Ada
yang datang. Rizal hampir selalu mengartikan irama gesekan sandal dengan batako
yang mendekat sebagai pembeli. Seringkali dia beralih dari bacaannya, hanya
untuk mendapati irama itu lewat, terus memelan seiring langkah menjauh, sampai
akhirnya hilang saat perhatiannya kembali ditelan bacaannya.
Senin, 06 Maret 2017
KELONTONG
Jumat, 28 Oktober 2016
Beo dan Babi
Syahdan, hiduplah seekor beo. Beo yang dikenal sebagai pencerita ulung
ini hidup bersama binatang-binatang lain di hutan, tepi sebuah desa manusia. Si
beo pandai betul cerita tentang apa saja. Mulai humor, roman, horor, olahraga,
hingga sesekali politik.
Suatu hari babi hutan bertanya, “Hai Beo, kenapa kamu
tidak pernah bercerita soal agama atau tuhan. Bukankah di jaman edan ini kita
butuh hal macam itu?”
“O, Babi kawanku yang baik, aneka binatang hidup
berdampingan di hutan ini. Kita tak pernah tahu sepasang kuping siapa saja yang
akan menangkap cerita yang keluar dari mulut kita. Tema agama mudah sekali
menyulut emosi pendengarnya,” jawab si beo
“Tapi, cerita olahraga atau politik juga bisa menyulut
emosi, kan?” potong babi.
“Yah, memang,” kata beo, “Biar aku kutipkan salah satu
sajak penyair kondang jaman dulu, ‘bukan maksudku mau berbagi iman, iman adalah
kesunyian masing-masing‘.”
Beberapa hari kemudian, si babi ditangkap manusia. Dia
jadi suguhan istimewa di acara Lajar Tantjep. Pemutaran film arahan Tim Burton,
Big Fish.
Sampai menjelang ajal, kutipan yang disuarakan beo
masih terngiang-ngiang di benak babi. Barangkali di surga sana, Tuhan bakal
kasih tahu babi kalau beo mengutip
Chairil, dan mengganti kata ‘nasib’ dengan ‘iman’.
Label:
ceritera,
kutipan,
Ngutip pilem,
sekadar backup
Minggu, 23 Oktober 2016
Percakapan dengan Bakul Gorengan
“Tahu, tempe, pisang, gembus.”
Sore merekah. Setengah cerah. Langit disaput cercah-cercah
awan yang mengalir diembus angin.
Empatupuluh lima menit lalu Pak Cowek mendorong gerobak
gorengannya menyusur salah satu sisi jalan Gedongkuning Selatan. Gerobak renta
yang setia. Hampir tiap jelang sore, sejak toko cat Wa-Wi-Wu di pojok
perempatan Ketandan belum berdiri, Pak Cowek dan gerobak ajek menjejak keras aspal
dan tak canggung melawan motor-mobil yang terus berbiak.
Cekatan benar tangan kanan Pak Cowek menjumputi gorengan
pakai capit, terus dilempar ke kresek putih di tangan kirinya. Mulutnya
komat-kamit menghitung. Dirasa pesanan terpenuhi Pak Cowek mengulurkan ke
pelanggan. “Gundul kui sopo?” tanya Pak Cowek sembari menunjuk kaos dia yang
beli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi.
“Wasit, Pak. Wasit Itali kae lho.”
“Pesen kui?” terus Pak Cowek mencecarnya tanya.
“Gawe dewe, Pak.”
“O, ning ‘Matamu’ kono kui?” berkesimpulan akhirnya Pak
Cowek, meski masih bernada tanya.
Tersimpul senyum tipis di bibir dia yang membeli tahu,
tempe, pisang, gembus sepuluh ribu tadi. Otak dia yang membeli tahu, tempe, pisang, gembus sepuluh
ribu tadi mencerna percakapan dengan bakul gorengan tadi lewat aneka sudut
pandang. Sebagian besar kelewat rumit, sulit dijabarkan. Satu pikiran yang
cukup jelas dilihatnya: waktu orang bicara tentang kaos di Jogja, yang muncul
pertama di pikiran mereka kebanyakan merek ‘Lambemu’.
Pikiran kedua, yang satu ini terus saja ada sehabis dia beli
gorengan. Rasa bersalah menggerogoti benak. Kelewat banyak tulisan-tulisan
tentang kesehatan tanpa permisi menyerbunya. Dia hampir percaya seharusnya
gerobak Pak Cowek ditempel stiker “Gorengan Membunuhmu”, ilustrasinya tengkorak
Raisa.
Selain itu dia selalu khawatir dengan ekspansi perkebunan
kelapa sawit. Minyak buat goreng kan dari kelapa sawit. Meski dia selalu
memasang kuota tiap dia beli gorengan. Tak lebih dari sepuluh ribu, yakinnya.
Dia sendiri kurang yakin itu berpengaruh banyak pada hutan hujan tropis yang
dikebiri, terus jadi kebun monokultur. Dan orang Prancis yang menolong orang
utan di borneo itu, sungguh baik. Entah kenapa pikiran itu sekonyong-konyong
muncul. Apapun yang dilakukannya, dia terus saja merasa bersalah.
Kulit gorengan ini bahannya terigu. Asalnya gandum. Alaminya
gandum kurang suka wilayah geografis dengan curah hujan tinggi katanya.
Jangan-jangan tempe sama tahu kedelainya juga bukan hasil tanam petani lokal.
Terus plastik ini bakal cuma jadi bahan reklamasi pulau plastik di Pasifik
sana. Bisa jadi.
Mendingan, endorfin yang biasanya memang mengalir lancar
waktu menggenjot sepeda tak ingkar janji. Jadi ada pengimbangnya itu si rasa
bersalah jalang.
Pada akhirnya, dia terus kepikiran merek kaos berlogo kuping
yang dipikirnya masih merajai dunia perkaosan.
Label:
ceritera,
gorengan,
journal,
sekadar backup,
sekadar posting
Sabtu, 29 November 2014
Ambulans melaju cukup kencang. Dia datang dari selatan. Suara sirene mengatasi dengung semua motor dan beberapa mobil di sekitarnya. Bangjo di sebelah barat menyala hijau, tapi ambulans tak mau ambil pusing. Suara sirene adalah legalisasi perbuatannya, membuat persimpangan jalan lengang. Ucok dan mereka yang dari arah barat mempersilakan ambulans lewat, kecuali satu, gadis yang sudah mengacir ke seberang sana. Ambulans melaju mulus melewati perempatan, ke utara. Untung gadis pengendara sepeda motor itu selamat.
Waktu menghitung detik merah tadi, di pinggir jalan sebelah kanan kami ada dua bocah berjalan. Mereka berjalan bersebelahan. Satu bocah terpaksa turun dari trotoar akibat mobil yang terparkir di sana. Dia turun ke jalan tepat di sebelah markah sepeda kuning. Kijang kapsul merah menguntit sampai dia naik ke trotoar lagi.
Di bangjo Pojok Beteng Kulon, kami berpapasan dengan Si Thole. Itu Si Thole kedua yang kami temui. Sebelumnya, Si Thole pertama mengantri di bangjo perempatan ambulans tadi, di utara sana.
"Kasihan tukang becak, jadi nggak laku, gara-gara Si Thole," kata Ucok.
"5.000 katanya. Sekarang Trans Jogja 4.000, ya orang pada naik motor, lah."
"Bukan, maksudnya wisatawan."
Jemari kanan Ucok menarik tuas rem, berbarengan dengan kaki kanannya menginjak pedal rem. Entah rintihan itu datangnya dari rem depan atau belakang. Roda depan berhenti beberapa senti di depan garis putih.
"Sudah musti ganti kampas rem, nih." Dia cuma tertawa. Bagian rem mana yang lucu. Entahlah.
Dari belakang muncul sepeda motor, berhenti di aspal bercat hijau. Satu lagi muncul, berhenti di zebra cross.
Waktu menghitung detik merah tadi, di pinggir jalan sebelah kanan kami ada dua bocah berjalan. Mereka berjalan bersebelahan. Satu bocah terpaksa turun dari trotoar akibat mobil yang terparkir di sana. Dia turun ke jalan tepat di sebelah markah sepeda kuning. Kijang kapsul merah menguntit sampai dia naik ke trotoar lagi.
Di bangjo Pojok Beteng Kulon, kami berpapasan dengan Si Thole. Itu Si Thole kedua yang kami temui. Sebelumnya, Si Thole pertama mengantri di bangjo perempatan ambulans tadi, di utara sana.
"Kasihan tukang becak, jadi nggak laku, gara-gara Si Thole," kata Ucok.
"5.000 katanya. Sekarang Trans Jogja 4.000, ya orang pada naik motor, lah."
"Bukan, maksudnya wisatawan."
Jemari kanan Ucok menarik tuas rem, berbarengan dengan kaki kanannya menginjak pedal rem. Entah rintihan itu datangnya dari rem depan atau belakang. Roda depan berhenti beberapa senti di depan garis putih.
"Sudah musti ganti kampas rem, nih." Dia cuma tertawa. Bagian rem mana yang lucu. Entahlah.
Dari belakang muncul sepeda motor, berhenti di aspal bercat hijau. Satu lagi muncul, berhenti di zebra cross.
katanya operasi zebra sampai tanggal 9 Desember
29 November 2014, setjoeil asa
Jumat, 28 November 2014
'Sedikit' Kutipan dari Ketika Hidup Bercahaya karya Serdar Ozkan
"Dalam diri manusia itu juga ada berbagai perang yang tak kunjung usai serta kerinduan panjang akan kedamaian." (hal. 7)
"Sebenarnya, Tuhan-lah yang mengerjakan semuanya. Tapi Tuhan menyisakan sebagian tugas pada hamba-hamba-Nya yang mereka pikir mereka kerjakan sendiri."(hal. 8)
"Segala sesuatu di dunia ini akan lenyap. itulah sebabnya hidup tidak bermakna. Jadi mengakhiri hidup pastilah tindakan yang bermakna, pikirku." (Omer, hal. 11)
"Jadi, jika aku bisa meredam suara dalam diriku, aku akan mati dengan tenang." (hal. 12)
Langganan:
Postingan (Atom)
