Kamis, 23 Oktober 2014

Dia masuk, berjalan di antara dua etalase, salah satunya berangka kayu dan sudah berumur. Rambutnya lurus kaku dan di bagian atas pada berdiri, bibirnya tebal, matanya segalak kucing setengah liar. Kaos polo bergaris dominan coklat dan celana kolor biru membalut badannya. Memintasi ruang, dia berhenti di depan etalase kecil berisi rokok di tingkat satu dan duanya. Etalase mungil ini digendong etalase gede, seperti kakak beradik.
     "Djarum papat," pintanya, "White Coffe siji."
     Disodorkannya tiga lembar dua ribuan. Kelihatannya dua ribuan lagi ada di puncak populasinya; laci meja, yang anggap saja sebagai meja kasir, mewakili keadaan ini dengan perbandingan kurang wajar antara dua ribuan dengan duit lain.
     Kurengkuh sebungkus Djarum isi 16 yang sudah dibuka. Kuletakkan di atas etalase di depannya. Dia mengambil empat batang, sementara kuambil rentengan White Coffe di pojok tingkat dua etalase gede terus kusobek satu.
     Dia keluar, hening seperti saat masuk. Ada semacam ragu dalam rautnya tadi waktu bilang rokok empat. Naiknya harga Djarum 250 rupiah, membuat pelanggan setia rokok merek ini berpikir lebih dari 250 kali sebelumnya. Seperti ada hal mistis nan sakral dari angka 250. Kalau biasanya dengan lima ribuan boleh bawa pulang lima batang, kali ini harus puas dengan empat batang. Malang nian nasibmu wahai pelanggan setia.
     Apa Robert dan Michael mendengar pekikan memelas sumber-sumber kehidupannya? Apa mereka masih akan ada di Forbes setelah perubahan harga eceran ini? Setan mana yang peduli!?
     Malamnya ada satu orang mampir. "Kalih mawon," katanya sambil mesam-mesem. Lagi-lagi Djarum. Best seller dia ini agaknya.
     Sebelumnya, menjelang sore si Djarum dicari lagi. "Yang kecil saja," katanya dalam basa Jawa. Waktu kubilang habis, dia bilang, "Ya sudah yang gede."
     "15.800..."

dalam pengaruh Idrus dan Open, atau Idrus saja barangkali
23 Oktober 2014
setjoeil asa

0 komentar:

Posting Komentar