Jumat, 24 November 2017

Sisters by James Joyce (Sebuah Terjemahan yang Awut-awutan)

Saudari

Tiada lagi harapan baginya kali ini; itu adalah serangan stroke ketiganya. Malam demi malam, Aku melewati rumah itu (saat itu liburan) dan mengamati cahaya kotak dari jendela; dan malam demi malam Aku melihat cahaya yang sama, temaram dan tenang. Kalau dia mati, kurasa, Aku akan melihat bayangan lilin tergambar di tirai lantaran Aku tahu kalau dua lilin pasti diletakkan di dekat kepala si mati. Dia seringkali bilang kepadaku: “Aku tak akan lama di dunia ini,” dan kurasai kata-katanya senyap. Sekarang aku tahu itu memang betul. Tiap malam saat aku memandang ke jendela itu Aku berbisik ke diriku kata paralisis. Kata itu selalu saja kedengaran aneh di kuping, seperti kata gnomon dalam karya Euclid dan kata simony dalam Katekismus. Tapi sekarang kata itu kedengaran seperti nama makhluk buruk dan terkutuk.

Selasa, 03 Oktober 2017

Kenal Wong Njero

Sakaratulmaut sungguh suatu misteri. Misteri kerap kali menarik rasa ingin tahu. Ergo, sakaratulmaut tak pernah basi diramu menjadi sebuah cerita. Dalam hal ini Rizal punya kisah. Bagi yang sudah pernah menyimak cerita-cerita Rizal, bisalah memaklumi bumbu-bumbu ironis, irasional maupun paradoksal yang ditabur ke adonan ceritanya...

Selasa, 18 Juli 2017

Ngebut Adalah Ibadah

Ada seorang yang yakin bahwa dengan berzikir dia akan lebih dekat dengan Tuhan. Sampai suatu ketika dia mendapat ilham dari stiker yang menempel di selebor motor: "Ngebut adalah Ibadah. Semakin ngebut, semakin dekat dengan Tuhan."
Sejak saat itu untuk mendekatkan diri dengan Tuhan selain dengan zikir, dia juga selalu mengebut saat bermotor. Barangkali pikirnya kalau dia mendekat ke Tuhan dengan Vario, Tuhan akan mendekatinya dengan CBR.

Senin, 17 Juli 2017

Seorang Kawan

“Hingga kini para filsuf cuma menafsir dunia lewat beragam cara. Pokok sebetulnya malah belum tersentuh, yakni mengubahnya.” Kawan satu ini getol betul main-kutip sana sini.

“Tapi,” lanjutnya, “perubahan datang beriringan dengan tetesan darah.” Ah, ini lagi.

“Pembebasan. Perubahan revolusioner. Dunia ideal. Betapa hasrat ke sana begitu besar. Hingga kesenangan-kesenangan  diri serasa mengganggu saja.” Kadang dia memang bisa lumayan keras.

“Kebanyakan dari apa yang disebut kesenangan cuma usaha untuk menghancurkan kesadaran.” Sering aku heran, apa dia masih waras.

“Nikah itu penemuan kaum borjuis.” Kali ini aku yakin, itu cuma rasionalisasinya, akibat seperempat abad lebih belum pernah pacaran. Lagi pula apa nikah termasuk kesenangan?

Selalu saja ngomong lewat mulut orang lain. “Persetan sama hak cipta atau hak milik. Semuanya milik Sang Pencipta.” Aku ingin bertanya siapa itu Sang Pencipta, tapi urung. Soalnya hal semacam ini tak kunjung rampung diperdebatkan.

Rabu, 05 Juli 2017

Mengungkai Rantai Ilusi


Siapa Saya?

Cuma satu angka lain dalam data
Selembar kertas berlubang dalam kotak suara
Satu coretan tegak tinta hitam di papan putih
Cinta semata wayang yang pedih
dari diri ke sendiri
Robot modern satu fungsi,
wadah keterasingan belaka

Benteng tipis resistensi
Represi Sosial Agung,
yang tak ayal, pasti
tanpa kehendak membendung
Ideologi-ideologi.


*gambar: Katalika Project