelat oleh Paman Sam itu? Boleh jadi... Atau selamanya teman terbaik. Kali ini bukan dalam bahasa setempat. Meski tak kalah bikin muak.


Jogja, 19 Mei 2014
Di bawah pengaruh hebat Jiwa-jiwa Mati-nya Nikolai Gogol, Setjoeil Asa
    

Selasa, 22 April 2014

Sekumpulan Kutipan dari Gunung Kelima-nya Paulo Coelho

"Tuhan adalah tuhan. Tidak dikatakan-Nya pada Musa, apakah Dia baik atau jahat. Dia hanya mengatakan: Aku adalah aku. Dia menyatakan diri-Nya dalam segala sesuatu yang ada di bawah matahari--dalam pertir yang menyambar merusak rumah, dan dalam tangan manusia yang membangunnya kembali.'' (hal. 15)

"Tuhan maha kuasa. Kalau Dia membatasi diri-Nya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik, Dia tidak bisa disebut Maha Kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian dari alam semesta, dan ada orang lain yang  lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakannya. Kalau demikian halnya, aku memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu." (hal,17)

"... dia sudah menemukan bahwa, hampir sepanjang masa hidupnya, manusia tidak berkuasa membuat keputusan." (hal. 36)

Sedang Memuat...



Kamis, 10 April 2014

3½ Hari


Hari 1: Air
Hati ini tersayat-sayat melihat air tanah ditarik paksa ke permukaan, terus digelandang ke kolam berair keruh. Tidak lebih perih ketimbang menatap nanar tangan yang secara sadar menguyurkan air keran ke kloset yang berlumuran air kemih.
Koran edisi itu memajang foto istrinya Chris si pelantun tembang, atau dia itu istrinya Robert. Entahlah, siapa peduli. Istri salah satu dari mereka ini dipertontonkan waktu lagi minum air mineral botolan. 22 Maret Hari Air Sedunia, tulisan di sekitar gambar itu mudah terbaca. Mudah terbaca tentunya bagi mereka yang tidak buta aksara.
            Tapi siapa yang peduli sama air kalau air bersih mudah saja menggelontor sekali putar kenop keran. Selalu saja ada yang berkoar-koar di dalam kepala bahwa kemudahan menumpulkan pikiran, mengikis rasa syukur.
            Orang yang menarik paksa air tanah, bapak, kelihatannya saja hampir tiap hari ngelaju Jogja-Wonosari. Bukannya di sana ada yang namanya pedagang air. Konon satu tangki dihargai 20.000. Bisa sampai 160.000 pula kalau diantar jauh. Entah isi berapa liter satu tangkinya. Ah, lama-lama bisa jadi akan ada pula pedagang udara. Atau memang sekarang ini sudah ada?
            Lihat siapa yang punya pandangan macam ini. Dasar pelanggan PDAM.

Kamis, 27 Maret 2014

Ilham Dermawan

Maaf, aku tidak akan menyumbangkan satu pun buku-bukuku--yang kurasa adalah harta duniawi paling berhargaku. Yah, aku memang bukan dermawan, dan tidak pernah merasa demikian. juga diri ini tidak pernah merasa lebih baik dari pada siapa pun jua. Tidak pada mereka yang meminjam barang orang lain tanpa izin karena desakan dan seruan perut mereka yang memekakkan telinga mereka sendiri akibat kosong selama hampir tiga hari penuh. Tidak juga pada mereka yang memampang foto wajah ramah-semringah di pohon-pohon atau tiang-tiang listrik pinggir jalan. Tapi entah pada mereka yang mengambil yang bukan haknya karena belum merasa puas dengan yang mereka miliki.
     Jangan. Jangan panggil aku eksistensialis. Tapi aku memang tertarik dengan kebebasan individu yang hanya dibatasi oleh kebebasan individu lain. Sayangnya dalam hal ini kebebasan spesies lain tidak diacuhkan.
     Oh, kenapa juga tadi aku menyinggung soal buku-buku. Apa gunanya membaca buku. Apa dengan itu hidup ini lebih layak dijalani? Barusan aku baca buku. Di dalamnya ada kalimat menarik. Akan kukutip, "... tetapi segera perasaan itu diganti oleh suatu kekecewaan yang amat getir, aku nyaris menangis karena ternyata masih hidup." Aku pasti akan merasa bersalah kalau tidak kusebutkan buku apa yang kukutip dan siapa penulisnya. Itu Lapar-nya Knut Hamsun. Meski aku pernah membaca entah di mana--atau sekarang ini aku sengaja lupa--kalau penulis kelas teri meminjam, penulis kelas kakap mencuri.
     Jujur, tadi aku tersambar ilham dalam guyuran air tanah yang ditarik paksa ke permukaan. Apa ilham sedang bergesa-gesa? Apa dia merentangkan terus mengepak-ngepakkan sayapnya? Terbang entah ke mana? Dan hinggap di pundak orang lain, entah siapa? Ilham yang satu ini barangkali berhati lembut. Tak sekuku pun jejak cengkeramannya tertinggal di bagian mana pun di benak ini dia tadi bertengger. Susah payah kucari-cari, tak ketemu juga. Tidak pula peninggalan barang sepatah, dua patah kata perpisahan. Tak tahu adat ini ilham.

Ilham, oh ilham, ke mana gerangan engkau mendarat? Semoga nasibmu lebih baik dari MH370.
Salam, Setjoeil Asa.

27 Maret 2014, di bawah pengaruh "Lapar". Sungguh ingin kubakar saja buku ini, tapi maaf saja jika harus meminum abunya yang dicampur dengan air. Tidak! Tidak akan pernah! Ya, ya aku rasa aku tahu kenapa orang ini dapat Nobel. Iri? Siapa bilang aku iri? Bajingan mana yang tidak iri kalau membaca buku seperti ini...

Jumat, 07 Maret 2014

Si anak laki-laki bilang kalau dia lagi perang dengan pengedar candu. Aku tanya siapa?
Lebih tepatnya apa, katanya, koran adalah candu. Tajuk rencana: harus bisa berhenti baca itu tiap siang sehabis bangun tidur pagi.
Hari ini tajuk rencana cerita tentang betapa kaya dan dermawannya negara ini. Dia, negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini bagi-bagi 7 triliun (sial! berapa ya nolnya ya?) lebih buat orang-orang yang punya bank, apa itu namanya, entahlah, semua orang sudah lupa. Dua orang diantaranya bukan orang pribumi katanya.
Negara ini kasih duit sebegitu banyaknya (eh, triliun itu banyak, kan?) ke segelintir orang--yang entah siapa itu mereka--bisa, tapi kasih makan ke 21 juta rakyatnya yang perutnya keroncongan kok nggak mau ya? Apa duit yang digelontorkan buat itu harus lebih deras lagi?
Atau, atau sekolahkan saja 11 juta anak itu, biar melek aksara. Bagaimana negara? 7 triliun lagi buat itu tak masalah tentunya, kan?
Oh, atau lagi, bangun rusunawa saja lagi. Di tempat yang bukan semacam pinggir sungai atau pinggir rel kereta api atau pinggir kuburan atau pinggir jurang kematian...

setjoeil asa, tulisan yang masih harus banyak direvisi (bajingan, revisi: benci kata itu)
oh, lupa tentang si tukang cukur rambut yang pandai marketing, atau kasarnya susah tutup mulut...