Rabu, 19 Februari 2014

Film kemarin malam: The Kid (1921). Bisa jadi, dan barangkali akan tetap seperti itu: salah satu film terbaik yang pernah kutonton. Akhir-akhir ini Charlie Chaplin memenuhi ruang dan waktuku. Aku suka humornya. The Great Dictator (1940) dan Modern Times (1936) melengkapi daftar tiga teratas film yang disutradarai, ditulis, dan (diproduseri?) Charlie Chaplin versiku. Maaf kalau kurang sependapat. Meski itu bukan sepenuhnya salahku.
     Aku cuma nonton dan... wow. Susah mau bilang atau komentar apa tentang film ini. Mungkin film (ini) memang bukan buat dikomentari tapi buat ditonton.
     Orang ini sudah buat film waktu pemuda-pemudi Indonesia lagi sibuk bikin sumpah. Jauh sebelum itu mungkin. Sumpah yang cuma ditepati satu generasi. Sejak Anak Semua Bangsa ada mungkin sumpah ini memang sudah tidak wajib ditepati. "Aku anak semua bangsa dari segala jaman."

Minggu, 16 Februari 2014

"Siapa tadi itu bilang apa?" tanya Suara dalam Kepala
"Kalau cuma dengan kerja keras semua bisa kaya, maka banyak wanita di Afrika sudah kaya raya."
"Kamu pernah ke sana?"
"Ke mana?"
"Afrika."
Garuk-garuk kepala sembari senyum, Si Anak Laki-laki jawab, "belum."
"Hm..., pengin ke sana?" suara Suara dalam Kepala terdengar memudar.
"Apa? Kita sudah rampung ngomongnya?"
"Tentang apa? Wanita Afrika?" Suaranya mengeras lagi, agak. Tapi tak pernah sampai membentak.
"Maksudku, itu mungkin yang namanya nasib. Satu orang mujur, orang lain apes."
"Kamu selalu suka hukum alam itu, kan?"
"Yang mana?"
"Berpasang-pasangan, yang berlainan saling melengkapi. Di kasus ini, mujur-apes."
"Bisa jadi. Dan seperti biasa, obrolan kita, nggak tahu mau dibawa ke mana."
"Ah, quo vadis, aku suka frase itu?"
"Ah, yang dari alkitab itu ya?"
"Apa iya? Alkitab yang mana?"
"Entahlah, yang salah satu isinya tentang yang mujur wajib berbagi dengan yang apes mungkin?"
"Kamu jawab pertanyaan pakai pertanyaan?"
"Yah, hidup ini isinya cuma tanda tanya, kan?"
"Harusnya tanda seru saja. Di bawahnya ditulisi huruf kapital semua: BAHAYA."
"Sepertinya obrolan ini selesai. Tapi mungkin nggak selamanya."
"Selamanya itu seberapa cepat?
"Entah. Mungkin cuma selama satu lagu Iwan Fals - Sore Tugu Pancoran."

Jumat, 14 Februari 2014

Abu Vulkanik

"Ideal bagi satu orang sudah nggak ideal lagi jika itu sudah jadi ideal juga bagi banyak orang lain," kata Dinas. Nama panggilan kawan si anak laki-laki ini memang terdengar birokratis. Nama lengkapnya malah terdengar monarkis, Dinasti. Tapi orangnya, menurut si anak laki-laki, nggak anarkis, meski sedikit kurang romantis. (Plis.) "Satu orang menganggap lebih nyaman, murah, enak pakai motor buat ke mana-mana. Tapi kalau bukan cuma orang ini yang punya pikiran macam ini, bayangkan," kawan ini melanjutkan, "Banyak orang lain juga pakai motor ke mana-mana."
     "Macet..." sela si anak laki-laki. "Tapi bukannya pemerintah juga malah lebih senang kalau banyak masyarakatnya punya kendaraan bermotor pribadi. Pemerintah dapat pajak kendaraan bermotor, pajak penghasilan perusahaan otomobil yang jual kendaraan. Polisi juga lebih banyak mangsa, ya kan?" si anak laki-laki menyesap wedang jeruk hangatnya, "katanya pajak kendaraan bermotor penghasilan terbesar pemerintah propinsi. Kalau masyarakat lebih memilih naik kendaraan publik massal?"
     Obrolan sehabis badminton malam itu disela oleh satu dentuman. Sekitar hampir tengah malam. Teman yang lain dapat kabar dari teman yang lain lagi lewat gadget analan andalannya. Kabar bahwa itu dentuman Gunung Kelud. Lalu obrolan berlanjut kisaran ereksi erupsi gunung berapi.
     Si anak laki-laki yang sorenya juga tarkam--sebutannya buat sepakbola kampungan--juga terlihat cukup antusias dengan obrolan ini. Dia jenis orang yang akan bilang, "mumpung masih muda," waktu ditanya, "memang nggak capai?"

&&&

Sebelumnya di Kantor Lurah Jagalan. Bulutangkis memeras keringat. Salam perpisahan terselubung buat kawan yang Sabtu ini katanya akan terbang ke Australia. "Transit dulu di Bali," kata kawan yang satu ini. Dia akan menempuh strata dua selama dua tahun di negeri seberang rencananya.
     Kawan yang satunya lagi, yang nantinya jadi pembawa kabar dentuman gunung Kelud, bilang, "Sehabis pemilu berangkat." Jadi PNS di ibukota dia. Pacarnya jawab tegas, "Siap!" Waktu ditanya mau ikut ke sana.
     Sedang si anak laki-laki makin membusuk di tempanya sekarang, membaca obrolan di media sosial: "kapan kamu kerja?"dari kawan sekampus yang kini sudah di Lombok, kerja tentunya.

###

"Tadi pagi sudah kerja bakti. Bersih-bersih jalan. Abunya tebalnya 2 cm," kata ayah si anak laki-laki. Kenapa tidak sekalian saja 5 cm, kan bisa lihat Pevita pakai g-string. "Untung tadi hujan, kalau nggak pasti susah bersihkan abunya."
     Sehabis Jumat'an yang tidak diikutinya akibat sangat terlambat bangun, si anak laki-laki menonton surat kabar harian. Berita utama ereksi erupsi gunung Kelud besanding dengan berita kembalinya kekuasaan mutlak ke pangkuan MK. Berita yang kedua itu juga jadi tajuk rencana.

***

Sebelum adzan Ashar berkumandang si anak laki-laki duduk bermasker di depan komputer jinjingnya. Sementara di halaman belakang rumah selembar daun sudah tidak sanggup lagi menanggung beban abu vulkanik. Abu vulkanik meluncur jatuh ke kolam lele yang bertambah keruh saja.
     Susah payah si anak laki-laki mengejar kata-kata yang tadi sudah hinggap di benaknya tapi kini terbang liar bersama abu vulkanik di luar sana. Dia berpikir mungkin akan lebih baik jika dia bersepeda keluar, mengikuti rute biasanya dia bersepeda sore. Urung dia, sebab cemas dengan indera penglihatan dan sistem pernapasannya.
     Abu vulkanik terlindas ban sepeda motor di atas aspal. Abu vulkanik berdesakan di permukaan daun, entah daun talas atau daun jati. Abu vulkanik di atap gerobak bakso, sementara si pedagang bermasker mengayuhnya. Abu vulkanik di depan corong TOA masjid yang mengumandangkan adzan Ashar. Abu vulkanik... hari ini adalah harinya abu vulkanik. Abu vulkanik tidak ingin ketinggalan merayakan Hari Kasih Sayang.


Malam (atau pagi, dini hari?): Si Anak Laki-laki terlihat tercenung. Dagu dipangku telapak tangan kiri yang jemarinya terutama telunjuk bermain-main dengan mulut bawah. Sikut bertopang ambang jendela. Barangkali terngiang ingatan Sabtu beberapa pekan sebelumnya. Gempa Kebumen menggoncang kala bulutangkis mengaso lantaran rumah sembahyang di sebelah lapangan memaksa demikian.
Atau mungkin dia berpikir hujan abu ini adalah jawaban Tuhan atas dua biji alpukat yang ditanamnya di halaman belakang. Dari jendela lantai atas, tepat di atas kolam ikan, tatapannya yang entah berisi perasaan apa, ia kirimkan ke tanah yang seingatnya adalah tempat ia menanam dua biji alpukat itu. Tapi gelap malam adalah tandingan yang sempurna...


Jum'at, 14 Februari 2014 (Valentine's Day! Teriak pedagang cokelat dan si anak laki-laki beroleh cokelat Monggo sebab kalah di final futsal bersarung antar media akhir pekan sebelumnya)
Dia disebut si anak laki-laki meski secara umur sudah tidak layak di panggil demikian, dia masih menyisakan beberapa sifat dari masa-masa itu...

Jumat, 10 Januari 2014

Saksi Mata-nya Suparto Brata

Membaca bagian awal (bab pertama dan awal-awal bab dua mungkin), terkesan ini buku yang cocok buat pengidap pedo-masokis-voyeurism,. Dengan bumbu rasa bosan di sana-sini. Dengan deskripsi bertele—eh bukan, bukan deskripsi, eksposisi bertele—di beberapa bagian sekitar situ. Butuh sekitar dua ratus halaman pertama untuk memaparkan dua hari jalan cerita. Itu empat bab lebih. Tapi dari pertengahan bab dua, yang menarik mulai datang.
    Penggambaran jaman pendudukan Jepang detail (meski aku tak tahu benar macam mana pula jaman pendudukan jepang itu), dilengkapi peta kejadian malah. Kupikir sulit membuat buku ini lebih baik lagi dalam hal ini, deskripsi era itu, maksudku.
        Memang diri bukan ahli psikologi anak, tetapi anak dua belas tahun bisa seperti itu ya? Tasripin itu berapa tua?
        Setelah yang menarik muncul, buku ini makin layak baca. Sampai ending macam V for Vendetta itu. Ada beberapa lagu dolanan anak di dalamnya. Ah, masa paling menyenangkan dalam hidup. James Morisson juga bilang di Once When I Was Little.
        Hm, aku ragu buku ini bisa lebih baik lagi.

Sabtu, 14 Desember 2013

Rusa Kecil yang Malang

"Menulislah saat insomnia menjamah."

Pada suatu waktu di sebuah pulau sekitar kutub yang memiliki sebuah gunung yang puncaknya, entah sejak kapan, tertutup salju tebal, hiduplah sekumpulan hewan semacam rusa kutub. Salah satunya, betina, sedang hamil tua. Tua sekali. Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa bukan rusanya yang tua, tapi hamilnya.
     Beberapa jam kemudian...
     Rusa betina yang belum terlalu tua dan sedang hamil tua itu melahirkan. Lahirlah ke dunia yang di ambang usianya ini seekor anak rusa yang tak berdosa. Jantan dan sudah pasti masih sangat muda. Rusa jantan muda ini tidak menangis begitu keluar dari rahim ibunya. Seluruh tubuhnya bersimbah darah.
     Celaka! Ada keanehan yang amat kasat mata. Di kepala si rusa kecil sudah tumbuh tanduk besar. Setiap rusa di kumpulan itu langsung menjauhinya. Mereka percaya itu adalah suatu kutuan kutukan. Lebih tragis, si ayahlah yang terlihat paling membencinya. Itu terlihat dari ikat kepala yang langsung dipakai si ayah rusa kecil. Ikat kepala bertuliskan. 'Aku bukan ayahmu'. Sungguh absurd dunia yang kita tinggali ini.
     Pembaca tidak boleh begitu saja menghakimi si ayah rusa kecil ini. Bahkan jika pembaca bernama Irf*n Hakim atau H*kim Irfan. Setelah penulis cermati, ada beberapa alasan kenapa kebencian si ayah memuncak sampai taraf yang sungguh mengerikan. Karena si rusa kecil sudah memiliki tanduk, saat si rusa kecil akan keluar dari rahim induknya, dia melukai induknya. Kerusakan yang ditimbulkannya pada saluran buang bayi induknya sungguh tidak dapat ditoleransi. Singkatnya si induk mati. Semoga arwahnya tenang di kehidupan selanjutnya.
     Alasan kedua kebencian ayah, ini sekedar prediksi penulis, adalah karena si ayah kehilangan kesempatan untuk membaca cerita menarik. Karena, patut diketahui, si induk ternyata adalah tokoh utama dalam cerita ini. Jadi cerita ini harus diakhiri sampai di sini.

Sungguh rusa kecil yang malang. Doaku selalu menyertai mereka yang termarjinalkan. Terima kasih Nikolai Gogol.
setjoeil asa