Jumat, 10 Januari 2014

Saksi Mata-nya Suparto Brata

Membaca bagian awal (bab pertama dan awal-awal bab dua mungkin), terkesan ini buku yang cocok buat pengidap pedo-masokis-voyeurism,. Dengan bumbu rasa bosan di sana-sini. Dengan deskripsi bertele—eh bukan, bukan deskripsi, eksposisi bertele—di beberapa bagian sekitar situ. Butuh sekitar dua ratus halaman pertama untuk memaparkan dua hari jalan cerita. Itu empat bab lebih. Tapi dari pertengahan bab dua, yang menarik mulai datang.
    Penggambaran jaman pendudukan Jepang detail (meski aku tak tahu benar macam mana pula jaman pendudukan jepang itu), dilengkapi peta kejadian malah. Kupikir sulit membuat buku ini lebih baik lagi dalam hal ini, deskripsi era itu, maksudku.
        Memang diri bukan ahli psikologi anak, tetapi anak dua belas tahun bisa seperti itu ya? Tasripin itu berapa tua?
        Setelah yang menarik muncul, buku ini makin layak baca. Sampai ending macam V for Vendetta itu. Ada beberapa lagu dolanan anak di dalamnya. Ah, masa paling menyenangkan dalam hidup. James Morisson juga bilang di Once When I Was Little.
        Hm, aku ragu buku ini bisa lebih baik lagi.

Sabtu, 14 Desember 2013

Rusa Kecil yang Malang

"Menulislah saat insomnia menjamah."

Pada suatu waktu di sebuah pulau sekitar kutub yang memiliki sebuah gunung yang puncaknya, entah sejak kapan, tertutup salju tebal, hiduplah sekumpulan hewan semacam rusa kutub. Salah satunya, betina, sedang hamil tua. Tua sekali. Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa bukan rusanya yang tua, tapi hamilnya.
     Beberapa jam kemudian...
     Rusa betina yang belum terlalu tua dan sedang hamil tua itu melahirkan. Lahirlah ke dunia yang di ambang usianya ini seekor anak rusa yang tak berdosa. Jantan dan sudah pasti masih sangat muda. Rusa jantan muda ini tidak menangis begitu keluar dari rahim ibunya. Seluruh tubuhnya bersimbah darah.
     Celaka! Ada keanehan yang amat kasat mata. Di kepala si rusa kecil sudah tumbuh tanduk besar. Setiap rusa di kumpulan itu langsung menjauhinya. Mereka percaya itu adalah suatu kutuan kutukan. Lebih tragis, si ayahlah yang terlihat paling membencinya. Itu terlihat dari ikat kepala yang langsung dipakai si ayah rusa kecil. Ikat kepala bertuliskan. 'Aku bukan ayahmu'. Sungguh absurd dunia yang kita tinggali ini.
     Pembaca tidak boleh begitu saja menghakimi si ayah rusa kecil ini. Bahkan jika pembaca bernama Irf*n Hakim atau H*kim Irfan. Setelah penulis cermati, ada beberapa alasan kenapa kebencian si ayah memuncak sampai taraf yang sungguh mengerikan. Karena si rusa kecil sudah memiliki tanduk, saat si rusa kecil akan keluar dari rahim induknya, dia melukai induknya. Kerusakan yang ditimbulkannya pada saluran buang bayi induknya sungguh tidak dapat ditoleransi. Singkatnya si induk mati. Semoga arwahnya tenang di kehidupan selanjutnya.
     Alasan kedua kebencian ayah, ini sekedar prediksi penulis, adalah karena si ayah kehilangan kesempatan untuk membaca cerita menarik. Karena, patut diketahui, si induk ternyata adalah tokoh utama dalam cerita ini. Jadi cerita ini harus diakhiri sampai di sini.

Sungguh rusa kecil yang malang. Doaku selalu menyertai mereka yang termarjinalkan. Terima kasih Nikolai Gogol.
setjoeil asa

Rabu, 11 Desember 2013

Garis Teisme

"Dia itu agnostik cenderung ateis."
"Tumben mau menggunjing orang."
"Ini bukan gunjingan. Ini pendapat. Dan kurasa ini lumayan obyektif. Eh, iyakan?"
"Tergantung premisnya. Kenapa kamu bisa bilang dia cenderung ateis?"
"Yah, katakan ini monoteis atau politeis," anak muda ini menggambar bulatan khayalan di atas meja. Terus dia menarik garis lurus dari bulatan itu ke arah kanannya dengan tangan kanannya, "di tengah ini agnostik. Di ujung yang lain ini ateis. Nah, di sinilah bocah itu berada" dia menunjuk satu titik antara titik tengah dan ujung kanan gambar khayalan itu."
"Hm, menarik..."
"Dia kadang menyebut tentang buku kesukaannya. Buku terjemahan dari bahasa Jerman. Dia bilang, 'Yah, aku percaya Tuhan itu ada. Tapi itu dulu. Sekarang Beliau sudah mati.'"
"Anak itu mengutip dari buku itu?"
"Bisa jadi."
"Dia pikir Tuhan fana seperti ciptaan-Nya? Menarik"
"Tak kalah menarik si S."
"Kenapa dia?"
"Dia punya satu kutipan kesukaan: 'Dan Kami ciptakan segalanya berpasang-pasangan.'"
"Ah, ya. Itu ada di halaman depan buku catatan kecil yang selalu dibawa-bawanya. Dari Al kitab agamanya, kan?"
"Ya"
"Aku suka cara orang ini memandang dunia. Dia punya satu teori menarik."
"Apa?"
"Masih ada hubungannya dengan kutipan itu tadi dan kalau kita juga bisa menghubungkannya dengan topik kita. Dia percaya kalau ada bagian dari manusia yang fana, maka ada juga bagian manusia yang kekal."
"Ah berpasang-pasangan?"
"Ya, atau kalau mau lebih gamblang, yang berlawanan saling melengkapi. Contranta Sunt Complementa. semacam motonya Niels Bohr."
"Ah, siapa Nil Bor itu?"
"Niels Bohr. N-I-E-L-S B-O-H-R. Entah pengucapannya bagaimana. Aku juga lupa siapa dia."
"Yah, pikun."
"Terserah, si S ini percaya, tentang fana dan kekal tadi, tubuh manusia memang fana, tapi ada bagian dari manusia yang kekal. Jiwa."
"Ah, pada akhirnya dia lalu punya teori tentang jiwa ini yang masuk ke kehidupan setelah kematian ya?"
"Jitu. Ngomong-omong soal jiwa, sudah dapat buku Jiwa-jiwa Mati-nya Gogol?"
"Belum."
"Orang yang menarik memang."
"Siapa, Gogol."
"Si S. Jadi dia ini monoteis cenderung agnostik? Kalau pakai teori kamu tadi."
"Bisa jadi Tuhan cuma pengin menciptakan peran seperti dia dalam roman tulisannya."
"Hah?"
"Bukankah semuanya sudah tertulis? Dan semua ditulis oleh tangan yang sama?"
"Lalu apa peranmu?"
"Jadi orang yang percaya kalau lebih baik dia tidak usah dilahirkan saja. Dan, seperti yang ditulis Chairil, 'hidup hanya menunda kekalahan.' Karena pada akhirnya, seperti yang kubilang  tadi, garis nasib sudah digambar. Aku juga tahu peranmu: bocah melit yang percaya bisa memecahkan pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup."
"Lihat siapa yang bilang, fatalis."

bisa jadi bersambung
setjoeil asa

Rabu, 23 Oktober 2013

Dari Surat Undangan Nikah Sampai Batas Waktu-Kunjung

Ba'da Isya' si anak laki-laki keluar. Bersepeda, dia bilang. Ya, dia memang naik sepeda, tapi dikaitkannya tali helm dan menggantungnya di pergelangan tangan kirinya.
     Sampai di rumah si gadis, dia masukkan sepeda ke garasi rumah si gadis. Keduanya pergi menunaikan tugasnya. Mereka sudah janjian akan mengedarkan undangan pernikahan teman kampus.
     Ke utara, dari yang paling dekat.
     "Rencana setelah wisuda? Kerja mungkin? ada pekerjaan impian?" Tanya si gadis berurutan.
     "Iyalah, mau bagaimana lagi. Ada. Nelayan." Jawab si anak laki-laki tak kalah urut.
     "Oh, seperti The Old Man and the Sea." Lalu si gadis mulai mengulas buku itu. Dia bercerita tentang orang tua yang cuma menangkap bangkai ikan.
     Sampai di rumah gadis pertama.
     "Ternyata rumah kamu cuma di sini." Kata si anak laki-laki.
     "Iya. Dekat kan. Kapan-kapan mampir." Kata gadis pertama
     Ke barat.
     "Oh, kamu kos di sini."
     "Eh, Kotagede kamu mana, kapan-kapan aku main ke rumahmu ya?" Kata gadis kedua.
     Si anak laki-laki memasang mimik 'ah, biasalah. Ritual cewek-cewek kalau ketemu teman yang sudah lama nggak ketemu'.
     Ke utara. Ke dekat kampus.
     "Eh, kirain kamu sama cewek. Aku nggak pakai jilbab nih." Kata gadis ketiga
     Ke utara. Jauh ke utara. Ke dekat kampus yang kesohor di kota.
     "Aku kerja di toko gudeg ibuku." Kata gadis keempat.
     Balik ke selatan. Pemberhentian terakhir. Tapi waktu di minimarket yang sepertinya bukan waralaba di daerah fakultas olahraga kampus kesohor kedua di kota, sms masuk ke telepon seluler si gadis. Gadis terakhir tidak di rumah. Percakapan si anak laki-laki dengan si gadis di minimarket:
     Si gadis: "Nggak usah diplastik, Mas." Waktu si kasir mewadahi minuman produksi Coca-Cola Company dengan tas kresek.
     Si anak laki-laki: "Wuih, environmentalis."
     Si gadis: "Apaan?"
     Si anak laki-laki: "Harusnya kamu juga nggak usah minta struk-nya. Bilang juga, kalau struk-nya nggak usah dicetak. Itukan dari pohon. Tuh, kan cuma dibuang."
     Sampai di rumah gadis kelima. Si gadis menitipkan undangan ke orang yang ada di rumah.
     Ke selatan. Balik ke rumah si gadis.
     "Mampir-mampir dululah. Mau sirup atau teh."
     "Ehm..., Teh."
     "Pakai es ya." Dengan tanpa nada bertanya.
     Perbincangan berjam-jam, seperti saat kuliah. Di teras rumah si gadis. Perbincangan dari pernikahan, sepak bola, hingga tiga hal yang paling penting di dunia dan akhirat menurut si anak laki-laki: film, buku, dan musik. Perbincangan tentang masalah di tempat kerja si gadis sampai idealime bocah yang barusan lulus sarjana.
     Si gadis bercerita tentang adiknya yang tak mau kuliah. "Yang kuliah saja cuma jadi seperti itu kok, adikku bilang," si gadis membagi pemikiran adiknya, "Tapi aku bilang, kuliah itu merubah pola pikir. Pola pikir lulusan SMA beda dengan pola pikir lulusan S1." Si anak laki-laki tidak bisa menyanggahnya.
     Lalu, si gadis bercerita tentang pria penggoda di tempat kerjanya. "Padahal sudah punya istri," kata si gadis, "aku nggak nyaman. bagaimana menurut kamu?"
     "Ah, kamu minta saran ke orang yang salah. Aku kan belum pernah mengalami yang seperti itu."
     "Kasih saran nggak harus mengalami dulu."
     "Yah, kalau kamu memang sudah nggak tahan lagi keluar saja. Tapi itu cara terakhir."
     "Senior bilang itu lumrah di tempat kerja. Masalah dan masalah. Kita menghindar, kita masuk ke masalah lain. Jadi ini harus ditanggungkan."
     "Ada satu kutipan. 'Terkadang satu-satunya obat adalah menerima hidup apa adanya'. Nah, di sini latar musik Beatles - Let It Be diputar."
     Dari perbincangan tentang masalah pria penggoda di tempat kerja sampai ke masa-masa paling indah dalam kurang dari 25 tahun hidup mereka. Dan mereka masing-masing mungkin merasa menjadi manusia paling sengsara pengidap krisis seperempat abad.
     "Cowok biasanya merasa masa-masa paling indah mereka waktu mereka dapat cinta pertama, ya kan?"
     "Sekali lagi kamu mengenaralisasi."
     "Terserah. Entah itu SD, SMP, SMA."
     "Kalau aku bilang, masa paling indahku nggak dikategorikan berdasar SD, SMP atau SMA. Menurutku itu waktu aku bisa nangkap ikan di sungai. Ya, sungai itu dulu masih mengalir. Terus main bola tiap sore."
     "Kapan itu? Sekitar SD?
     "Ya. Ada lagu bagus tentang masa kanak-kanak. James Morrison, Ehm..., judulnya Once When I ... apa gitu."
    "Child? Kid?"
    "Mungkin. Ah.., Once When I Was Little."
     "O..."
     "O? Kamu tahulah masa-masa tanpa beban?"
     "Jadi pas SMP hidup kamu sudah sesak beban?"
     "Bisa jadi. Seperti bawa tas ransel. Semakin tambah tua, hal-hal yang masuk ke tas itu semakin banyak. Tas ranselnya jadi semakin berat."
     Jeda sebentar. Lalu si gadis mengungkapkan pandangannya tentang fenomena pengemis di ibukota, "di hari biasa di kampung mereka profesi mereka petani, tukang, atau lainnya. Tapi pas nggak panen, mereka hijrah ke ibukota. Buat jadi pengemis. Mereka bilangnya pas balik ke kampungnya jadi buruh atau apalah. Gaji mereka lumayan gede lho. Sehari bisa seratus ribu lebih."
     "Wah, lebih gede dari pegawai akuntansi ya? Apik buat dijadikan buku. Kenapa nggak ada buku yang mengangkat tema itu di sini?"
     "Buku macam itu nggak bakal laku di sini."
     "Oh ya, sudah dapat jaket Milan?"
     "Sudah. 146 ribu kemahalan nggak ya?"
     "Nggak tahu. Belum pernah beli."
     "Yah..."
     "Milanisti, temannya Defri dong."
     "Iya, tapi sempat vakum waktu Kaka pindah."
     "Yah, bukan Milanisti itu namanya, Kaka-nisti."
     "..."
     "Pemain yang lumayan sekarang tuh Montolivo."
     "Nggak tahulah. Tahunya cuma Kaka."
     "Nah."
     Lalu mereka berbincang tentang kucing betina si anak laki-laki yang dinodai kucing jantan liar. "Untung saja nggak hamil."
     "Kamu kasih saja kucingmu pil KB."
     "Atau dikebiri. Vasektomi."
     "Jangan."
     "Bicara tentang pil KB, ada buku bagus tentang itu."
     "Buku tentang pil KB?"
     "Bukan. Salah satu tulisan dalam buku itu tentang pil KB. Buku itu kumpulan tulisan jurnalis New York Time atau apalah."
     "Iya, tapi buku tentang pil KB?"
     "Bukan. Ada tulisan lain tentang ahli anjing yang bisa menangani anjing galak. Juga tulisan lain. Tapi menurutku ada benang merah dari semua tulisan di buku itu. Menurutku si penulis punya pemikiran bahwa di dunia ini, dalam hidup ini nggak ada sesuatu pun yang mutlak. Semuanya relatif," ditegakluruskannya telapak tangannya dengan lengan bawah, lalu sambil mengangkat tangannya setinggi dahinya, menggoyang telapak tangan, terus menarik tangan ke bawah serendah dadanya, menggoyang telapak tangan lagi, si anak laki-laki bilang lagi, "Nggak ada yang benar-benar di kutub ini atau di kutub ini."
     "Tapi itu benar, kan?" timpal si gadis, "nggak ada yang benar-benar putih dan nggak ada yang benar-benar hitam. Semuanya ada di wilayah abu-abu."
     Mereka bisa tahan berbincang berjam-jam. Sampai pas jam sebelas kurang lima, si anak laki-laki tanya, "jam berapa ini? Ada batas waktu-kunjungnya nggak?"
     Setengah jam kemudian pakde si gadis menceletuk, "jam setengah dua belas lho."
     Si anak laki-laki kembali bersepeda. Dia tak pernah sadar mungkin saja si gadis pagi harinya harus bekerja.

untuk gadis yang memuati seluruh beban ke tas ransel dan memikulnya sendirian,
Tuhan bersama orang yang berdoa.
Setjoeil Asa, 23 Oktober 2013

Jumat, 11 Oktober 2013

Sehelai Daun

"Setiap helai daun di pohon menjadi satu halaman kitab. Begitu hati terbuka dan belajar untuk membaca."
                                   --Saadi dari Shiraz

Itu adalah kutipan pada halaman pembuka pendahuluan buku Greg Mortensen yang berjudul Stones Into Schools. Pada saat pertama membaca, aku berpikir, "kertas dibuat dari kayu, batang pohon. Tapi jaman dulu sepertinya daun juga sarana menulis."
     Setelah membaca beberapa halaman pendahuluan, aku kembali ke halaman berisi kutipan itu dan menyadari: saat kamu mau membuka mata hati dan pikiran, dan belajar membaca, membaca tanda-tanda alam, setiap hal bisa menjadi pengetahuan baru, termasuk sehelai daun pada ranting pohon. Tiap hal yang kamu lihat, suara yang kamu dengar, rasa yang kamu cecap, permukaan yang kamu raba, udara dan aroma di dalamnya yang kamu hirup adalah hal baru yang bisa dipelajari.

Ada juga seorang mertua yang bilang ke menantunya, "buat apa perempuan membaca, buku bisa meracuni otakmu." Lalu ada gadis yang bercita-cita menjadi anggota DPR. Anda benar ibu mertua, buku bisa meracuni otak.
      Haji Ali seumur hidupnya juga tidak membaca buku, iya kan Greg? Hayy bin Yaqzon mendapatkan semua pengetahuannya dari alam sekitarnya. Dan kata-kata Chauncey Gardiner dikutip presiden AS, padahal seumur-umur dia belum pernah belajar baca-tulis. Semua yang dilakukannya dia pelajari dari televisi. Akhirnya, ada anak laki-laki yang membaca buku-buku mahal, tetapi tidak pernah menemukan jawaban yang dicarinya.